Kawan Kecil

Picture: Here

No Vacation on tThis Eid for me and several my friends office. On my post, I have  new friend there The Little Friends. He is son of my friends. For this one week he become my friends. This kids membering me about my son who lived in another city. Its long not to see him, a couple month ago. I just can see his picture and hear his voice. This is my new friends, we talk together, play together, and make our own mission in our world. This day, after one week together, finally we should split up. I will go back to my old post.

Good bye my Little Friends, thanks for everything, thanks to become my son for this one week..

_____________________________________________

Dapatkah kanak-kanak berkawan dengan orang dewasa? Selama ini kami hanya dapati dalam kisah dalam roman, cerita dalam filem, atau curaian dongeng saja. Namun tiada kami dapati seorang kanak-kanak berkawan dengan orang dewasa. Nan kami dapati biasanya kanak-kanak nan tiada pemalu dan mudah bergaul serta tiada memiliki rasa takut nan sangat mudah dekat dengan orang dewasa. Kanak-kanak serupa ini terkadang mendapat perhatian dari orang dewasa, diperhatikan, dan diperturutkan. Dibawa bermain, bergurau, dan selalu mengekori orang dewasa yang telah dianggapnya kawan dekat itu.

Serupa itulah kiranya nan menimpa kami ini, selama menjalani tugas piket hari raya, seorang kawan kami membawa anak lelakinya yang baru berumur lima tahun, tahun ini baru masuk Taman Kanak-kanak. Semula ia masih menjaga jarak, namun kemudian ia sering menggaduh kami, mengajak kami bercanda, hingga akhirnya dekat. Kamipun tiada mengapa, kami perturutkan saja. Apa hendaknya dituruti, apa katanya dijawab bak bercakap dengan orang sebaya. Sehingga si bujang ini merasa bergaul dengan kawan sebaya bukan orang dewasa.

Tatkala mula bergaul dengan Si Bujang Kecil ini kami terkenang dengan Si Sibiran Tulang, umurnya tengah beringsut menuju sebelas bulan. Sedang mengapakah ia? kata orang anak seumur itu semestinya sudah pandai bercakap satu-dua kata namun dalam percakapan sehari-hari melalui telpon ia belum jua pandai memanggil “Ayah” suatu kata nan teramat kami nantikan. Akankah kata “Ayah” itu nan pertama terlontar dari mulut kecilnya itu? atau jangan-jangan kata lain?

Kami berkenalan dengannya pada raya kedua, tatkala dibawa ayahnya beraya ke tempat kerja. Pada hari itu ia masih ada jarak namun pada keesokan harinya ia sudah dekat dengan kami. Dibawa bergurau dan bergelut serupa dengan kawan sebaya saja. Anaknya lincah, tiada takut, nyinyir, dan penuh imajinasi. Terkadang ayahnya nan menjadi bahan gurauan bagi Si Bujang ini. Tiada takut ia dengan ayahnya, sedangkan kawan kami itu sangatlah penyabar terhadap anaknya. Demikianlah sayang seorang ayah nan sebagian besar luput dari perhatian, sebagian orang hanya tertuju pada Kasih Sayang Ibu nan Sepanjang Jalan itu..

Sepekan lamanya ia berkawan dengan kami, kata kawan kami “Di rumah engku saja diceritakannya, apabila hendak berangkat kerja ia selalu menurut karena hendak bermain dengan engku..”

Setiap hari pada petang hari ia akan selalu mengikut kepada ayahnya apabila hendak berangkat kerja (karena ayahnya mendapat piket malam) dan apabila telah tiba ia langsung bersorak kepada kami, demikianlah caranya menyapa kami. Kemudian ia akan banyak bertanya atau membawa kami untuk mengawaninya bermain. Pernah suatu ketika tiada kami turuti kemauannya, merajuk ia dibuatnya. Anak bujang ini sungguh tiada pandai merajuk karena jelas sekali pura-puranya.

Terkadang tatkala sedang bermain dengan Si Bujang ini kami terkenang dengan SI Sibiran Tulang. Akankah kami dapat bermain serupa ini dengan dirinya?

Terkenang kami dengan nasib malang seorang kawan nan terpaksa berpisah dengan anak-bininya karena kecongkakan dan keangkuhan seseorang. Isterinya nan sangat kuat digenggam oleh orang itu terpaksa menurut, ia tiada daya untuk menarik. Sang Isteripun tiada hendak, ia penakut lebih takut kepada orang itu dari pada menjalani Syari’at Agama. Kawan kami inipun tiada hendak mengalah, karena setelah dipelajarinya, orang ini memiliki watak mengalah berarti kalah. Apabila ia mengalah maka seumur hidup kepalanya akan dinjak-injak oleh orang itu di hadapan anak bujangnya. Tiada hendak ia, dia lebih memilih anak lelakinya itu mengenal sikap teguh sang ayah yang tiada hendak surut apalagi menyerahkan kepalanya untuk diinjak-injak oleh Seorang Tiran. Anaknya lelaki, apabila ia sudah gedang nanti pasti Si Sibiran Tulang faham akan pendirian ayahnya itu apabila mendapat kisah nan benar perihal ayahnya. Tapi ia sangsi pula dengan perkara nan satu itu..

Kepada perasaian seorang kawan itulah terkenang kami, kawan nan jauh dari Si Sibiran Tulang, demikian pula dengan kami.

Di hari-hari terakhir piket ini kawan kami mulai menakut-nakuti anaknya “Engkau puaskanlah bermain dengan Pakcik engkau itu, hari Jum’at ialah hari terakhir ia bertugas di tempat ayah kerja..”

Maka pada hari Kamis ini, benar-benar ia puaskan bermain-main dengan kami. Berlari-lari, mengendap-ngendap, berpura-pura sedang menjalankan suatu misi penting nan mesti dirahasiakan, tiada boleh diketahui seorang pun jua kecuali kami berdua. Demikianlah petang hari ini kami habiskan bermain-main berdua, kami tinggal di dunia yang kami ciptakan berdua. Kami berdua ialah kawan karib nan sebentar lagi akan berpisah.

Disaat hari sudah menunjukkan pukul enam, setangah jam lagi akan masuk waktu magrib maka kami katakan kalau kami hendak pulang “Tak usah pulang Pakcik, disini sajalah bermain awak..” demikian jawabnya. Sungguh kamipun hendaknya demikian pula namun hari ini mesti berakhir, hukum alam tiada dapat kita tentang.

Tatkala kami panaskan mesin onda[1] karena semenjak tiba pagi tadi onda itu tiada pernah dipakai. Ia mengekori kami, mengajak kami bercakap-cakap dan masih berusaha mengajak kami bermain. Akhirnya ia menyerah, dia duduk di dekat onda lalu berujar “Pakcik, sini duduklah..” katanya sambil menepuk-nepuk lantai semen di sebelahnya.

Kamipun duduk, bercakap-cakap dan berangkulan layaknya kawan karib yang akan segera berpisah. Dan disaat itulah muncul keinginan untuk mengabadikan peristiwa penting itu. Dia memang suka sekali difoto dan suka sekali bergaya akibat gemar menonton sinetron. Demikianlah, ia minta hendak dibonceng naik onda kami ke hadapan dimana kami akan berhenti dan mengambil tas.

Selamat tinggal bujang, sampai berjumpa lagi kawan kecil. Terima kasih telah mengisi hari-hari nan hampir hampa ini. Jadilah anak baik, patuh kepada kedua ibu-bapa, serta berguna bagi agama dan negeri kita. Terima kasih karena telah bersedia menjadi tumpahan kasih sayang nan tiada dapat Pakcik berikan kepada anak bujang Pakcik..

__________________________________

[1] Motor

Advertisements

2 thoughts on “Kawan Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s