A Family Iftar

20 Ramadhan 1437 || June 26, 2016

Iftar with father, mother, brother, and sister was beautiful memory should to remember. Ramadhan and eid become a family moment in every moslem, its some thing wrong if you dont spend itu with your family. And the memory of Ramadhan has another special thing to remember for every one, every child. 

________________________

Satu hal nan membuat anak rantau selalu terkenang ialah suasana berbuka bersama kedua orang tua, saudara, dan anggota keluarga nan lain. Seperti ungkapan hati salah seorang kawan di jejaring sosial “Terkenang semasa berbuka dahulu bersama ayah, bunda, kakak, dan adik namun sayang mereka telah menikah kini dan tinggal bersama keluarga kecil mereka..”

Masa (waktu) tiada dapat diulang melainkan dikenang saja dengan perasaan rindu dendam. Melihat kembali ke masa silam dengan bingkai masa kini apalagi nan dilihat itulah ialah sebuah kenangan nan mesra sehingga menerbitkan rindu dendam yang tiada terkira tentulah menyesakkan di dada nan memandanganya.

Bersyukurlah bagi nan masih dapat merasakan kehangatan itu. Banyak orang di luar sana yang tiada pernah mengecapnya, bersyukurlah karena memiliki kenangan nan nikmat itu. Ramadhan dan hari raya memang menerbitkan kenangan nan tiada terkira akan kehangatan keluarga dan kenyamanan kampung halaman.

Kenangan itulah nan terasa kembali, dan teringat kami bahwa kenangan ini pulalah lah nan akan kami ingat-ingat esok lusa nanti “Adakah banyak tuan makannya berbuka tadi?” Tanya isteri kami di telpon. Tergoda kami untuk menjawabnya namun hanya dijawab “Cukup banyak dinda..”

Berbuka tadi makan kami cukup nikmat, pada puasa tahun ini ada kebiasaan baru dalam keluarga kami. Setiap hari Ahad adik lelaki kami akan membeli nasi bungkus ke pasa[1]. Bandar Bukit Tinggi memiliki banyak rumah makan yang terkenal nikmat masakannya di kalangan penduduk Luhak Agam. Sebut saja Rumah Makan Simpang Raya, Gon Raya, Simpang Ampek, Family Benteng, Simpang Taluak, dan lain sebagainya.

Cukup dua bungkus saja ditambah satu samba[2] tambahan untuk dimakan oleh kami berlima. Kalau nasinya kurang maka akan ditambuah (ditambah) dengan nasi di rumah, tapi biasanya tak seberapa nasi tambuah itu. Kedua bungkus nasi itu dikembangkan di atas sebuah talam dan dimakan bersama-sama sambil duduk bersila dilapik[3] yang dikembangkan dilantai dekat meja makan.

Sungguh nikmat terasa, makan bersama antara kami sekeluarga. Sesuatu nan jarang berlaku di hari biasa. Kalaupun ada itupun sesekali saja, payah mencari waktu untuk makan bersama serupa itu. Kehangatan dan kemesraan sebuah keluarga yang patut untuk dikenang. Semoga puasa tahun depan dapat terulang kembali.

____________________

Catatan Kaki:
[1] Sebutan untuk Bandar Bukit Tinggi bagi penduduk Agam Timur yang berarti Pekan.
[2] Lauk
[3] Tikar

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s