Kisah di Ahad Petang

Tukang Rebab di Janjang Minang

On this ramadhan moon and when the Eid come closer, there are many one tray to get more money to prepare and face the Eid in 1 Syawal on Hijr Calendar. Many of they are doing, likextra job or another. But the most is number of beggars increased on this time. For this case I often amazed with the people who do a real job, not pretend to be  disable. Like this one, street musician, the  traditional music. We called it rabab or rebab (fiddle), this rebab came from Arab.

__________________________

Hari Ahad nan cerah di tengah hari menjelang petang, langit nan biru bersih, awan putih dan berakan di awang-awang, Gunung Marapi dan Singgalang yang berseri-seri karena tiada berselimutkan awan mereka. Biasanya serupa orang nan sedang sakit, berselimutkan awan sepanjang hari, berhari-hari terkadang. Matahari tengah hari sangatlah teriknya, terutama pada saat puasa ini. Sebenarnya kita di negeri tropis ini masih beruntung karena pada beberapa negara empat musim, mereka menunaikan ibadah puasa dalam waktu yang cukup lama. Walaupun demikian mereka masih tetap dengan tawakal berusaha menunaikannya.

Sebenarnya kalau kita hendak mengamati dengan baik, banyak pelajaran nan dapat kita ambil dalam setiap gerak dalam kehidupan ini. Terkadang malu sendiri diri ini dibuatnya, masih belum memberikan nan terbaik, dan masih belum pandai bersyukur. Lebih banyak menuntut dan terpaut hati ini pada dunia.

Serupa tengah hari menjelang petang hari ini di bawah Menara Jam di bandari kami, tatkala sedang bercakap-cakap dengan salah seorang engku penunggu Menara Jam ini kami mendapatkan kisah dari si engku. Kisah tersebut perihal seorang lelaki yang telah cukup tua namun masih tetap tegak badannya, beliau ialah seorang pedagang kacamata keliling yang berjualan di bawah Menara Jam ini. Ketika itu si engku penjual kaca mata di sapa oleh si engku penunggu Menara Jam ini, “Hah, engku.. kemana saja selama ini tiada tampak?”

Si engku penjual kaca mata terkejut tatkala disapa, ketika itu ia sedang asyik berjalan-jalan menjajakan dagangannya sambil menengok para pengunjung yang ramai. Namun hanya sekejap rasa terkejutnya selepas itu tatkala mata mereka beradu tatap, tersenyumlah si engku penjual kaca mata “Ah, engku.. sakit awak agak beberapa hari nan lalu. Tapi sekarang telah sihat badan awak rasanya..” menjawab si engku penjual kaca mata. Agak lama jua mereka bertukar kabar dan selepas itu si engku penjual kaca mata minta izin hendak melanjutkan berjalan.

“Dia punya kamanakan perempuan, awak punya kamanakan lelaki..” seru si engku penunggu Menara Jam sambil tersenyum.

Kamipun tersenyum “O, jadi dipertemukan saja mereka berdua itu..”

“Iya, orang Selayo[1] ia itu..” jawab si engku

Kamipun terkejut, namu mencoba jua menyenangkan hati “O, dimanakah ia tinggal di bandar ini engku?” tanya kami.

“Di Selayo ia tinggal..” jawab si engku serius.

“Hah, berulangkah ia ke bandar ini engku?” tanya kami tiada percaya.

“Iya..” jawab si engku.

Sungguh kasihan kami mendengarnya, di bulan puasa ini, orang setua itu, baru sihat dari sakit pula ia,  berjalan dari Selayo ke bandar kami naik bus. Berapa penatnyakah ia. Memang, berdasarkan keterangan nan kami dapatkan, sebagian besar pedagang keliling nan berniaga di kawasan Taman Sabai Nan Aluih ini berasal dari luar bandar bahkan dari negeri-negeri nan cukup jauh serupa Sicincin dan kini keterangan terbaru kami dari Selayo.

Sungguh pada bulan puasa terutama sekali menjelang hari raya akan sangat ramailah orang nan berusaha mencari pendapatan tambahan, kalau kami tiada salah demi menghadapi hari raya. Kami tiada pula faham kenapa demikian, namun agaknya bagi sebagian besar orang, hari raya mesti dihadapi dengan modal nan cukup besar. Terbukti ada nan namanya Tunjangan Hari Raya nan diharapkan sebagian besar pegawai (negeri ataupun swasta) di negeri ini agar cepat keluar.

Si Engku Tukang Rabab

Menjelang hari raya ini juga jumlah peminta-minta sepertinya bertambah, jumlah orang nan berjualan juga bertambah banyak pula, dan jumlah kendaraan di jalan juga bertambah ramai. Seperti nan kami hadapi kemudian selepas dari Menara Jam, tatkala melalui Janjang Minang kami mendengar suara laki-laki sedang meratap diiringi gesekan rabab (rebab). Kami terkejut, orang ramai turun dan naik di janjang tersebut sedangkan si engku Tukang Rabab tampak khusyuk dengan ratapannya, meratap sambil memicingkan mata dengan rebab digesek-gesekkannya.

Kami pandangi, masih muda ia agakany, mungkin beriringan dengan kami umurnya, namun dari manakah ia berasal? Ada tas ransel terletak di sisi sebelah kanannya sedangkan di sisi sebelah kiri ialah sebuah kantong tempat orang nan berkenan menaruhkan uang mereka. Syahdu permaiannya di petang nan cerah ini. Mungkin suara rebab itu ialah perwakilan dari suara hatinya nan sedang gundah, gundah menghadapi hari rayakah ia?

Demikianlah, pada sebagian orang sangat menanti-nantikan THR agar cepat keluar, namun tahukah kita bahwa banyak orang di luar sana yang tiada memiliki peruntungan sama dengan kita dimana mereka tiada mendapat THR dari sesiapapun. Justeru sebaliknya, merekalah nan mesti memberikan THR apabila hari raya kelak. Sungguh malu awak..

________________________________

Catatan Kaki:

[1] Selayo ialah salah satu daerah di Luhak Kubuang Tigo Baleh, berbatasan langsung dengan Kota Solok dan pada saat sekarang masuk kepada Kabupaten Solok.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah di Ahad Petang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s