Bermain-main ke Candi Budha

Sebuah candi atau kuil nan sangat besar peninggalan dari masa Hindu-Budha di republik ini terdapat di Pulau Jawa. Kisah pembangunan candi ini sempat disinetronkan dahulu yang dibintangi oleh Tedy Syah, Wulan Guritno, Agus Kuncoro, dan beberapa orang artis lainnya. Sintron itu mengisahkan perihal sosok Gunadarma yang merupakan perancang dari candi tersebut juga dikisahkan pula perebutan kekuasaan antara Wangsa  Sailendra dan Sanjaya.

Ke candi besar inilah St. Malenggang pergi bersama kawan-kawannya pada hari keempat mereka pelatihan. Disuruh mengambil gambar ini dan itu “Tampak di engku saja nan senang, panas berdengkang, sakit kepala awak sampai malam..” kisahnya.

Dari gambar-gambar nan diambilnya tampak para pelancong ramai berpesiar ke candi itu. Entah mana nan banyak pelancong dalam negeri dengan pelancong luar negeri. Orang kulit putih, orang Cina, Jepang atau Korea serta India, tiada peduli mereka dengan panas nan berdengkang itu, sudah tahan mereka mungkin.

“Ada pula senangnya, setidaknya awak dapat melihat paha nan putih-putih itu engku..” ujarnya jahil “Duhai engku, semok dan bohay mereka itu..” lanjutnya lagi.

Benar saja, tatkala kami periksa gambar-gambar nan diambil oleh kawan kami itu kami dapati beberapa gambar yang didalamnya terdapat para turis perempuan asing dan dalam negeri “Namun orang kita tak kalah cantik pula engku, tengoklah foto itu..” seru kami sambil menunjuk satu gambar perempuan berkulit kuning langsat, berambut panjang yang sedang memainkan hapenya.

“Setuju awak, lebih mempesona orang Melayu lagi..” jawabnya.

“Ada satu nan membuat kami tergelak engku..” kisahnya “Kami dapati dua orang kawan kami sedang mengabil gambar sebuah patung Budha. Semula seorang perempuan putih terlihat kesal karena ia hendak bergambar disana. Namun ujung-ujungnya suami atau kekasihnya ikut pula bergabung bersama dua orang kawan kami mengambil gambar patung itu. Selepas itu, entah dari mana saja datang orang-orang, mereka ikut pula mengambil gambar. Apalagi tatkala mereka lihat ada seekor kumbang hinggap di kepala patung itu..”

Kawan kami ini juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa orang pihak keamanan yang selalu berada pada setiap lantai. Ada juga yang berjalan berkeliling “Entah berapa jumlah mereka itu, sebab mereka memakai pakaian nan sama, tiada pandai awak membedakannya..” ujar St. Nagari jenaka.

Iapun mengisahkan perihal percakapannya dengan salah seorang petugas keamanan nan tidak seberapa jauh bertaut umurnya dengan kawan kami ini. Rupanya si engku memiliki seorang saudara lelaki yang bernama Tri dan bekerja di bandar kami pada salah satu dinas. “Mas”nya ini telah menikah dengan orang Minang dan telah beranak pula mereka. Anak nan sulung sedang kuliah di bandar kedua terbesar di republik ini.

Si engku berkisah bahwa bundanya keberatan dengan keinginan “mas”nya itu untuk kawin dengan orang Minang sebab sudah pasti anaknya akan tinggal dan menetap disana. Si anak berjanji bahwa ia akan pulang selepas pensiun, namu kini telah bertukar pula kajinya. Tiada hendak ia pulang selepas pensiun.

Kawan kami inipun menimpali bahwa bagi orang Minangkabau akan sangat tidak mungkin untuk melepas anak perempuan pergi dari rumah apalagi untuk selama-lamanya. Sebab di Minangkabau perempuanlah nan bertuah, dari merekalah garis keturunan keluarga akan dituruskan. Kecuali bagi lelaki, tiada mengapa, namun itu hanya pada beberapa saja. Sebab pada kebanyakan, tiada hendak pula mereka melepaskan anak lelaki mereka itu. Tiada suka mereka apabila sampai terjadi Kijang Lepas ke Rimba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s