Masalah Sekeliling

Picture: Here

Bercakap dengan Mamak[1]

One night after magrib, two of my uncle has come. They are my mother brother were call “Mamak” in Minangkabau Culture. Its my first meet after the Eid, we talk about every thing with my mother. From them update my information about my village. From them, I finally now that there are so many problem on my village, the people, and my brothers and sisters were same clan with me.

_____________________

Awan mendung dan udara dingin senja hari mengiringi kami sampai pulang. Petang hari tadi sempat hujan agak sebentar, sebelumnya hujan rinai (gerimis) sudah mulai menyapa semenjak tengah hari. Karena rinai nan tiba-tiba datang itu maka ikut pula pelangi menyapa di petang hari ini. Duhai engku, cantiknya..

Namun tiada demikian tatkala kami beranjak pulang, awan gelap membayangi di atas sana. Untung tiada sampai hujan, hujan sempat turun agak sebentar sekadar menyapa mengucapkan “selamat malam” selepas waktu Isya. Kemudian giliran angin kencang yang tiba mengucapkan selamat malam. Ada-ada saja tingkah mereka.

Selepas waktu magrib, tatkala kami hendak menunaikan makan malam. Dua orang mamak kami pulang, sudah cukup lama jua mereka tiada pulang bersama. Biasanya hanya seorang-seorang saja. Kopiah[2] menghiasi kepala dan kain sarung masih terpakai, ditambah jaket yang melindungi mereka dari dingin dan angin malam. Benar-benar khas lelaki Minangkabau Tempo Doeloe, masa sekarang sudah jarang didapati lelaki Minang yang selalu menghiasi kepala mereka dengan kopiah.

Karena ini pertemuan pertama kami semenjak hari raya, maka kami kawanilah kedua mamak kami ini. Bunda juga ikut bercakap-cakap sekepas menghidangkan teh sebagai kawan yang akan mengiringi kami menikmati Kue Raya. Bertukar kabar dan bercakap kesana-sini maka sampailah ke maksud utama kepulangan kedua mamak kami ini.

Namun, bukan itu nan hendak kami kisahkan. Banyak perkara nan diperbincangakn bunda dengan kedua mamak kami ini yang menyelingi maksud utama mereka. Dari perbincangan yang kesana-kemari itulah kami dapati berbagai kabar yang selama ini tertutupi di hadapan kami. Maklumlah, pergi pagi, pulang petang saja kerja kami sehingga kejadian di kampung menjadi gelap bagi kami.

Alangkah terkejutnya kami betapa banyaknya perkara nan sumbang telah berlaku. Entah perasaan kami saja atau memang demikian adanya. Masa kini ialah masa kacau-balau, negeri serasa kena kutuk. Setiap orang memiliki masalah yang teramat pelik yang membutuhkan waktu dan kesabaran untuk menguraikannya.

Tidak hanya itu, masing-masing orang menjadi pribadi asing yang hanya mementingkan kepentingan dirinya saja. Nafsu diperturutkan, orang lain dan orang kampung tiada dipertenggangkan. Astagfirullah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kami, keluarga, dan orang-orang nan kami kasihi dari berbagai perilaku buruk tersebut.

Dalam bathin, hati kecil kami berucap “Jangan-jangan ini merupakan wabah yang ditularkan oleh orang nan duduk di singasana sana. Bukankah sebelum penobatannya, negeri kita ini aman sentosa saja?”

“Hus.., kena masalah engkau nanti berucap serupa itu..!!” Balas suatu suara dalam bathin kami. Entah punya siapa suara itu kami tiada pula tahu.

Kata orang, hidup itu tiada kepas dari masalah. Namun agaknya, masalah orang sekarang bertambah banyak dan pelik sangat. Ditambah pada diri orang sekarang tiada kearifan pada jiwa mereka. Tiada lagi sifat “Lamak di awak, katuju di urang. Urang kampuang dipatenggangkan..” artinya “Suka di kita, orang lainpun suka pula. Orang kampung kita pertimbangkan perasaan mereka..”

Bagaimana keadaan di negeri engku, rangkayo, serta encik sekalian? Sama jua kah? Mudah-mudahan tidak ______________________

Catatan Kaki:

[1] Saudara lelaki ibu (Min)

[2] Peci

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s