A L O N E I N H E R E

Together we hold the hand

“Entah kenapa orang sekarang, begitu mudahnya berkeputusan cerai. Awak kalau dapat selalu berkumpul bersama. Serupa nan etek alami sekarang duhai sutan, terasa betapa butuhnya kita selali bersama..” terkenang-kenang oleh St. Rajo Basa perbincangan terakhirnya dengan etek isterinya. Di dalam adat di Minangkabau, etek dari isterinya disebut mertua juga.

Terkenang-kenang oleh St. Rajo Basa ucapan mertuanya itu tatkala dahulu mereka bercakap-cakap. Kini sedih hatinya sebab baru saja mendapat kabar kalau Dt. Marajo telah dahulu, berpulang ke rahmatullah. Datuk itu ialah suami dari etek isterinya, telah beberapa masuk-keluar rumah sakit dikarenakan penyakit jantung. Ketika berbincang-bincang dahulu dengan mertuanya itu, suaminya baru keluar dari rumah sakit untuk ketiga kalinya.

Terkenang pula olehnya akan ucapan mertuanya itu tatkala dia mengeluh bahwa darahnya masih panas, ada beberapa perkara yang tiada dapat dimaafkannya “Biasa itu sutan, awak masih muda, mestilah demikian. Jangan ditahan melainkan dilepas, kalau ditahan akan menjadi penyakit ia, serupa pak etek itu..”

“Pak etek amatlah penyabar dan pendiam orangnya. Apapun yang dihadapinya ia akan selalu tenang, seperti apapun perlakuan yang didapatnya dia akan tetap diam. Hanya dari air muka dan raut wajahnyalah etek dapat tahu kalau telah terjadi sesuatu hal. Payah etek membujuk pak etek untuk bercakap, barulah menjelang tengah malam di peraduan ia bercerita..” kisah mertuanya.

Demikianlah, akhirnya karena banyak menahan hati, jantungnya yang menanggung akibat. Apalagi sebagai seorang datuk ia mesti banyak bersabar dan berlapang hati. Sangatlah terpantang di Minangkabau ini seorang datuk marah, meninggikan suara, menepuk meja, dan membelalakkan mata.

Sebenarnya tatkala menelpon mertuanya dua hari menjelang puasa, hatinya telah berdetak bahwa ada sesuatu nan tiada baik. Baru pada hari kedua puasa ini ia mendapat kabar buruk itu dari isterinya lepas tengah hari.

Kini, sang mertua mesti membesarkan ketiga anaknya sendirian. Seorang bujang jolong gedang, nan dua orang lagi gadis kecil menjelang gedang. Terkenang olehnya ucapan mertuanya dahulu “Senang dan ringan rasanya apabila anak kita besarkan bersama suami..”

Tsalasa, Hari ke-2 Ramadhan 1437 H – at Pintu Koto, Kamang Hilia, Bukittinggi – Agam

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s