The Strong Old Man

Engku Abdullah (73th)

Just try to make some work on his old age. Walking around the city, just for Saturday, with take this stuff on his shoulder. He brought tree, two has sold out.

__________________________

“Pernahkah engku melihat seseorang yang tengah berada dalam kesusahan dan kepayahan? kemudian terbit rasa iba dan kasihan, namun tiada memiliki daya untuk menolong? Entah kenapa badan tiada dapat digerakkan, padahal pandangan sudah tertuju kepada Si Malang itu. Kaki ini terus saja melangkah, berlalu begitu saja, dengan dihantui rasa sesal nan tiada terkira..” demikianlah tanya kawan St. Malenggang kepada kami petang ini.

Entah angin apa yang membawa dia bertandang ke rumah orang tua kami petang ini, mungkin angin ribut karena petang hari ini angin berhembus amat kencang. St. Malenggang mengisahkan pengalamannya hari ini, tatkala pulang dari Pasa[1] St. Malenggang terjebak macet maka kemudian dia memutuskan untuk mengambil Jalan Mancik[2]. Maka lalulah ia pada salah satu kawasan di bandar kami, cukup lengang, lebih menyerupai perkampungan dari pada sebuah bandar.

Tatkala sedang asyik-asyiknya menikmati kesunyian lepas tengah hari nan panas berdengkang itu, tiba-tiba ia bersua dengan seorang engku tua yang sedang memikul tempat jemuran kain yang terbuat dari kayu. Pada salah satu tiang tempat jemuran itu tergantung dalam asoi[3] sebuah botol air mineral ukuran menengah serta sebuah pipet. Si engku tampak berjalan agak kepayahan.

Terkejutlah kawan kami ini, kebetulan sekali orang lengang dan entah dari mana, terbit keinginan pada kalbunya untuk memberi uang kepada si engku serta mengambil gambarnya untuk kenang-kenangan. Beberapa meter di hadapan St. Malenggang berhenti, hendak mengambil gambar ia, tapi tiada jadi karena ada orang lalu dengan onda[4] dan oto[5] maka ia nantilah agar kembali lengang namun sudah terlambat. Tiada suka ia menjadi perhatian karena mengambil gambar seseorang, tiada suka ia mendapat tatapan tiada menyenangkan.

Akhirnya lalu jualah si engku tua tanpa sempat ia ambil gambarnya, tatkala si engku mendahului dirinya yang sedang berhenti segera ia bertanya kepada si engku “Berapakah tempat jemuran ini satu engku..?”

Karena mendapat tanya, si engkupun berhenti “empat ratus sebelas ribu engku..” jawab si engku tua.

Ketika si engku baru saja selesai meletakkan jemuran kain tersebut di tanah dan menghadap kepada St. Malenggang, segera ia salami si engku tua yang rupanya bernama Abdullah itu “Ini untuk engku, maaf awak tiada dapat membeli tempat jemuran kain engku itu..” sambil menyelipkan uang pada tangan yang bersalaman itu.

Engku Abdullah terkejut, sambil tersenyum ia mengucap “Alhamdulillah, terima kasih engku..” demikianlah, akhirnya mereka bercakap-cakap sampai rokok yang dibakar oleh St. Malenggang semenjak permulaan percakapan habis. Pandai St. Malenggang mencari tempat, dia berhenti di hadapan sebuah rumah yang di pekarangannya ada batang kayunya sehingga mereka terlindungi oleh bayangan batang kayu tersebut.

Engku Abdullah rupanya bukan orang Minang melainkan orang Betawi yang telah datang merantau ke Bandar Bukit Tinggi kami ini semenjak tahun 1960-an. Kini umurnya telah 73 tahun, semenjak datang ia menyewa sebuah rumah di kawasan Tembok, hingga kinipun masih menyewa. Dari cara berbicara beliau masih terpakai logat Betawi, namun St. Malenggang tetap saja memakai Bahasa Minang. Engku Abdullah tinggal bersama isteri, beliau memiliki tiga orang anak yang kesemuanya lelaki. Yang satu merantau ke Rengat, yang satunya berdagang di Padang, dan yang seorang tinggal di bandar ini menjadi tukang ojek.

Tempat jemuran kain yang sedang dipikulnya pada awalnya berjumlah tiga buah, dua buah sudah habis terjual. “Tak terbayangkan oleh awak beliau membawa tiga buah tempat jemur kain itu engku, membawa nan satu ini sudah kepayahan beliau tampak oleh kami..” ujar St.Malenggang.

Engku Abdullah mulai berjalan semenjak pukul sepuluh pagi tadi dari rumahnya di Tembok. Tempat jemuran kain ini ialah buatan tangan beliau, “Kami sangat tertarik sekali dengan tempat jemuran kain tersebut karena kebanyakan nan kami dapati ialah yang terbuat dari alumunium..” ujar St. Malenggang “Dalam sepekan, Engku Abdullah dapat membuat tujuh tempat jemuran..” lanjut kawan kami ini.

Beliau hanya berdagang sekali sepekan saja yakni setiap hari Sabtu, mungkin karena badan sudah beranjak tua jua. Apabila berjualan beliau berjalan berkeliling bandar kami ini, bahkan pernah pula ke luar bandar seperti ke Tanjuang Alam arah ke Baso. Tiada memakai kendaraan melainkan berjalan kaki saja. Salah seorang anaknya pernah menegah[6] namun beliau berkeras “Untuk apa saja awak duduk-duduk di rumah, biarlah awak bekerja..” demikianlah pembelaan beliau.

Mendengar hal nan satu itu hati kami kembali disayat sembilu, terkenang dengan Almarhum Nyiak Aki kami. Dahulu semasa beliau hidup kami melarang beliau bekerja karena badan beliau telah lemah. Sungguh, niat kami baik dan keputusan kami tersebut ialah karena kami sangat sayang akan beliau. Tiada hendak melihat beliau terluka, terjatuh, atau bahkan pingsan di dalam perak yang akan membuat beliau bertambah sengsara. Namun sebenarnya dengan melarang beliau bekerja itulah nan membuat beliau sengsara nan sebenarnya.

Kalaulah boleh bercakap “kalau”, kalau dahulu kami lebih arif, lebih bijak, dan mengetahui perkara remeh-temeh serupa ini. Tentulah nyiak aki kami tiada akan semenderita itu menjelang akhir hayatnya. Sungguh kami telah berbuat aniaya terhadap orang nan teramat kami sayangi itu.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan melapangkan kubur beliau, Amin..

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Bukit Tinggi sering disebut dengan sebutan “Pasa” oleh masyarakat Agam Timur. Terjemahannya ialah Pekan.

[2] Jalan Tikus

[3] Kantong plastik

[4] Motor

[5] Mobil

[6] Melarang

Advertisements

One thought on “The Strong Old Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s