The Great Garden of Bogor

Kebun Raya Bogor & Istana Presiden

Botanic Garden Bogor

Kebun Raya Bogor nama resminya, kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris kalau kami tiada salah akan menjadi “Bogor Great Garden” atau “Great Garden of Bogor” demikian kata salah seorang kawan kami. Karena tiada memahami bahasa Orang Inggris kami iyakan saja.

Untuk ukuran sebuah Parak[1], Kebun Raya Bogor ini sungguhlah luas dan besar. Beragam tanaman ada di parak ini, ditambah penataan dan pemandangan nan permai. Suhu udara di dalam parak ini sungguglah sejuk, tiada berbeda jauh dengan bandar kami sejuknya. Namun apabila kita berada di jalan dan kemudian masuk ke dalam parak ini, maka akan terasa jauh benar perbedaan sejuknya.

Tugu Peringatan untuk Isteri Tuan Rafles

Sungguh nikmat berada di dalamnya, ditambah dengan sebuah tabek[2] besar yabg berada di tengah-tengah perak ini. Menambah kenikmatan dan kepermaian parak ini.

Banyak pohon-pohon besar di dalam parak ini, tiada kami ketahui namanya namun pada batangnya terdapat keterangan nama Latinnya. Memanglah perak ini dibuat oleh Tuan C.G.K Reinwardt sebagai tempat bertanam berbagai jenis tanaman yang ada di negeri ini dahulunya. Tuan Reinwardt ialah seorang Jerman, Ahli Tumbuhan-tumbuhan ia, kalau dalam bahasa sekarang ialah seorang Ahli Botani.

Relief Kepala Tuan Reinwardt

Dimasa Tuan Rafles menjadi Gubernur Jenderal ia membuat perak ini, tepat letaknya di belakang Istana Bogor yang dahulu ialah kepunyaan Gubernur Jenderal dan kini menjadi hak milik republik ini. Istana Presiden namanya kini. Bercakap perihal Tuan Rafles yang menjadi perwakilan Ratu Inggris di negeri ini dimana dahulu semasa Perang Napoleon menjadi-jadi di Tanah Eropa, Belanda terpaksa menyerah kepada Perancis dan membuat Pemerintahan Pelarian di Negeri Inggris. Oleh karena itulah Inggris menempatkan Gubernur Jenderal di Kepulauan Melayu ini menggantikan Belanda yang mencari perlindungan ke Kerajaan Inggris.

O ya, kami tadi bercakap perihal Tuan Rafles, tepat di hadapan pintu masuk terdapat sebuah tugu yang cantik sangat. Rupanya tugu itu dipersembahkan untuk isteri dari Tuan Rafles yang bernama Olivia Mariamne yang meninggal di Bandar Bogor ini pada tanggal 20 November tahun 1814. Kami tiada tahu apakah ink sekadar tugu atau juga kuburan Nyonya Besar ini. Adakah diantara engku yang tahu? Berkenanlah beritahu kami..

Pelancong Bule

Terkenang kami dengan sebuah tugu kepala Tuan Reinwardt yang tepat berada di belakang Istana Bogor. Pada plakat keterangan tugu tersebut tertera angka 18 08 1817 yang kami terjemahkan menjadi 18 Mei 1817. Kalau demikian berarti perak ini dibuat tiga tahun selepas kematian dari isteri Tuan Rafles. – Jauh rupanya kuburan isteri Tuan Rafles dari Istana Bogor – Atau plakat ini dibuat berlainan tahunnya dengan pembukaan perak? Entahlah kami tiada tahu, adakah engku tahu perihal perkara nan satu ini?

Di tengah-tengah perak ini mengalirlah Sungai Ciliwung, lumayan jauh juga kami berjalan. Namun tiada mengapa, udaranya sejuk walau panas berdengkang. Banyak pula batang kayu tinggi nan rindanh, ditambah perak ini ditata dengan sangat baik.

Kami terkenang dengan seorang Pujangga asal Bandar Padang, Marah Rusli namanya. Di bandar inilah ia menuntut ilmu dan menghabiskan masa remajanya, di bandar inilah ia bersua dengan tulang rusuknya dan kemudian menikah. Kisah perjuangan bathinnya dalam mempertahankan cintanya itu telah ditulisnya dalam roman terakhir karangannya, kalau tiada salah “Memang Jodoh” judulnya.

Pada romannya tersebut Engku Marah Rusli mengisahkan tatkala ia dan seorang kawannya menghabiskan masa berjalan-jalan di perak besar ini. Dahulu kami yakin tentulah tiada serupa sekarang dan tiada pula dikenakan cukai masuk.

Mesin Potong Rumput

Berdasarkan cerita Engku Marah Rusli, dahulu perak ini menjadi tempat tujuan dari penduduk bandar untuk berpesiar. Termasuk anak sekolah, remaja, muda-mudi, dan juga para nyai dan isteri muda pejabat kolonial. Disini juga tempat memadu kasih bagi pasangan sejoli, serta tempat untuk menebar pesona oleh anak-anak muda yang hendak memikat hati kaum perempuan.

Terbayang oleh kami, nun disudut jalan sana, Engku Marah Rusli sedang berjalan bercakap-cakap dengan kawan sekolahnya. Di sisi nan lain pasangan sejoli sedang memadu kasih. Dan disana ialah para ibu-ibu muda sedang membawa main anak-anaknya.

Kenyataannya, hanyu satu nan kami dapati yakni beberapa pasangan sejoli sedang memadu kasih. Sedangkan yang lain ialah sekelompo pelancong lokal, pelancong luar negeri dimana perempuannya kesemuanya memakai pakaian yang menampakkan betis. Aduhai engku, benar-benar tak menenggang perempuan putih ini, tersiksa awak ini haa..

Ada pula sekelompok tentara, rupanya mereka memiliko barak tepat di belakang istana. Memanglah istana ini mesti dijaga dengan baik. Sebab presiden terkadang datang berkunjung ke sini.

Bagus untuk dibuat pula di setiap Tempat Pelancongan di Bandar Kami

Ada juga sekelompok anak sekolah, entah mengapa mereka, tiada kami tanya. Taman ini membuat kami terkenang dengan Benteng de Kock di bandar kami. Permai dan sejuk serupa ini pula. Bedanya ialah tiada tabek serta tak sebesar dan luas perak ini.

Tambahan Gambar:

 

_______________
Catatan Kaki:
[1] Kebun
[2] Kolam

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s