Wisata Kuliner

Sama nan dilakoninya setiap hari, di tempat pelatihanpun ia menjalani hal nan serupa, pergi pagi dari penginapan dan baru kembali pada petang harinya. Bedanya ialah di bandar ini ia dijemput oleh pihak penyelenggara pelatihan dan kemudian kembali di antar pada petang harinya. Salah seorang kawannya berucap “Biasanya kalau acaranya diadakan di penginapan, awak ini berganti-ganti dengan kawan engku. Paginya awak nan masuk, maka pada tengah hari tatkala rehat untuk shalat dan makan siang giliran kawan nan masuk. Namun kehadiran tetap kami isi jua, selepas itu minta izin keluar dan balik ke dalam bilik. Selepas itu tiada kembali lagi..” ujarnya sambil tersenyum dengan Bahasa Melayu logat Jawa yang khas.

“Tergelak awak engku..” kisah St. Malenggang kawan kami ini “Serupa benar dengan nan pernah awak kerjakan dahulu, tak ingatkah engku?” tanyanya kepada kami. Benar, dahulu, kurang lebih setahun nan silam kami pernah menghadiri acara di Ibu Kota Republik. Serupa dengan nan dikisahkan di ataslah perangai kami berdua ketika itu.

Pada malam kedua menginap di tempat penginapan – nan kalau dipandangi dari besar bangunan, luasnya, dan kemewahan rancangan keadaan dalam bangunan (Design Interior) maka setidaknya penginapan ini berada antara Binatang 3 – 4 – kawan kami dan sekalian tamu penginapan dimanjakan oleh penginapan dengan menyajikan makan malam nan lain dari biasanya. Makan malam diadakan di luar ruangan – namun tidak di tempat terbuka – dengan menyajikan aneka macam makanan khas dari negeri ini. Tatkala kami tanyai makanan apa saja, kawan kami ini agak kepayahan menyebutkannya.

Kalau tak salah dia hanya menyebutkan Nasi Kucing yang merupakan makanan kegemaran para pelajar perguruan tinggi di Bandar Sulthan, Wedan yang rupanya nama lain untuk Bandrex atau Skotang, dan Mie Godog Monggoo. “Ada juga makanan serupa pical namun tiada memakai ketupat ataupun bubur, kemudian ada pula sejenis sup nan membuat kami kesal. Sebab togenya mentah, tidak mereka tumis atau rebus dahulu. Jadilah awak ini serupa kambing atau jawi[1] memakan tumbuhan mentah..” terkekeh kami mendengar kisah kawan kami ini.

” Ada pula yang namanya Jajanan Pasar, kami tiada begitu berminat, ada bubur hitam, pisang goreng diberi mises, dan entah apa  lagi. Kami tiada perhatikan sebab tiada berminat..” lanjutnya.

Ditambah pula mereka ditemani dan dihibur oleh sekelompok biduan yang menyanyikan lagu-lagu khas Jawa. Satu nan pasti, kawan kami ini tiada faham apa nan sedang didendangkan oleh para biduan itu. Sedang merajukkah? sedang memujikah? sedang menyindirkah? sedang mengumpatkah? atau “sedang” nan lainnya.

“Berarti beruntung engku pada malam itu, sempat pula berwisata kuliner, demikian orang sekarang menyebutnya..” sergah kami kepada kawan kami itu.

Tersenyum ia “Alhamdulillah engku, sebab awak ini dikurung tiada dapat kemana dan itulah nan dapat..” jawabnya “Segala makanan kami coba engku, serupa orang kelaparan saja awak ini. Bersama kami ikut pula seorang kawan yang merupakan Orang Banten namun bekerja di kantor Kementerian di Jayakarta. Berdua, sama-sama kepayahan kami ini dibuatnya, sangiah[2] perut kami..”

Para Biduan

“Ya ampun, tak teringatkah engku dengan wasiat nabi kita; makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Makan serupa itu serupa dengan makan syetan engku..” ucap kami tiada berfikir.

“Hah, engku kata awak ini syetan..!!” ucapnya pura-pura marah.

“Hahaha…..” kami gelak bersama..

Gambar lebih lanjut silahkan klik DISINI

_______________________

Catatan Kaki

[1] Sapi

[2] Kekenyangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s