Ke Museum Kepresidenan

Lanjutan dari kisah kami Berburu Celana Dasar

Keesokannya, kami telah bertekad untuk mencoba jua, apabila tak dapat tak mengapa. Kami pakai lagi baju kemeja nan telah tiga hari tiada diganti, sepatu nan telah disimpan dalam koper dikeluarkan kembali, terompah nan mengalami nasib malang, dimasukkan ke dalam koper. Pagi-pagi selepas sarapan kami berangkat dari penginapan tempat pertemuan dan pergi ke penginapan baru, memesan bilik dan menitipkan barang, selepas itu langsung pergi ke istana.

Sesampainya di muka pintu gerbang, dua orang penjaga berseragam batik dan sedang memegang roger langsung menatap kami. Tatapannya sudah sedari tadi semenjak kami mulai berjalan menuju gerbang besi itu. Kepada salah seorang dari mereka itulah rangkayo kawan kami ini melapor. Ditanya kami dari mana dan apa tujuan setelah itu ia bertanya lagi “Sudah ada suratkah..?” karena sudah ada maka segera kami disuruh pergi ke pos penjagaan yang ada di dalam.

Ada nan membuat kami sangat kurang berkenan, tatkala kami sudah beberapa langkah berjalan keluarlah seorang penjaga berseragam gelap dengan baret gelap serta dengan senapan tersandang di bahu dari dalam kotak penjagaan yang ada di depan gerbang besi. Bertanya ia kepada kawannya itu mungkin “Ada apa! Siapa mereka?” lalu kamipun menoleh karena ada suara agak gaduh di belakang kami. Si engku pengawal berbaju batik berkata “Tiada mengapa, masuklah..” dan kemudian ia berbicara kepada kawannya nan menyandang senapan itu, menjelaskan. Dalam hati kami tersenyum “Itulah, mestinya engkau cukur janggut engkau itu sebelum datang ke sini..!!”

Di pospun demikian, penjaga nan sedang bertugas memandangi kami pula. Kami biarkan saja rangkayo kawan kami ini bercakap, seperlunya saja kami bercakap. Setelah selesai mengisi buku tamu, mendapat tanda pengenal untuk tamu maka kami diperkenankan masuk ke dalam kawasan istana. Beberapa langkah berjalan meninggalkan pos tersebut kami berdua tersenyum “Aman, selamat engku..” ucap rangkayo kawan kami senang. Iya, ternyata celana kami tiada masalah, mungkin tersamarkan sebab bewarna hitam.

Namun, alangkah kecewanya kami sebab bukan ke dalam istana itu tujuan kami melainkan ke bangunan nan ada disebelahnya itu Museum Kepresidenan.”Iya, ke museum ini tujuan awak engku..”seru rangkayo kawan kami. Padahal sudah girang kami hendak memamerkan kepada engku, rangkayo, serta encik sekalian. Tak jadilah..

Untuk masuk mesti menitipkan segala barang bawaan di teras hadapan museum. Tatkala kami baru sampai, rombongan perempuan jemaat salah satu gereja baru saja menuntaskan kunjungan mereka. Bahkan kami sempat menolong salah seorang dari mereka untuk mengambilkan gambar. Tatkala sampai di tempat penitipan barang-barang di teras kami ditemui oleh seorang encik, rangkayo kawan kami yang kena tegur “Rangkayo nan dari Bandar Bukit Tinggi itukah?”

“Benar encik..” jawab kawan kami.

“Iya, Rangkayo Neneng telah mengabari kedatangan rangkayo kepada saya..” ucapnya kepada kawan kami adapun kami dianggap tidak ada saja. Mungkin kami kurang gagah atau tidak termasuk jenis lelaki yang disukai dan digemarinya. Tak mengapa, encik nan seorang inipun tak menarik minat kami pula.

Setelah mengambil gambar kami masuk, tatkala berada di ruang depan rupanya si encik sedang menunggui rombongan para perempuan itu selesai berfoto. Tatkala melihat kami masuk ia langsung berseru kepada rombongan amai-amai itu “Maaf nyonya-nyonya sekalian, sudah cukup ya. Tamu baru telah tiba menanti giliran pula untuk kami pandu..”

Para amai-amai itu berseru “Sebentar, sebentar encik. Tanggung hendak berfoto ini haaa..”

Berselang beberapa menit kemudian barulah usai foto-foto mereka itu. Rangkayo kawan kami langsung disambut bak kawan lama. Kami? Usah engku, rangkayo, serta encik tanya..

Dibawanyalah kami berkeliling oleh encik ini, agaknya dia lebih santai sebab kami orang museum juga dan ia merasa sudah kawan dekat pula dengan rangkayo kawan kami ini. Dia hanya menjelaskan singkat perihal  museum nan masih baru ini. Pada bagian belakang terdapat patung enam orang nan pernah memimpin republik ini “Nan membuatnya ialah seorang tukang patung dari Jogja..” kami mencuri dengar tatkala ia menerangkan kepada kawan kami.

Berfoto disana dan berfoto disini, demikianlah kerja kami, semenjak mula masuk tadi. Rangkayo kawan kami selalu dituntut oleh anak-anaknya perihal gambar-gambar perjalannya. Penasaran mereka.

Di lantai dua ialah Galeri Presiden, Perpustakaan Presiden, dan Ruang Baca Presiden. Disini, tiada boleh mengambil gambar. Maka terpaksalah melihat-lihat saja kerja kami. Lepas itu kami diperkenankan mengambil gambar di luar Galeri Presiden. Ada tempat khusus yang disediakan untuk mengambil gambar, semacam tempat khusus bagi para pelancong untuk membuat kenangan di Museum Kepresidenan ini.

Lepas itu, usai sudah kunjungan singkat kami itu. Pamit dan segera melangkah pergi, mengambil KTP yang dititipkan di pos depan dan mengembalikan kartu tanda kunjungan..

Gambar Lebih Lengkap: Klik Disini

Advertisements

One thought on “Ke Museum Kepresidenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s