Lain Padang Lain Belalang

Pada suatu ketika kami pernah bercakap-cakap dengan kenalan dari luar pulau. Ia mengisahkan perjalanannya di Tanah Minangkabau, negeri kelahiran kami. Masa itu telah bertahun berlalu namun masih dikenangnya, berkesan dan tiada dilupakan.

Percakapan dimulai tatkala salah seorang dari kawan (kami bertiga pada malam itu) bertanya “Di Padang adakah Nasi Padang engku?” Tanyanya dengan logat Jakarta.

“Di Padang, Nasi Padang semua nan dijual orang engku..” jawab kami.

“Maksudnya..?” Tanyanya keheranan.

“Iya, dimana-mana orang menjual Nasi Padang. Ada yang direstoran, rumah makan biasa, sampai Ampera..” terang kami.

Si kawan semakin kebingungan, yang ada di bayangannya Nasi Padang itu merupakan nasi yang dijual oleh orang-orang di rumah makan ternama seperti yang acap tersua pada beberapa kota di republik ini.

Kemudian kawan kami nan pernah ke Padang menjelaskan “Di Padang, tak ada rumah makan nan bernama Rumah Makan Padang. Sebab disana semua rumah makan ialah rumah Makan Padang. Yang ada adalah rumah makan dengan nama Mak Etek, Bundo, Ni Yuih, dan lain sebagainya..”

Akhirnya jawabannya itu membuka kembali kenangan lama dirinya semasa berada di Bandar Padang. Dia berkisah tatkala dihari pertama ia bertugas dalam beberapa hari masa tugasnya dari kantor utama yang terletak di Pulau Jawa ia mendapatkan pengalaman nan berkesan. Ketika itu telah tangah hari, orang-orang di kantor cabang menawari untuk dibelikan nasi bungkus. Diapun mengiyakan.

Alangkah terkejutnya ia tatkala melihat bungkus nasi yang dibawakan kawan sekantornya “Besar dan tinggi, tatkala dibuka isinya serupa gunung..” kenangnya.

Kawan nan seorang memandang ke arah kami “Benarkah demikian engku?” Tanyanya memastikan.

Kamipun tersenyum dan membenarkan “Nasi di sana memang berbeda, lebih banyak dari disini..”

“Habis itu..?” Tanyanya lagi penasaran.

“Habis engku..” jawab kami “Makanya tatkala hari pertama disini kami terkicuh. Tatkala makan malam kami ambil nasi dengan jumlah banyak. Tercengang orang-orang melihatnya..” kisah kami.

Kedua kawan baru kami ini tertawa terbahak-bahak.

“Benar saja, setengahpun tak habis. Menyerah kami memakannya..” lanjut kami.

Mereka berdua masih berusaha menahan gelak “Kenapa engku, berlainankah rasanya?” Tanyanya.

Dijawab oleh kawan nan pernah ke Padang “Memang berlainan berasnya, dan lauk disana banyak santannya. Makanya Si Engku kita ini tiada berselera makan. Sebab lauk disini tiada bersantan..”

“Semasa di Padang dahulu, ada kawan kantor kami seorang perempuan. Satu bungkus habis oleh dia nasi itu, namun tubuhnya tiada gemuk-gemuk. Ketika kami telah kepayahan menghabiskan nasi nan sebungkus itu, padahal orang-orang telah banyak nan menuntaskan makan tengah hari mereka..” kisahnya sambil menahan gelak.

Si kawan nan berlogat Jakarta ini hanya termangu mencoba membayangkan serupa apa sebenarnya keadaan di Padang itu.

View on Path

Advertisements

One thought on “Lain Padang Lain Belalang

  1. Bagi saya nasi padang adalah makanan termewah. Banyak dan nikmat tiada tara…
    Tentang santan, mungkin karenanya banyak orang Sumatera yang hipertensi (termasuk saya). Banyak makanannya yang mengandung santan haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s