Rumah Puisi & Rumah Budaya

Taufik Ismail Poetry House & Fadli Zon Culture House in Aia Angek Country were located between Bukit Tinggi & Padang Panjang City in West Sumatera. Did You Know that Mr. Taufi Ismail has Adat Title from Minangkabau King? Tuanku Pujangga Diraja..

_________________________________

Telah lama kami berkeinginan hendak menengok serupa apa bentuknya Rumah Puisi taufik Ismail yang berada di Nagari Aia Angek. Nagari ini terletak diantara dua bandar yakni Bukit Tinggi (11 Km) dan Padang Panjang (6 Km). Dahulu tatkala mula dibangun (tahun 2008) kami sangatlah heran “Apalah nan hendak dibuat oleh orang di tengah sawah itu? Lain pula bentuk gonjong bangunannya?” ujar kami dalam hati. Ketika itu kami masih berulang untuk berkuliah ke Padang, dari atas bus nan kami tumpangi selalu tampak dua bangunan nan sangat mencolok itu. Nan terucap di benak kami ketika itu ialah gonjongnya yang janggal bentuknya.

Kabar nan beredar menyebutkan bahwa bangunan tersebut dibuat oleh salah seorang politikus asal Minang yang cukup berpengaruh di Jakarta. Namun nan membuat kami heran ialah sebuah papan petunjuk nan terdapat di tepi jalan nan menghubungkan Bandar Bukit Tinggi dan Padang Panjang. Papan itu memberitahukan kepada nan lalu bahwa di dalam sana terdapat sebuah bangunan nan bernama Rumah Puisi Taufik Ismail. Kami kenal dengan engku itu, seorang pujangga asal Minangkabau. Dalam hati kami bertanya dengan heran “Ada hubungan keluargakah mereka..”

Telah lama bangunan itu selesai, telah banyak pula kabar cerita nan kami dengar perihal rumah tersebut. Konon kabarnya terdapat sebuah perpustakaan di dalam sana, sebuah perpustakaan kepunyaan pujangga besar asal Minangkabau itu. Tertarik hati hendak pergi namun agak berat karena tiada kawan. Pernah beberapa bulan nan lalu berencana dengan seorang kawan hendak kesana, namun di Koto Baru – beberapa meter lagi sampai tujuan – kami didera oleh hujan lebat ditambah kawan telah menelpon pula dari kantor karena ada sesuatu perkara. Akhirnya batal, tiada jadi.

Dan pada hari itu, di hari tatkala kami kembali dari Bandar Padang menengok Si Sibiran Tulang, kami belokkan onda buruk kami ke dalam sana. Entah apa nan ada di benak kami.

Terdapat dua bangunan besar di dalam kawasan ini, satu bernama Rumah Puisi Taufik Ismail dan yang satu bernama Rumah Budaya Fadli Zon. Bangunan rumah budaya berisi buku-buku koleksi dari Taufik Ismail sang Tuanku Pujangga Diraja. Bangunan yang satu berisi benda-benda khas kebudayaan yang kemungkinan ialah kepunyaan dari Fadli Zon. Tiada dikenakan biaya masuk ke dalam kedua bangunan ini, hanya saja di rumah budaya hanya boleh sampai lantai dasar dan tiada diperkenankan mengambil gambar.

Terdapat satu beberapa bangunan lainnya di sekitar kedua bangunan besar ini yang bernama Aia Angek Cottage serta Cafe Kaki Langit. Tampaknya bangunan nan bernama “Pondok” ini ialah semacam penginapan yang disewakan. Menarik perhatian kami perihal bangunan rumah budaya ini, di sekitar bangunan yang terlihat mewah ini dihiasi dengan berbagai benda-benda seni seperti patung kerbau beserta pedati, patung dada dua orang proklamator, kawasan Kace Kaki Langit yang terlihat mewah dengan kolam ikan yang dangkal di dasarnya, dan berbagai benda-benda seni lainnya. Tampaknya kawasan ini menggambarkan jiwa pemiliknya yang sangat menggemari seni.

Ada hal lain yang menarik hati kami, para pekerja yang bekerja di kedua bangunan ini tampaknya tiada pandai berbahasa Minang. Tatkala kami bercakap bahasa Minang, lawan bicara kami bingung sambil mengeluarkan suara “Hah..” dan terpaksalah kami Berbahasa Indonesia Raya. Juga terdapat beberapa prasasti yang bertuliskan syair-syair karangan Tuanku Pujangga Diraja disini.

Ya, Tuanku Pujangga Diraja itulah gelar yang diberikan kepada Engku Taufik Ismail oleh Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau Tuanku Muda Mahkota Alam H.St. Muhamad Taufiq Thaib, SH pada tanggal 10 Januari 2009.

Gambar-gambar:

Patung pedati beserta kerbau yang khas sekali
Salah satu syair karya Tuanku Pujangga Diraja
Patung Dada Bung Hatta beserta Syair karya Tuanku Pujangga Diraja sebagai kenang-kenangan ulang tahun ke-70 Bung Hatta

 

Advertisements

5 thoughts on “Rumah Puisi & Rumah Budaya

  1. Ondeh lah lamo ambo ingin batandang ka tampek itu namun alun barazaqi. Tarimokasih ateh tulisan ko, sayang nan manjago indak pandai bahaso Minang. Manga kironyo? Ambo lamo di rantau masih nio mancubo mangecek jo bahasa minang meski agak gagap gagap. Alangkah sanang mereka tingga di rumah cantik sambia menikmati kaindahan alam ranah Minang.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s