Tak faham sebab tak kenal

Tiada kenal, tiada faham

Every one can called him the crazy, but for him he is not. He dont have anything to think, so he can be a health man because the disease came from the mind. You may say anything and he never care about your words, he happy, he enjoyed..

________________________________

Sudah beberapa hari ini, beberapa menit menjelang berbuka diwaktu magrib, Engku Malin akan mengaji di surau sebelah rumah dengan segala kepandaiannya. Ayah, bunda, serta adik-adik kami hanya tersenyum-senyum saja dibuatnya. Sebab kelakuan Engku Malin nan tiada biasa itu telah mereka maklumi.

Dari kedua adik serta orang tua kami, kami dapatkan kisah kalau Engku Malin telah hilang akalnya, kurang sehelai, terbalik otaknya, atau engku, rangkayo, serta encik sekalian mengenalnya dengan istilah “Gila” atau crazy kata kawan kami.

Terkejut kami sebab anak sulungnya sama gedang dengan kami, demikian pula dengan anak keduanya sama gedang pula dengan adik kedua kami. Kedua anak lelakinya itu telah kawin dan punya anak. Tatkala kami tanya penyebab hilang akalnya, nan kami dapatkan hanya kabar burung, tiada dapat dipertanggung jawabkan.

“Masih untung mengaji di surau kerjanya, kalau orang nan digaduhnya tentulah teraniaya orang kampung. Patut bersyukur kita sebab apa yang dikerjakannya itu ada baik, mendatangkan faedah. Orang yang sehat akal saja tiada pernah ke surau.” ujar kami.

Ternyata tidak hanya magrib saja, si engku juga melakukan hal yang sama dikala Ashar. Habis mengaji dia adzan dan qamat, selepas itu engku imam nan memimpin shalat ashar. Berlainan dengan magrib, tampaknya hanya dia seorang yang shalat di surau dan pada saat magrib ini pulalah beliau mendapat kesempatan menjadi imam.

Adik perempuan kami berujar “Iba juga kita dengan Engku Malin, melihat keadaan beliau nan demikian..”

Iya, iba hati melihat keadaannya nan serupa itu. Bagaimanakah perasaan anak-bininya? Kami sendiri sudah terasa, hanya kearifan orang kampung nan kami do’akan agar ada.

Ada seorang lagi urang sumando[1] di kampung kami nan keadaannya demikian, namun dengan laku nan berlainan. Kejadiannya puasa tahun nan lalu. Kerjanya ialah membagi-bagikan uang kepada jama’ah serupa orang dewasa membagikan uang kepada kanak-kanak. Ada juga ia coba memberi pengajian selepas Isya menjelang Tarawih. Mengingat keadaannya nan demikian, engku tentulah faham serupa apa pengajiannya itu. Para jama’ah tergelak beramai-ramai padahal dua orang anak gadisnya ada di surau. Sebagian jama’ah ada yang bijak nan menaruh kasihan.

Nan paling tersiksa tentulah fihak ahli keluarga, kelakuan anggota keluarga mereka itu menjadi beban fikiran bagi mereka. Namun bagi si sakit tiada merasa, tiada menjadi beban. Apa yang mereka lakukan ialah panggilan dari hati. Orang serupa itu tiada pernah mengalami sakit dan tiada memiliki beban fikiran. Badan mereka selalu sehat dan tiada pernah terpengaruh dengan penyakit yang sedang musim. Mungkin itu pulalah hikmahnya bagi mereka.

Demikianlah salah satu kisah dari kampung kami di bulan puasa tahun ini[2]. Bagaimana pula kisah di kampung engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Selamat menikmati berbuka puasa..
______________________
Catatan Kaki:
[1] Istilah untuk para suami
[2] 1437 H

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s