Masjid Raya Mataram

“Sebagai ibu negeri bagi Kerajaan Mataram Islam, tentulah Kota Gede memiliki Masjid Jami’ atau Masjid Raya kalau di negeri kita. Disini mereka menamainya dengan nama Masjid Gede Mataram.” jelas kawan kami St. Malenggang.

Masjid ini dikelilingi oleh tembok bata yang memiliki sejarahnya tersendiri serta di dalam kawasan masjid ini terdapat pemakaman para raja. Masjid ini sesungguhnya berukuran kecil untuk sebuah masjid raya kerajaan. Konon kabarnya mimbarnya merupakan hadiah dari Sulthan Palembang kepada Sulthan Agung raja Kerajaan Mataram ketika itu. Namun kini mimbar tersebut sudah tak dipakai lagi.

Terdapat pintu gerbang dengan gaya khas Hindu-Budha sebelum memasuki masjid. Konon kabarnya masjid ini didirikan di tengah-tengah penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu dan Budha. Pintu gerbang atau gapura mereka menyebutnya merupakan perlambang dari kerukunan umat beragama ketika itu. Dibangun pada tahun 1640 oleh Raja Mataram nan bernama Sulthan Agung dan dilanjutkan pembangunannya oleh raja Kasunan Surakarta yang bernama Pakubuwono X.

Namun ada juga nan menyebutkan bahwa masjid ini awalnya dari sebuah Langgar kepunyaan Ki Gede Pemanahan yang merupakan ayah dari Panembahan Senopati yang merupakan pendiri Kerajaan Mataram Islam. Pada tahun 1575 Panembahan Senopati merubah langgar tersebut menjadi sebuah masjid.

Masjid ini hanya satu lantai dengan tambahan tempat bagi jama’ah apabila ramai pada teras yang cukup lapang. di sekeliling teras terdapat kolam ikan kecil. Pada gerbang utama memasuki masjid terdapat tulisan 1856 – 1926, tahun 1856 merupakan tahun dilakukannya penambah teras dan puwudhon (?) serta dilakukannya penggantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan tahun 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid serta tugu oleh Kasunan Surakarta ketika diperintahi oleh Pakubuwono X.

Teras dilapisi ubin dan terdiri atas tiang-tiang kayu menopang atap. Demikian juga pada bagian dalam bangunan utama masjid juga dilapisi ubin yang bersih mengkilap. Bedanya pada bagian dalam telah dikembangkan tikar shalat bewarna merah. Tepat dihadapan terdapat mimbar dan mihrab, mimbar terletak pada sebelah kanan mihrab dan diantara mimbar tua dengan mihrab terdapat mimbar baru. Apakah dibedakan kegunaan dari kedua mimbar ini?

Tugu yang dibangun oleh Pakubuwono X tahun 1926

“Tatkala berjalan keliling masjid ada satu hal yang memancing rasa ingin tahu kami..” kisah St. Malenggang kepada kami.

Yang dimaksudkan oleh kawan kami itu ialah tulisan “Tempat Wudlu Puteri” yang terdapat pada masjid. Dalam hati ia tersenyum saja membaca tulisan itu. “Lebih halus kata-katanya..” ucap St. Malenggang “Jadi semua perempuan dianggap masih muda disana..” lanjutnya sambil tersenyum.

________________________

Baca juga:

https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Gedhe_Mataram

Masjid Kotagede Yogyakarta

Masjid Besar Mataram di Kotagede Jogja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s