Berjalan di Bandar Sulthan

“Geram sangat awak ini engku, disuruh memakai baju putih pula awak di hari pertama..” ujar kawan kami tatkala mengisahkan perjalanannya ke salah satu negeri di Pulau Jawa. Ia mendapat tugas untuk mengikut semacam pelatihan perihal Perihal Siasat Mengambil Gambar. Senang hatinya karena telah lama ia hendak mendalami ilmu perihal pergambaran ini. Namun geram ia tatkala disuruh memakai baju putih celana hitam, pakaian kebesaran Tuan Besar di republik ini.

Rupanya dari percakapannya dengan kawan barunya, diketahuinya kalau memang berlainan aturan pemakaian seragamnya bagi para pegawai pada beberapa negeri dan bandar di pulau ini. Dan sepertinya di Balai tempat diadakannya pelatihan ini memiliki aturan kalau Senin ialah masanya memakai pakaian putih hitam itu. Serupa anak baru masuk kuliah, pakaian serupa juga dipakai oleh anak magang di kantornya, dan dipakai pula apabila hendak ujian semasa berkuliah dahulu.

Maka jadilah bersama kawan barunya  berkendara naik oto[1] Corolla DX hijau tahun 1980 bersama kawan barunya yang merupakan orang asli Bandar Sulthan, Ibu Negeri kedua republik ini. Anehnya, mereka baru bersua tadi pagi tatkala hendak berangkat ke bandar tempat beradanya sebuah candi besar yang dibuat sebagai tempat beribadah orang Budha. Berkenalapun baru kemarin petang tatkala ia baru sampai di Bandar Sulthan itu. Ketika itu ia membaca riwayat obrolan pada kelompok salah satu penyedia pesan langsung, kawan kami St. Malenggang langsung mendapat kabar kalau salah seorang dari peserta pelatihan sedang mencari kawan yang hendak berangkat bersama-sama dari Bandar Sulthan menuju bandar tempat pelatihan itu diadakan.

Setelah saling bertukar kabar, akhirnya mereka sepakat untuk bersua keesokan harinya. Dengan diantar Sang Mamak – karena ia semalam menumpang di rumah anak  mamaknya di Bandar Sulthan – mereka melaju ke  arah Tanah Lapang Utara, seperti yang telah ia sepakati dengan kawan nan belum pernah ia temui semalam. Jalanan bandar itu masih lengang namun pada beberapa titik terlihat agak ramai kendaraan nan berlalu lalang. Keadaan jalan di Bandar Sulthan itu sangat berlainan dengan bandar di negeri kami. Lebih lapang, kebanyakan terdiri dari dua jalur, bahkan ada jalur khusus untuk pengendara onda[2].

Pada suatu tempat nan ia lupa namanya, kawan kami tersirobok dengan pasar tradisional yang serupa dengan pasar  yang di Pasa Banto di kala pagi, namu bedanya ialah pasar tersebut terlihat lebih bersih. Para pedagang masih menggunakan trotoar, bahkan trotoar di hadapan Tempat Mengisi Bahan Bakar Kendaraan, menjalar di sepanjang jalan di hadapan kedai-kedai nan bagus-bagus itu. Hebatnya tiada terjadi kemacetan di jalan itu. Kendaraan hanya melambat lajunya namun tiada tersendat, memang hebat orang di bandar ini.

Pada beberapa tempat ia dapati Jalan Layang yang digunakan untuk mencegah kemacetan. Ingat engku Jalan Layang bukan Jalan Tol, sebab Jalan Layang ini tiada mesti membayar untuk melaluinya berlainan dengan Jalan Tol nan mesti dikenai cukai oleh para Kapitalis. Nan membuat jalan itu Sungguh salut kami kepada raja mereka, tiada hendak ia memberatkan kehidupan rakyat nan telah bertambah melarat itu.

St. Malenggang telah berjanji untuk bersua dengan kawan nan tak diketahui seperti apa rupanya itu di Tanah Lapang Utara, tepatnya di hadapan Museum Tempat Budaya nan belum buka. Jalanan di Tanah Lapang Utara inipun masih lengang, sebagian besar kedai masih tutup, hanya beberapa orang terlihat di jalan dan baru satu atau dua kendaraan berlalu-lalang di jalan.

Akhirnya mereka bersua, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandar Candi tersebut. Dalam perjalanan ia mendapati keadaan yang sangat berlainan dengan keadaan di negeri kami. Jalan nan menghubungkan antar bandar sungguh lapang dan bahkan ada yang dua jalur. Berlainan dengan bandar di negeri kami dimana jalan dua jalur sangat payah tersua. Tiada tersua kemacetan, nan ada ialah jalanan nan ramai oleh kendaraan, semakin mendekati pukul tujuh maka akan semakin ramai kendaraan berlalu lalang. Sebab orang masuk kantor di negeri ini ialah pukul tujuh seperempat.

Demikianlah kisah kawan kami St. Malenggang, tercengang saja dia mendapati keadaan nan serupa itu. Maklumlah, orang dusun, orang udik. Sama serupa kami ini..

_________________

Catatan Kaki:

[1] Mobil

[2] Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s