Lain perkara bagi Animal

Seorang kawan kami mengajukan pertanyaan nan sangat memperolok pada suatu ketika kami sedang berkumpul duduk-duduk di lepau dekat kantor kami. Hal ini bermula tatkala pokok percakapan mulai beralih kepada bahasa orang lain daerah yang sangat beragam itu. Walau sama-sama Melayu namun orang-orang Melayu di Pulau Sumatera ini tidaklah sama ragam bahasanya. Berlainan pada setiap puak, menyerupai memanglah ada namun tiadalah cukup untuk membantu dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya terpaksa jualah dipakai Bahasa Melayu Pasar itu.

“Apalagi jika sudah menyeberangi pulau maka akan sangat tidak mengertilah kita dengan bahasa mereka..” gumam St. Pangulu “Memang beruntunglah kita ada Bahasa Melayu nan disebut orang Bahasa Indonesia di republik ini. Kalau tidak, tentulah akan memakai Bahasa Inggris kita ini dengan orang satu negara. Malulah awak dibuatnya..”

Ucapan St Pangulu menerbitkan senyuman pada setiap anggota lepau Engku Kepala Kampung. Engku Kepala sedang tidak ada, isterinyalah nan sebenarnya Tuan dari lepau ini, terkadang Engku Kepala terpaksa membuat sendiri kopinya apabila bininya itu sedang sibuk karena banyak orang datang nan berbelanja dan nan hendak duduk-duduk sambil minum kopi atau teh.

“Hahh. bertanya awak agak ciat[1] engku-engku..” seru Marah Labiah kepada kami semua. Tak ada nan menjawab, tak ada juga nan menggeleng ataupun mengangguk. Sekalin nan hadir terlihat acuh, ada nan menghisap rokoknya, ada nan meminum tehnya, ada nan mengambil pisang goreng, serta ada jua nan sekadar memandang Marah Labih dengan rasa ingin tahu.

“Begini engku-engku sekalian. Lain daerah lain pula bahasanya. Tak usah jauh-jauh di Alam Minangkabau saja sudah beragam logat, dialek, serta nada bicara apabila bercakap Bahasa Minang..” mulai ia bercakap.

St. Batuah menimpali “Ah, perkara nan jelas itu engku sebut pula..”

“Eee. dengarlah dahulu..” jawab Marah Labiah cepat “Nan menjadi pertanyaan awak ini engku, adakah kucing, anjing, kerbau, dan binatang lainnya, Apabila berlainan daerah juga memiliki suara atau bahasa nan berlainan pula. Semisal kalau di negeri kita ini; Kucing apabila sudah bercakap maka ia akan “meoong..”, anjing “guk..guk,,”, itik “kwek..kwek..kwek..” dan binatang lainnya..????”

Semua orang terdiam, ada nan menahan tawa, ada nan sekadar tersenyum saja. Ada nan menggeleng-geleng ada pula nan cepat-cepat menghabiskan minumannya. Ada-ada saja kawan kami Marah Labiah ini, seorang nan sangat khas dengan cara berfikir lain dari kebanyakan orang.

Tiada nan hendak menjawab sebab tak tahu hendak menjawab serupa apa. Kepada orang nan teramat khas serupa Marah Labiah mesti dilakukan pendekatan dan jawapan nan lain dari pada nan lain..

__________________

Catatan Kaki:

[1] Plesetan dari kata “Ciek” yang berarti “Satu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s