Pesiar Ke Tanah Lapang

Batang Beringin di Tanah Lapang Bandar

Kawan kami St.Malenggang melanjutkan petualangannya di Pulau Jawa, pada malam ketiga dia bermalam, kawan kami ini pergi berpesiar di malam hari bersama kawannya yang memberinya tumpangan dari Bandar Sulthan. Semula St. Malenggang hanya berniat hendak mengawani kawannya ini mencari kebutuhan untuk praktek lapangan keesokan hari. Namun agaknya nasibnya memang baik karena malam itu, ia berada di dekat Tanah Lapang Bandar. Maka pergilah ia kesana. Hampir semua bandar di Pulau ini memiliki Tanah Lapang, mereka menyebutnya Alun-alun.

Hari telah menunjukkan lewat pukul delapan malam dan bandar yang dikenal dengan gelar Bandar Sejuta Bunga ini telah berangsur lengang. Kata orang bandar ini memang akan lengang apabila telah melampaui pukul delapan malam. Labuh raya di bandar ini memang agak lengang, mungkin karena memikiki dua jalur jadi tiada terasa ramainya. Berlainan dengan jalan di bandar kami dimana hanya by pass yang memiliki jalan dua jalur, itupun tak pula semua.

Sang Pangeran Jawa

Selepas mendapatkan kebutuhan untuk esok, St. Malenggang meminta dibawa berjalan-jakan ke Tanah Lapang yang tepat berada di hadapan kedai yang mereka datangi. Di hadapan Tanah Lapang tersebut terdapat tulisan besar nama bandar itu. Di belakangnya terdapat patung Pangeran Jawa sedang menunggang kuda. Mengherankan karena Sang Pangeran berasal dari Bandar Sulthan. Tatkala ditanya oleh St. Malenggang pada kawannya didapat jawaban bahwa Sang Pangeran ditangkap di bandar ini oleh Belanda sebelum menjalani hukuman buang.

Pada lapangan itu terdapat pula Batang Beringin nan sangat besar. Telah disoleki dengan dicor sekelilingnya. Tak jauh dari Tanah Lapang terdapat bangunan menara air yang megah sekali, menara ini dibangun dimasa Belanda. Apabila dibandingkan dengan menara air yang terdapat di bandar kami yang juga dibuat oleh Belanda, kalah jauh nan di bandar kami.

Menara Air Buatan Belanda

Malam itu Tanah Lapang hanya didatangi oleh pasangan remaja nan memadu kasih ” Serupa di benteng saja..” ujar St. Malenggang berkisah kepada kami. Ada yang berkelompok namun lebuh banyak yang berpasangan. Ada juga kumpulan anak bujang yang entah sedang apa. Serta sekelompok anak bujang nan gadis dimana jumlah anak bujang lebih banyak dari nan gadis. Namun para gadis itu tampaknya telah berkawan dekat dengan mereka.

“Sayang awak datang pada malam hari jadi tiada begitu jelas gambaran keadaan di kawasan Tanah Lapang itu engku..” ujarnya kepada kami. Namun dari penjelasan St. Nagari Basa dapat kami terangkan disini bahwa bandar nan dikunjunginya itu memiliki keadaan yang jauh lebih terawat, rapi, dan teratur dari bandar kami. Terdapat kawasan perniagaan dimana banyak terdapat kedai-kedai, dan di hadapan kedai itu terdapat jalur untuk pejalan kaki (pedestrian) yang sangat lapang. Kalau di bandar kami telah penuh jalur itu oleh para pedagang kaki lima. Sungguh salut kami dengan bandar ini.

Kedai & Jalur pejalan kaki nan lapang

“Pada bandar ini juga terdapat sebuah Vihara yang cukup besar, kata kawan kami itu dahulu bangunannya ialah bangunan lama namun terjadi kebakaran pada sekitar tahun 2010 maka lalu dibangunlah bangunan baru di bekas terbakar itu..” terang St. Malenggang kepada kami. Penasaran kami dibuatnya dengan Kampung Cina yang ada disana, serupa apakah bentuknya?

Akhirnya perjalanan terpaksa mereka sudahi karena mesti balik cepat ke tempat penginapan “Kami telah mendapat Peringatan dari panitia bahwa esok kami mesti berangkat dari hotel pada pukul tujuh pagi. Barang siapa nan terlambat maka ia akan ditinggal..” kisah kawan kami ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s