Masjid Raya Bandar Hujan

Great Mosque of Bogor

Setiap bandar nan dihuni oleh mayoritas orang Islam pastilah memiliki Masjid Raya atau dalam Bahasa Arab Masjid Jamiak atau dalam bahasa Inggris kalau kami tiada salah iala Great Mosque. Demikian pula dengan Bandar Hujan ini, juga memiliki masjid Jamiak nan sangat indah. Dibangun dengan gaya minimalis dan memiliki lapangan terbuka pada bagian belakang serta sebuah taman bacaan di teras belakang masjid. Juga terdapat lorong yang menghubungkan bangunan utama masjid dengan Gedung Pusat Pengembangan dan Pengkajian Islam.

Lorong ini dijadikan sebagai tempat bersantai oleh sebagian jamaah sambil menanti waktu masjid. Pada lorong ini pula kita dapat memandangi keindahan salah satu sudut Bandar Hujan karena letak bangunan ini yang berada di lereng bukit sehingga pemandangan lepas ke arah perumahan penduduk dapat kita nikmati. Nun jauh disana ada sebuah gunung yang sedari dahulu menatapi bandar ini. Mungkin gunung inilah nan bernama Gunung Salak itu.

Ruang Baca Masjid, rak ada di sisi kiri dan kanan jenjang || Mosque Reading Room

Masjid ini memiliki dua lantai, sungguh sejuk berada di dalamnya karena antara lantai dasar dengan lantai satu tidak ditutup habis. Lantai satu hanya berupa balkon saja. Dan tampaknya untuk shalat lima waktu tiada terpakai karena lantai dasar masih mencukupi. Disaat kami datang, kami dapati sekelompok remaja perempuan sedang berada di atas, entah sedang belajar atau sedang pengajian mereka itu. Dan hanya ada satu jama’ah lelaki yang sedang terlelap di alam mimpi, mungkin tiada tahu ia kalau waktu Zuhur sudah masuk.

Menarik perhatian kami ialah tempat shalat laki-laki dan perampuan nan dipisah. Jamaah perempuan shalat di teras bagian samping kiri masjid yang menghadap ke arah Gunung Salak. Melihat susunan shaf laki-laki dan perempuan membuat kami terkenang dengan Masjid Kemerdekaan di Ibu Negeri Republik. Dimana shaf laki-laki dan perempuan dibuat sejajar, terus terang kami nan tiada faham betul perkara agama ini heran juga, apakah ada dalil nan membolehkan serupa ini?

Mihrab, tempat shalat perempuan ada di sebelah kiri di balik tembok

Ruang baca yang berada di teras bagian belakang menarik minat beberapa orang nan gemar membaca “Silahkan Engku Baca namun Tiada Boleh Dibawa” demikianlah bunyi tulisan maklumat nan berada pada salah satu rak buku. Sungguh bagus sekali, kitab (buku) dan masjid merupakan dua perkara nan sesungguhnya tiada dapat dipisahkan. Masjid ialah tempat pendidikan, madrasah (sekolah) pertama setiap anak muslim dan akan tetap menjadi madrasah hingga akhir hayat bagi setiap muslim. Alangkah eloknya contoh dari Masjid Raya Bandar Hujan ini ditiru dan dipakai jua.

Masjid ini tidak hanya dikunjungi oleh orang nan hendak shalat, akan tetapi juga remaja dan anak sekolah yang sedang berkumpul, apakah itu sedang bermufakat perihal sesuatu hal atau sekadar duduk-duduk saja menikmati angin sepoi-sepoi nan menyejukkan di tengah panas tengah hari nan berdengkang ini. Ada juga orang pasangan laki-bini nan membawa anaknya masih kanak-kanak baru pandai berjalan, ada pula rombongan keluarga nan tampaknya para pelacong.

Sekelompok Remaja Perempuan sedang berbincang-bincang

Nan menarik hati kami ialah para perempuan, memanglah kami ini sangat suka memperhatikan perempuan. Terdapat jua beberapa perempuan nan datang dengan pakaian nan teramat sempit bahkan tiada memakai kerudung di atas kepalanya. Tiada nan menegah[1] hanya menengok saja serupa kami ini atau mengabaikan. Kalau tiada sedap dipandang tiada masalah namun ini sedap sangat dipandang mata. Seorang ibu dengan anaknya masih gadis, berambut panjang sebahu diikat serupa ekor kuda di belakangnya sedangkan anak gadisnya dibiarkan terurai rambutnya itu. Kulit putih bersih atau ada jua nan menyebutnya dengan Kuning Langsat. Celana levis sempit sehingga pertigaan betis nan putih itu hingga ke kaki tampak. Pinggulnya usah engku tanya, serupa itik pulang petang walau telah beranak beberapa orang dan bahkan sudah gadis dan bujang anaknya itu. Duhai engku, sungguh beruntung suaminya..

Ah, kenapa macam-macam pula fikiran kami, eloklah kita mambahas perkara Masjid Raya ini lagi.

Konon kabarnya masjid ini dibuat oleh orang pada tahun 1970 dan selesai pengerjaannya pada tahun 1979. Sembilan tahun massa nan dihabiskan untuk membuat Masjid Raya ini. Dan menarik ialah Sang Perancang (arsitek) dari masjid ini, rupanya  sama dengan orang nan merancang Masjid Kemerdekaan di Ibu Negara Republik ini. Ia ialah seorang nasrani dan berasal dari negeri utara (utara dari Minangkabau) namanya ialah FX Silaban. Kemudian pada tahun 2006, masjid ini mengalami perbaikan yang menghabiskan masa 13 tahun yakni pada tahun 2013 baru selesai.

Gambar Lebih Lanjut silahkan kunjungi: https://justwrite-athing.tumblr.com/

__________________________

Catatan Kaki:

[1] Melarang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s