Jalan Malioboro

Dua orang mengamen dengan cara memakai seragam tentara Kesultanan

Kalau mendengar pendapat dari orang-orang dapat dikatakan kalau Bandar Jogjakarta merupakan bandar utama tujuan pelancongan di Pulau Jawa. Bandar ini terkenal sebagai ibu negeri dari Kesultanan Jogjakarta, bernama sama dengan ibu negerinya. Bagi orang Muhammadiyah, bandar ini dikenal sebagai tempat kelahiran dari Persyarikatan mereka, dimana gerakan pembaruan agama Islam di mulai oleh Kiyai Haji Ahmad Dahlan dari kampungnya nan bernama Kauman, tak jauh dari Masjid Jami’ Kesultanan.

Ke bandar inilah kawan kami St. Malenggang mengakhir perjalanannya, petang hari ia sampai di bandar itu dan pada malamnya langsung ia berpesiar ke salah satu pusat pelancongan di bandar itu. Jalan Malioboro namanya “Tatkala kami tanyakan kepada kawan kami nan berasal dari bandar itu, ia kata belum ada pemecahan perihal asal muasal dari nama jalan itu. Kalau kami sendiri akan terkenang merek rokok asal Amerika apabila disebut nama jalan itu..” kisah St. Malenggang kepada kami.

Kemana mata memandang maka akan tersirobok dengan pelancong putih. Ramai mereka datang ke Kerajaan Jogjakarta

Setelah kami tanya ke Pakcik Google maka didapatlah keterangan, bahwa setidaknya ada dua kemungkinan dari asal muasal nama jalan itu. Pertama ialah berasal dari Bahasa Sanksekerta yang berasal dari India, bahasa resmi dari agama Hindu-Budha pada masa dahulu ne negeri ini. Makna kata Malioboro dalam bahasa tersebut ialah Karangan Bunga, hal ini karena apabila pihak kesultanan mengadakan kenduri maka jalan tersebut akan dihiasi dengan karangan bunga. Adapun kemungkinan kedua ialah berasal dari nama Marlborough yang merupakan nama dari seorang berkebangsaan Inggris yang pernah tinggal disana pada masa 1811-1816. Menurut sejarah, jalan itu mulai dibuka bertepatan dengan dibangunnya Istana Kesultanan.

“Sangatlah ramai orang pada Jum’at malam itu engku, disepanjang Jalan Malioboro itu ramai orang berlalu-lalang. Setiap sudut tampaknya tak ada nan kosong, dipenuhi oleh para pelancong dan orang-orang nan mencari rupiah. Berbagai macam ragam cara mereka mencari rupiah, nan menarik minat kami ialah beberapa dari mereka memakai pakaian badut dan pakaian pahlawan super, ada juga dua orang memakai seragam prajurit kesultanan, seorang nan memakai pakaian pejuang kemerdekaan, seorang gadis nan jelita memakai pakaian gadis indian, dua orang nan memakai pakaian hantu (Valak[1] dan Kuntilanak). Para pedagang kaki lima mulai dari makanan dan pakaian, para tukang becak dan bendi yang merayu-rayu..” kisah kawan kami St. Malenggang.

Dua orang pelancong bule sedang berpesiar keliling bandar dengan becak

Selain itu, disekitar jalan ini juga banyak dipenuhi oleh bangunan-bangunan lama peninggalan masa kolonial. Stasiun Tugu yang terletak di utara merupakan stasiun peninggalan Belanda. Sebagian besar bangunan terletak di ujung selatan jalan yakni Benteng Verdeburg (1790) yang sekarang menjadi museum, terletak berhadapan dengan bangunan kediaman Gubernur Belanda yang sekarang menjadi Istana Negara. Ada bangunan Kantor Pos yang terletak pada persimpangan di ujung jalan bersama-sama dengan Bangunan Java Bank, kedua bangunan tersebut masih dipergunakan sebagai Kantor Pos (Pos Indonesia) dan bank (Bank BNI).

“Malam itu kami berjalan bertiga dengan mamak yang tinggal di bandar ini serta seorang kawan yang berkerja di Bandar Arang. Di bandar ini dia menginap di Benteng Verdeburg, ya engku, rupanya dapat menginap benteng itu dengan harga sewa yang cukup murah..” lanjut kawan kami.

Si Gadis Indian [Indian Girl]

“Kawan kami ini berucap: Jogja ini kata orang awak serupa dengan bandar engku pada rentang waktu tahun 1970an hingga 1990an. Ramai oleh pelacong berkulit putih. Benar agaknya engku, dahulu semasa kanak-kanak acap tersua oleh kami pelancong kulit putih berjalan-jalan di bandar awak itu. Namun kini, sedikit saja tersua. Berlainan dengan bandar nan satu ini dimana kemanapun mata memandang maka akan tertumpuk pandangan kita dengan orang kulit putih yang sedang berlalu-lalang. Apakah itu di jalan, pasar, kedai-kedai, makan di kaki lima, dia atas becak, bendi, dan lain sebagainya..” tambah kawan kami ini.

Ya, bandar itu memang ramai, riuh-rendah oleh para pelancong dan pedagang, jalanan di Jalan Malioboro tampaknya tampernah lengang oleh pengendara. Orang yang hilir-mudik entah kemana tujuan mereka, para pelancong dan pedagang yang berdesak-desakan di pelataran kedai, serta orang-orang nan berebut mengambil gambar di plang nama Jalan Malioboro. Para pelancong kulit putih yang tiap sebentar tampak berlalu lalang di jalan, pelataran kedai, dan dari dalam kedai.

Ada jua yang mengamen dengan cara memakai seragam pahlawan super [there are Super hero]

“Ada nan menjadi pertanyaan kami engku, dimanakah Kampung Cina di bandar ini? Kata kawan kami nan orang sini, Orang Cina tinggalnya menyebar, tidak pada satu tempat. Namun tatkala berjalan pada malam itu kami dapati sebuah gerbang gaya Cina di Jalan Malioboro, mungkin di dalam sanalah Kampung Cina itu..” ungkap kawan kami St. Nagari Basa.

Jalan Malioboro memang memiliki daya tarik aneh, adakah engku, rangkayo, serta encik tahu kenapa demikian? Pada hal masih ada tempat-tempat lain seperti Tanah Lapang (Alun-alun) Utara yang terletak tak jauh dari sana. Namun anehnya Tanah Lapang itu juga agak lengang, nan menjadi pusat keramaian ialah Tanah Lapang Selatan. Hal inipun menjadi tanda tanya pula bagi kami. Adakah engku, rangkayo, serta encik sekalian juga tahu perihal perkara ini? Sudilah beritahu kami..

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Sosok hantu yang populer dalam filem Conjuring, berpakaian serupa biarawati dengan bedak tebal pada muka serta dengan raut wajah yang menakutkan.

Baca juga: Pamungkaz.net

Advertisements

One thought on “Jalan Malioboro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s