Negeri di lereng gunung

Kantor Wali Nagari Sungai Pua

Sungai Pua Village located in the waist of the mount Marapi, or more or less 10 Km from Bukit Tinggi City. From this village we can see the Agam Valley.

_____________________________________________________________________

Dahulu semenjak kanak-kanak, apabila kami dibawa bermain ke hadapan Jam Gadang oleh ayah-bunda, acap mata kami ini terpaku kepada benda yang berkelap-kelip di pinggang Gunung Marapi. Tatkala kami tanyakan kepada ayah, beliau menjawab “Itu ialah atap rumah orang buyuang..”

Kami terkejut “Adakah orang buat rumah disana ayah?” tanya kami penasaran bercampur kagum.

Bertahun-tahun kemudian apabila berada di bawah Jam Gadang kami acap terpaku memandang ke pinggang Gunung Marapi nun jauh disana. Apabila malam, kerlap-kerlip lampu mehimbau-himbau[1] dan tatkala siang hari pantulan sinar matahari di atap rumah penduduk nun jauh disana merayu-rayu kami supaya cepat datang.

http://i1002.photobucket.com/albums/af143/shah27/Sungai%20Pua%2012_zpsbn2t2vod.jpg?t=1465522851

Setelah kami tanya-tanya, rupanya nama kampung yang ada di sana ialah Sungai Pua atau lebih tepatnya Nagari Sungai Pua[2]. Nagari ini sangat terkenal sekali dengan kepandaian anak nagarinya mengolah logam, berbagai alat pertukangan didatangkan dari nagari ini. Selain pandai mengolah logam nagari ini juga terkenal sebagai salah satu penghasil sayuran di Luhak Agam. Letaknya yang berada diketinggian menyebabkan hawa udara disini sangatlah sejuk dan tumbuhan serupa wortel, lobak, seledri, bawang perai, dan lain sebagainya sangatlah gemar tumbuh di daerah sejuk serupa itu.

Dahulu semasa kanak-kanak, tatkala kami masih bersekolah di sekolah SD, terdapatlah seorang engku-engku penjual es yang disimpan dalam dua termos besar berbentuk tabung. Tabung termos tersebut diletakkan di belakang Kereta Ontanya[3], dengan membuat tempat khusus di sadel bagian belakang, terkadang muat sampai empat tabung dibawanya. Si engku sering berteriak-teriak menawarkan dagangannya kepada anak SD serupa kami ini “Es Singapur.. es Singapur..” demikian katanya.

Dalam hati kami terkejut “Hebat es yang dijual engku itu, dari Singapur tahan dan tiada meleleh sampai di kampung awak ini..”

Salah seorang kawan kami terkekeh “Percaya pula engkau itu? Sungai Pua maksud engku penjual es itu. Diolahnya (diplesetkan) menjadi Singapur..”

Kalaulah hari cerah dan tiada berawan, akan tampak Lembah Agam itu pada gambar ini

Tidak hanya di kampung kami melainkan di Pasar Bukit Tinggi juga ramai orang menjual Es Singapur itu, kalau tidak membawa kereta maka akan dijinjinglah termos berbentuk tabung besar itu. Ada yang sanggup menjinjing sampai empat tabung namun ada jua yang hanya dua. Biasanya yang membawa dua tabung ialah pedagang kanak-kanak. Es itu bermacam-macam warnanya, terkadang sudah habis manis dan warnanya itu namun esnya masih tinggal namun bewarna putih saja lagi.

Demikianlah, dengan pandirnya kami menyangka kalau Sungai Pua itu ialah nagari penghasil Es nan sangat digemari oleh kanak-kanak di Luhak Agam ini. Pada masa sekarang es itu tiada tampak oleh kami dijual orang..

Kenangan tersebut masih tersimpan dengan baik hingga kini, ditambah lagi semakin banyak keterangan nan kami dapatkan perihal Nagari Sungai Pua membuat kami semakin berkeinginan untuk mendatangi nagari itu. Akhirnya kesempatan baitu itu tiba pada Jum’at  hari ke-5 puasa pada Ramadhan 1437 H ini. Kawan kami Katik Rajo Agam membawa kami menziarahi nagari tersebut.

Sungguh sangat cantik dan menawan pemandangan di sepanjang jalan menuju Nagari Sungai Pua. Banyak rumah-rumah bagus peninggalan zaman kolonial di nagari ini, dan rata-rata setiap rumah tersebut mencantumkan tanggal dibuat pada bagian fasadnya.[4] Ada yang hanya menggunakan penanggalan masehi saja namun ada jua yang menggandengkan penanggalan hijriayah dengan masehi. Sungguh cantik dan makmur orang kampung ini dahulunya.

Nagari Sungai Pua ini sangatlah luasnya, dari bawah hingga ke pinggang Gunung Marapi dan kesemuanya dilalui dengan jalan yang mendaki. Sungguh salut kami kepada orang Sungai Pua yang hidup pada zaman dahulu, betapa kuat, tangguh, sabar, ulet, dan keras hati mereka dalam menjalani kehidupan ini. Belum ada kendaraan bermotor, kesemuanya mesti dilalui dengan berjalan kaki.

Berdasarkan pengamatan sementara kami, tampak bahwa penduduk Sungai Pua dibagian bawah (kaki gunung) memiliki usaha dan kepandaian mengolah logam sedangkan yang berada di pinggang bukit memiliki usaha bertani sayur-sayuran. Dan usaha mereka ini telah memberikan berkah kemakmuran kepada penduduk Sungai Pua, banyak rumah yang bagus-bagus kami dapati. Kawan kami berujar “Rumah nan rancak itu engku..” ujarnya sambil menunjuk kepada salah satu rumah nan bagus “ialah kepunyaan salah seorang pembuat talempong. Dahulu rumahnya biasa-biasa saja. Kini telah berjaya ia..”

Salah satu bukti kuat kalau nagari ini makmur ialah kantor Balai Nagari mereka yang sangat megah dan indah. Kalau kami bandingkan dengan kantor balai nagari di kampung kami sungguh kalah jauh kami. Di hadapan kantor balai nagari ini juga terdapat tanah lapang atau medan nan bapaneh. Sungguh sangat mantap sekali orang Sungai Pua ini, pandai menata nagari mereka. Memang serupa ini semestinya, di dekat kantor pemerintahan mesti ada lapangan terbuka tempat orang melaksanakan kegiatan serupa upacara bersama.

Katik Rajo Agam terus membawa kami menuju ke pinggang gunung, onda metiknya telah meraung-raung menggenaskan. Sampai pada satu jalan diputuskannya untuk balik sebab pendakian tampak begitu terjal dan ondanya itu tiada sanggup membawa kami berdua. Kami putuskan untuk turun dan berjalan menyusuri jalan nan terjal itu adapun dengan kawan kami Katik Rajo Agam mendaki jalan terjal itu dengan ondanya. Sungguh melawan puasa kami dibuatnya, pandangan mata ini berkunang-kunang karena kekerasan hati sajalah nan membuat kami terus bertahan.

Salah satu rumah lama

Semakin ke atas, maka pemandangan akan semakin menakjubkan. Namun sungguh sayang sebab hari pada Jum’at ini berawan sehingga pemandangan ke bawah tiada jelas. Kalaulah seandainya bersih maka akan tampaklah oleh kita pemandangan Lembah Agam nan menakjubkan itu. Perak-perak[5] sayur milik penduduk, atap rumah yang sudah mulai berkarat itu menambah kencantikan nageri ini. Sungguh beruntung orang Sungai Pua, alam nan permai serupa ini sangat patut untuk dijaga dan dipelihara sebab inilah yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita kelak.

Sesungguhnya nagari ini menyimpan pesona lain, yakni sebuah air terjun yang terkenal di Luhak Agam dengan nama Air Terjun Badorai. Namun di sepanjang jalan di pendakian tadi kami mendapati spanduk bertuliskan kalau tempat pelancongan itu ditutup untuk umum. Setelah kami tanya-tanya kepada salah seorang penduduk, rupanya penyebab ditutup ialah ulah para pelancong yang ketahuan berbuat maksiat di tempat tersebut. Sekitar setahun nan silam sepasang remaja diarak keliling kampung bertelanjang ria karena ketahuan berbuat zinah. Itulah penyebabnya kenapa sampai ditutup, memang demikianlah semestinya jangan sampai hanya karena demi pelancongan akhlak anak nagari menjadi tergadaikan.

Kekaguman kami pada nagari ini semakin bertambah tatakala bersua dengan seorang petani perempuan, dengan santainya berjalan menuruni lereng gunung ini sambil menjunjung hasil peraknya di atas kepala. Jalan cukup cepat dan stabil, agak payah kami ini mengiringinya, umurnya mungkin sekitar awal limapuluhan atau akhir empat puluhan. Ada juga seorang perempuan yang masih asyik di peraknya tatkala kami mengambil gambar, bahkan kami berdua sempat ditawari untuk membawa hasil peraknya untuk dimasak sebagai menu berbuka puasa nanti.

Demikianlah kenangan kami di Nagari Sungai Pua, berniat kami akan datang ke sini suatu masa kelak, terutama di hari yang bersih supaya kami dapat memandangi Luhak Agam ini dari atas pinggang Gunung Marapi.

_____________________

Catatan Kaki:

[1] Memanggil-manggil

[2] Ditulis dalam Bahasa Indonesia menjadi Sungai Puar, semenjak Orde Baru sangat lazim dan hampir terjadi menyeluruh di Minangkabau ini seluruh nama tempat dibahasa Indonesiakan. Namun kini – walau terlambat – kesadaran untuk menjaga jati diri kembali tumbuh walau payah mengubah nama yang telah masuk database pusat itu.

[3] Sepeda Ontel

[4] Merupakan istilah dalam Arsitektur. Fasad (bahasa Perancis: façade, dibaca [fəˈsɑːd]) adalah suatu sisi luar (eksterior) sebuah bangunan, umumnya terutama yang dimaksud adalah bagian depan, tetapi kadang-kadang juga bagian samping dan belakang bangunan. Kata ini berasal dari bahasa Perancis, yang secara harfiah berarti “depan” atau “muka“. Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi: https://id.wikipedia.org/wiki/Fasad.

[5] Kebun

___________________________________

Tambahan Gambar [More Picture About Sungai Pua Village]

  1. Luhak Agam nan Berkabut
    Luhak Agam nan berkabut, tampak kaki Gunuang Singgalang di sebelah kiri. Gambar ini diambil di lahan perak di kawasan yang bernama Limo Kambiang d Nagari Sungai Pua

     

  2. Salah satu Rumah Tua yang bertahunkan 1940
    Salah satu rumah tua dari zaman kolonial. Tampaknya telah dipercantik oleh yang punya. Ada mereka villa, apakah rumah ini disewakan?

     

  3. Tanah Lapang atau Medan nan Bapaneh atau orang di Jawa menyebutnya dengan Alun-Alun
  4. Seorang petani perempuan yang baru pulang dari peraknya di atas bukit

     

  5. Salah satu kebun sayur yang terdapat di pinggang Gunung Merapi pada sebuah bukit. Pemandangan sungguh permai dari atas sini

    Salah satu kebun sayur
  6. Kita tentu acap mendengar perihal Sawah Berjenjang, kini kami dapati Perak Berjenjang

    Perak-perak sayuran di lereng gunung marapi
  7. Dahulu semasa bekerja di Bandar Arang kami acap merasa kagum dengan kehebatan para pembuat menara telfon seluler. Sampai ke puncak bukit mereka tegakkan menara itu.

    salah satu menara telpon selluler yang terletak cukup tinggi
  8. Salah satu rumah yang dibangun di masa kolonial, tampak rumah ini telah mengalami perbaikan terutama atap yang terlihat masih baru.

    Salah satu rumah yang berasal dari zaman kolonia. Pada fasad rumah terdapat tulis 1939
  9. Betapa permainya pemandangan dari atas sini. Tempat kami mengambil foto dikenal dengan nama Limo Kambiang

    Perak-perak sayuran
  10. Kabut tipis, apabila kami memandang dari bawah maka Gunung Marapi nan tampak berkabut. Namun apabila kami pandangi dari atas sini, justeru Lembah Agam itu nan berkabut.

    Lagi-lagi kabut nan menghambar pemandangan kita..
Advertisements

One thought on “Negeri di lereng gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s