Berburu Celana Dasar

“Ternyata ada persyaratan untuk pergi ke Istana, tiada boleh memakai baju kaos, baju batik atau kemejapun tak mengapa asalkan jangan baju nan telah diharamkan tersebut. Tiada boleh memakai terompah, walaupun terompah mahal mesti memakai sepatu. Serta ini nan penting engku, tiada boleh memakai celana levis atau lainnya, sebab nan dibolehkan hanyalah celana dasar atau celana jahit..” Seru rangkayo kawan kami tatkala kami baru sampai di ruang makan penginapan untuk makan tengah hari.

Terpanalah kami, sebab tak ada sehelaipun celana nan dimaksud. Kedua celana kami ialah celana gunung dan itu tiada lulus ujian untuk masuk ke dalam kawasan istana. Akhirnya kami putuskan nanti malam mesti mencari celana nan dimaksudkan itu, terpaksa keluar pokok[1] jua awak ini sekadar untuk dapat masuk ke istana negara.

Malam itu kami pergi bersama kawan-kawan ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Bandar Hujan ini. Nama tempatnya ialah Kotak Ilmu Tumbuhan, padahal ianya sebuah bangunan besar pusat perbelanjaan mewah. Banyak kedai nan menjual barang-barang mahal disana, kota ilmu tumbuhan apa pula itu?

Ya, barang-barang nan dijual disana ialah barang-barang mahal dan bermerek. Kami masuk pada salah satu kedai yang terkesan mewah, rupanya bukan kesan belaka karena memang mewah adanya. Setelah bertanya-tanya kepada encik-encik berbedak tebal, bergincu merah menggoda, serta elok-elok sangat rupanya maka tersua juga dengan ratusan celana dasar yang digantung pada beberapa rak.

Seorang encik datang melayani kami, rupanya setiap orang nan datang hendak berbelanja mesti dilayani oleh para pelayan nan ada disana. Tak mesti perempuan muda nan elok rupa saja, engku-engku muda bagus rupa juga ada disana. Ditanyalah apa hendak kami, kami katakan dan ditunjukkan. Halus benar pelayanannya, kami jadi segan, apalagi setelah melihat kertas harga yang ditempel pada celana mahal tersebut. Masya Allah, tiada main-main, habis tiga helai setengah uang bewarna merah itu. Akhirnya kami lunakkan suara kami, dan kami coba memberikan senyum terbaik dan termanis kami (kami tiada tahu apakah senyuman itu sudah manis sebab tak sempat melihat ke cermin) dan berlalu “Maaf encik, awak tengok-tengok sajalah dahulu, lain kesempatan awak balik lagi..” dan si encikpun tersenyum membalas.

Kami hilang akal, kami turutkan saja langkah kaki ini, terserah ia kemana hendak melangkah. Sampai pada sebuah kawasan perbelanjaan besar yang berada di dalam gedung itu. Kami coba masuki, kami tengok-tengok dan bersua dengan kawasan pakaian. Tersua pula dengan celana-celana  terkutuk itu, terkejut pula melihat ketas harganya – walau tak semahal di kedai nan berusan – namun tetap membuat kami berfikir “Sepadankah ini..?” itulah pertanyaan dalam hati kami.

Nan termurah ada, sekitar seratus sembilan ribu sembilan puluh rupiah “Masih ada ya uang sepuluh rupiah pada masa sekarang?” ucap kami dalam hati. Kami bingung dan kemudian memutuskan untuk berjalan keluar. Karena gundah, kami jelajahi setiap lantai sambil mencuci mata ini. Duhai engku, banyak perempuan molek dengan pakaian ketat dan singkat sangat berjalan-jalan di gedung pusat perbelanjaan ini, dari berbagai usia mereka itu, tak mesti perempuan muda 20 atau 30 tahunan, nan berumur di atas itu juga banyak. Kagum kami, memang pandai perempuan disini merawat badan mereka. Ada yang seorang, bersama kawan, ada pula nan bersama seorang lelaki yang entah kawan, kekasih, atau lakinya sebab status hubungan orang kota masa sekarang banyak yang diragukan. Usahlah perkara laknat nan satu ini kita bahas.

Akhirnya kami kembali setelah bertanya kepada adik kami yang berpengalaman perkara harga pakaian. Dia cakap harga demikian – nan termurah – ialah harga nan pantas bahkan bagus sebab sangat jarang celana berharga sedemikian. Kami ambil itu celana, kami bawa ke juru bayar namun tatkala hendak sampai giliran kami membayar ada nan janggal tampak pada celana itu, ada cacatnya. Maka kami kembali dan mencari tukarannya, kemudian terkenang lagi soal ukurannya. Benar saja ukurannya kekecilan, kami cari nan sesuai rupanya tiada dapat. Kami kulisa-i[2] kesemua celana nan digantung itu, tiada tersua. Akhirnya kami menyerah dan berjalan keluar, apalagi kawan kami sudah memberi tahu kalau mereka sudah diluar, menanti kami saja lagi.

Rangkayo kawan kami tampaknya gundah pula, tiada hendak ia pergi seorang diri keesokan hari. Diusulkannya agar kami berhenti di tempat yang ada kedai-kedainya di sepanjang jalan pulang ini. Bersua juga, begitu turun dari angkot kami bergegas menuju ke kedai nan dimaksud. Sayang sekali tiada tersua, kami cari dan terus berjalan ke kedai sebelah, sebelah, sebelah, sebelah, dan sebelahnya lagi. Tersua, tapi sudah hendak tutup, tiada diperkenankan lagi untuk masuk.

Akhirnya kami berdua menyerah kalah,.

Lanjutan: Ke Museum Kepresidenan

______________________________________________________________

[1] Modal

[2] Acak-acak

Advertisements

One thought on “Berburu Celana Dasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s