Di ruang tunggu

Bandar Udara ialah suatu tempat nan dipenuhi oleh orang dari berbagai bangsa dan latar belakang. Berbagai macam kebiasaan, gaya dan pandangan hidup. Bercampur baur dalam bangunan nan teramat luas itu, saling berderet, berebut tempat duduk, atau sekadar mengedarkan pandangan. Masing-masing sibuk dengan dirinya ataupun dengan kawan seperjalanannya. Tiada saling mengenal walaupun dengan orang nan duduk di sebelah. Masih suka mementingkan diri sendiri dibandingkan menenggang rasa pada orang lain. Contohnya, disaat semua tempat duduk penuh, dengan tiada bersalah tas ataupun barang bawaan diletakkan di atas bangku di sebelah nan punya. Bandara ialah tempat nan penuh dengan aturan keamanan nan semakin ketat, saran kami, engku jangan pernah memakai celana yang lapang pinggangnya, payahlah engku menawar, tiada akan diterima oleh petugas keamanan “Sudah peraturan dari Tuan Menteri..” demikianlah jawapannya.

Di tempat ini pulalah mata kami acap dibasuh dengan pemandangan baru nan tiada pernah kami dapatkan. Kaum Hawa ialah kaum nan sangat dipuja dan dikagumi oleh Kaum Adam, kecuali oleh Kaum Nabi Luth. Dan disini, mereka memberikan penampilan mereka nan terbaik. Kalau sekadar memakai bedak dan gincu nan tebal saja tiada mengapa, ditambah pula dengan minyak wangi nan membuat hidung para lelaki tiada dapat mengenali aneka bau nan lain agak sejenak. Namun ini..

Sungguh pandai Kaum Perempuan ini menyiksa bathin kita Kaum Lelaki, baju dan celana ketat, atau celana pendek  dan rok pendek nan memperlihatkan paha nan putih dan mulus itu. Sungguh terlalu, atau bajunya nan tak berlengan sehingga ketiak, bahu, dan kuduk serta punggung bagian atasnya mulus atau ditumbuhi oleh  bulu-bulu halus itu menjadi tampak dengan jelas oleh pandangan mata. Atau ada berlengan bajunya tapi cabik di bagian bahu sehingga bahu nan indah itu terpampang nikmat, sungguh durjana mereka itu. Bagi sebagian lelaki tiada mengapa, tapi bagi lelaki Dusun nan Udik serupa kami, tentulah menjadi fikiran, setidaknya masih terkenang hingga kami tuangkan dalam tulisan ini.

Nanti awak ambil gambar encik, encik marah pula. Makanya kami ambil diam-diam supaya dapat kami kenang-kenang..

Sungguh kami hendak tersenyum melihatnya, betapa tidak, tatkala kami alihkan pandangan kami agak sejenak, lalu tiba-tiba seorang encik nan elok rupa serta elok pula bentuk tubuhnya telah duduk menggoda tak beberapa meter jauhnya dari kami. Tepatnya di hadapan dua orang engku-engku nan telah berumur kurang lebih 50-60 tahunan. Dasar, kenapa tak di hadapan kami saja dia duduk?

Kami perhatikan kedua engku ini, tampak mereka tiada memperhatikan, atau sengaja mengalihkan pandangan ke nan lain. Namun salah seorang sempat melihat sekilas kepada si encik dan semok ini. Si encik kelihatan acuh, rambut tegerai sampai ke punggung bagian atas menutupi kuduknya, rok selutut serta kemudian melipat kami sambil bermain hape. Tersenyum ia kepada hape tampaknya sedang mengambil gambar ia..

Sungguh kami menjadi cemburu kepada hape mahal itu, digenggam dan diberi senyuman nan memabukkan. Dipeluk dan kemudian diarahkan ke badannya nan molek itu. Namun sayang nanti pasti disimpan di dalam tas, coba disimpan di dalam roknya, bakal mabuk itu hape mahal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s