Axis Axis

Deer at the Bogor Palace

Berasal dari Kerajaan Animalia, bagian dari Filum Chordata, berada pada Kelas Mamalia, termasuk kepada Ordo Artiodactyl, anggota Keluarga Cervidae, Bagian dari Keluarga (subfamili) Cervinae, dan berasal dari Ras (genus) Axis Axis, demikian silsilah dari nama latinnya, serupa namanya dengan nama penyedia layanan telefon genggang di republik ini (dengan tanpa pengulangan, hanya satu suku kata saja). Sedangkan nama melayunya ialah Rusa Totol. Binatang nan satu ini – menurut salah satu situs nan kami baca – bukanlah binatang asli dari republik ini melainkan berasal dari Asia Selatan. Binatang inilah nan membuat kami terkenang tatkala mengunjungi salah satu Kawasan Istana di republik ini yang terletak di Bandar Hujan.

Konon kabarnya Binatang Axis Axis ini didatangkan dari Asia Selatan. Ada yang mengatakan didatangkan dari Nepal ada jua yang menyebutkan dari Sri Langka, serta ada pula nan mengambil jalan tengah yakni: dari perbatasan India dengan Nepal, entah mana yang benar, kami serahkan saja keharibaan engku, rangkayo, serta encik sekalian. Tidak hanya itu, Gubernur Jenderal nan membawanyapun ada beragam pula pendapat orang. Ada yang mengatakan kalau Sir Thomas Stanford Rafles Sang Wakil Ratu Ingrislah yang punya kerja. Ada jua yang mengatakan kalau Herman Willem Deandles orang Belanda yang menjadi kaki tangan Napoleon Bonaparte sang Kaisar Prencislah nan sebenarnya patut untuk dicari untuk ditanyai, entah bagaimana cara mencarinya, bukankah ia sudah mati lebih dari seabad nan silam. Dan kembali kami pulangkan ke hadapan engku, rangkayo, serta encik sekalian.

Para pengunjung sedang memberi makan rusa

Namun bukan perkara nan bergalat itulah nan hendak kami bahas, kami hendak membahas Axis Axis yang sangat digemari dan telah diambil banyak gambarnya, serta tak tanggung pula banyak tulisan nan membahas. Kini kami hendak pula ikut untuk ambil bagian, tak hendak tinggal pula kami.

Kami berkunjung ke kawasan ini disaat sudah hampir menjelang tengah hari. Panas berdengkang dan untung kami membawa topi, tapi tetap saja menjelang tiba di tempat menginap kepala ini mulai terasa sakit. Kata kawan kami “Serupa dengan bandar di negeri kita panasnya, sudah mulai menyengat. Namun masih tetap ada udara sejuk terasa berhembus..”

Kami berjalan menyusuri trotoar, ada beberapa orang kami dapati sedang tegak-tegak memberi makan Axis Axis atau Rusa Totol atau cukup kita sebut dengan “rusa” saja. Salah satunya ialah satu keluarga nan membawa dua orang anaknya, nan satu tengah diajari cara memberi makan rusa. Anaknya nan bungsu tampak terkejut dan takut serta mengeluh tatkala tangannya terkena bibir rusa. Dikiranya kena gigit namun ayahnya tersenyum saja sambil mencontohkan cara memberi makan rusa.

Ada dua buah jenis makanan nan diberikan, satu wortel dan satu lagi daun kangkung. Semula kami mengira “Baik nian hati orang-orang ini, sampai membawa makanan untuk rusa dari rumah..” namun tatkala kami berjalan beberapa meter, bersua dengan beberapa orang penjual wortel dan daun kangkung tersebut. Rupanya telah menjadi salah satu lahan untuk berniaga, bagus juga, membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Inilah nan dinamakan dengan ekonomi rakyat itu, langsung terasa oleh masyarakat dampaknya, bukan pemasukan terhadap kas daerah nan entah sampai entah tidak.

Setiap kami mendekat ke pagar istana, maka para rusa itu segera pula mendekat sambil menyorongkan kepalanya. Disangkanya kami hendak memberi makan, mungkin karena telah terbiasa diberi makan oleh orang nan mendekat maka dari itu kami disangka hendak memberi makan pula. Sebagian besar dari mereka, tampak bersantai merebahkan badan di halaman berumput nan sangat luas itu. Ada banyak batang beringin kami dapati nan menjadi tempat berlindung dari sengatan matahari tengah hari. Senang hati melihatnya, santai sekali kawanan rusa ini, nikmat hidup mereka tampak pada pandangan mata ini.

Sungguh sayang kami tiada dapat melihat bangunan istana dari  dekat, karena tidak sembarang orang mendapat izin untuk masuk ke dalam sana. Maklumlah kediaman Tuan Besar. Namun pada setiap jalan masuk kami dapati sebuah bangunan berupa rumah kecil yang terbuat dari batu bata yang dilapisi kapur, khas bangunan lama dan langgamnyapun merupakan langgam bangunan kolonial. Menurut sangkaan kami bangunan itu ialah bangunan pos penjagaan. Sungguh mewah sekali bangunan pos penjagaan itu, serupa rumah pula. Biasanya bangunan pos penjagaan yang kami dapati ialah bangunan kecil, ala kadarnya, sederhana, tidak banyak ruang, dan cenderung enggan ditinggali oleh orang nan berjaga. Namun nan ini tidak demikian, kamipun bakal betah tinggal disana apabila disuruh menjaga.

Demikianlah pengalaman kami, hanya memandang dari luar pagar serta berharap suatu masa kelak kami berjodoh dengan istana ini. Kawan kami dari Tarakan semalam menceritakan pengalamannya “Dahulu awak pernah mengunjungi istana itu, mengawani seorang kawan nan sedang menyusun tesis. Kebetulan kawan awak memang bekerja di istana itu dan tesisnya membahas soal istana itu pula. Puas awak memasuki segala ruangan, banyak gambar nan awak ambil namun lupa entah disimpan dimana gambar-gambar itu..”

Ah, memanas-manasi kami saja kawan nan seorang itu. Dan memang dia lebih beruntung dibandingkan kami, kakinya telah memasuki setiap ruangan di istana itu sedangkan kami sejengkalpun belum terinjak. Nasib..

Advertisements

One thought on “Axis Axis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s