Gayung Tempurung

Happy Eid Mubarak for You..

Father family house was call Bako House in Minangkabau Culture, we are matrilineal people. And every Eid, I and my brother, sister, mother, and father go to our Bako House. On this Eid I found a coconut shell in the Bako kitchen. This thing remembered me about my childhood when my grandmother still life and they stay in old house. This shell used to bail out the water. My traditional people used this shell in the past, life in the past has friends with nature. There is no plastic waste, not like this time. Now, time has change every things..

________________________________

Sudah menjadi kebiasaan pada beberapa keluarga di Minangkabau ini untuk pergi beraya ke rumah bako[1], demikian pula dengan kami. Sudah menjadi kebiasaan setiap beraya untuk menziarahi rumah bako.

Namun nan membuat kami terkenang pada raya tahun ini ialah sebuah sayak[2] yang kami dapati di dapur rumah bako kami. Dahulu tatkala nenek kami masih hidup[3] dimana rumah kayu milik keluarga ayah masih ada, kami sering mendapati sayak tersebut di sumur ataupun wece. Digunakan sebagai pengganti gayung.

Dahulu, sebelum peralatan rumah tangga masa kini diperkenalkan dan dipakai, orang di kampung kami menggunakan sayak sebagai pengganti gayung dari plastik. Sedangkan untuk membawa air digunakan garigiak [4] sebelum adanya ember. Dahulu kami sering kepayahan menyauk air dengan sayak ini sebab air yang dapat ditimba sangat sedikit debitnya.

Terkenang-kenang dengan kehidupan orang dahulu yang serba sederhana dimana segala peralatan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan hidup sehari-hari dibuat sendiri. Tiada perlu mengeluarkan uang sehingga hidup lebih hemat dan bersahabat dengan alam. Sebab tak ada yang namanya sampah plastik pada masa dahulu.

Berlawanan dengan keadaan masa sekarang yang sangat besar ketergantungan kita kepada orang lain. Serta untuk mendapatkannya mesti dibeli. Sebagai contoh pada masa dahulu orang menggunakan gerobak kayu ang dibuat sendiri. Kini gerobak semacam itu telah hilang ditelan perubahan.

Kearifan hidup masa dahulu kalau kita renungkan sungguh indah. Namun agaknya berat bagi orang sekarang untuk melakoni.
“Sudah ada onda[5] masakan kita masih berjakan kaki. Sudah ada pesawat masakan mesti memakai unta jua pergi ke Mekah..” demikianlah kira-kira.

Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin,
Selamat Merayakan Aidil Fitri 1437 H…

______________________
Catatan Kaki:
[1] Keluarga Ayah
[2]Tempurung Kelapa
[3] Bunda dari ayah
[4] Terbuat dari bambu
[5]Motor

View on Path

Advertisements

One thought on “Gayung Tempurung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s