Ditawan Hati

E

Duduk seorang diri disana, duhai encik, berkenankah encik apabila kami mengisi kursi kosong di sebelah encik itu?

Kalau tidak,. mengisi kekosongan sementara hati encik itupun tak apalah.

Sama-sama sedang kosong awak ini. Encik seorang diri demikian pula dengan kami, seorang diri pula.

Duhai encik, berhentilah bermain hape. Cobalah tegakkan kepala encik itu, pandanglah lurus ke hadapan.

Eits.. hampir saja, terlalu ke atas encik memandang itu. Apalah nan encik pandangi barusan, tak seorangpun disana. Agak kebawah sedikit memandangnya, tersualah oleh mata encik nan bak rembulan itu seorang lelaki nan buruk sangat rupanya. Itulah kami encik..

Hendak berangkat kemanakah encik? Satu tumpangankah awak ini?

Ah, telah miring otak kami rupanya. Bercakap kepada hape dan hape tak pandai pula menjaga rahasia. Suka menyebarkan ungkapan hati kami kepada khalayak.

“Kalau engkau berani, jangan bercakap kepada awak! Bercakaplah kepada si encik nan telah menawan hati engkau itu..” kata hape ini kesal.

Kami diam saja, manalah berani awak ini.

 – at Gate F2 Garuda Indonesia

View on Path

Advertisements

6 thoughts on “Ditawan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s