Kreativitas Kanak-kanak

Picture: Here

Beberapa hari nan silam kami pergi ke Bandar Padang, mencoba untuk meraih harapan yang rupanya tiada berhasil didapatkan. Demikianlah hidup engku, kita memang hanya dapat berdo’a dan berserah diri kepada Yang Kuasa.

Di bandar itu kami menumpang bermalam di rumah tuan[1] kami di Indarung, dia bekerja di perusahaan semen pertama di republik ini. Tuan kami memiliki dua orang anak lelaki, nan sulung telah kelas dua di madrasah sedangkan yang bungsu baru kelas lima di sekolah dasar. Anak tuan kami yang sulung sangatlah pendiam dan penyabar berlainan dengan adiknya yang sangat usil dan lincah.

Kami ke Bandar Padang pada petang Jum’at dan keesokan harinya Si Sulung akan diantarkan masuk asrama, karena dia bersekolah di sekolah asrama. Tampaknya menyadari tuannya hendak berangkat, si bungsu sangatlah gemasnya dan tiada hendak berpisah dengan satu-satunya saudaranya itu. Amatlah banyak perangai si bungsu dalam mengusili tuannya itu. Kami hanya tersenyum-senyum saja dibuatnya, karena memang demikianlah anak lelaki. Terkenang dengan kami dahulu semasa kanak-kanak bersama adik lelaki kami. Dekat selalu bertengkar, apabila sudah berpisah akan saling merindukan.

Tuan kami dan isterinya sangatlah gemasnya melihat perangai anak bungsunya itu, namun nan dapat mereka lakukan hanyalah sekadar menyinyir saja. Zaman kini, anak tiada boleh makan tangan dapat terkena HAM ibu-bapanya, kalau makan nasi masihlah boleh. Justeru kalau tiada dapat nasi akan kena HAM pula ibu-bapanya.

Pagi di hari Sabtu menjelang berangkat si bungsu semakin menjadi mengusili tuannya ini, walau sudah ditegah ia tiada hendak. Salah satu caranya mengusili tiannya ini ialah dengan cara bernyanyi, begini bunyi dendangnya ” Si tuan pai ka pasa/ Masuak banda/ Tibo di Kalimantan Utara..” artinya kurang lebih ialah “Si Abang pergi ke pasar/ Masuk selokan/ Sampai di Kalimantan Utara..”

Gelak-gelak kami mendengar dendang lagu si bungsu ini, si bungsupun demikian pula gelak-gelak pula ia. Tidak hanya itu rupanya, ditambahnya dengan dendang yang lain “Sari roti/ Sia Makan Roti/ Capek Mati..” dan kembali kami berdua dengan si tukang dendang tergelak-gelak.

Mendengar lagu plesetan serupa itu, kami terkenang dengan masa kanak-kanak dahulu, karena permainan serupa ini juga pernah kami lakoni bersama kawan-kawan semasa kanak-kanak dahulunya. Berikut beberapa buah lagu nan dapat kami ingat:

(1) Pramuka-pramuki/ Pramuka Banyak Daki
(2) Aku dan kau/ Suka Denkau/ Karena Engkau/ Anak Kabau
(3) Susu saya, susu nek zara..

Demikianlah permainan masa kanak-kanak, dan tampaknya masih diwarisi hingga kini..

________________________

[1] “Tuan” memiliki beberapa makna dalam bahasa percakapan Minangkabau. Masing-masing makna tergantung dari daerah tempat asal. Sebab masing-masing daerah dan nagari di Minangkabau memiliki langgam dan corak berbahasa yang berlainan. Bahasa Minangkabau yang dikenal oleh orang sekarang ialah percampuran dari Bahasa Padang dengan Bahasa Luhak Agam dalam hal ini Bukit Tinggi. Kata “tuan” selain bermakna “bapak” pada masa sekarang yang mengacu kepada keadaan resmi seperti para pejabat pemerintahan, pada sebagian daerah juga bermakna “abang” atau “uda” dalam Bahasa Padang. Pada tulisan ini yang dimaksudkan dengan “tuan” ialah abang atau uda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s