Apabila puak telah berkumpul

Pernahkah tuan menghadiri suatu majelis dimana sekalian puak di Tanah Melayu ini berkumpul? Bagaimanakah kiranya suasananya?

Telah beberapa kami seberangi Pulau Perca ini, bersua dengan orang-orang dari berbagai negeri di republik ini. Telah kami rasai. Dan baru-baru ini kami mendapat kesempatan menghadiri majelis yang isinya orang Sumatera semuanya. Berlainan pula rasanya.

Walau Bahasa Melayu masih terasa dalam percakapan, namun logat daerah masing-masing sangat terasa. Di telinga kami nan agak pekak ini sangat indah terdengarnya. Nan menarik minat kami ialah logat orang Aceh yang terdengar sangat mirip dengan logat orang Semenanjung. Nan membedakan ialah beberapa kosa kata khas Indonesia yang masih terbawa.

Selain itu logat orang utara (karena majelis ini diadakan di utara) sangat domiman. Tak hanya orang utara nan menggunakannya, orang-orang di luar daerah utara juga menggunakannya. Bahkan fasih pula. Terdengar indah dan menggembirakan, apalagi dihiasi dengan berbagai senda gurau yang diperlucu oleh logat masing-masing.

Berbagai macam tingkah laku serta logat daerah membuat suasana menjadi semarak. Kalaulah majelis ini diadakan setiap tahun (sebaiknya dengan tema yang berlainan) tentulah rasa persaudaraan antara orang Sumatera (Melayu) akan semakin kukuh.

Ada beberapa kisah nan kami alami, mungkin tiada berkaitan dengan tulisan kali ini namun patut untuk dikisahkan. Beberapa tahun nan silam kami pernah berjalan ke Tanah Semenanjung. Tatkala di bandara di bandar kami kami disangka orang Semenanjung. Tersenyum saja kawan-kawan mendapatinya. Tatkala tengah berada di Tanah Semenanjung orang-orang disana juga menyangka kami orang sana. Setelah bercakap baru mereka tahu kalau kami orang seberang.

Kemudian beberapa bulan nan silam kami bertandang pula ke ibu kota negara. Di dalam kereta api kami bercakap-cakap dengan seorang engku. Ia bertanya “Tuan ini dari Sumatera?”

“Iya tuan, bagaimana tuan sampai tahu?” Tanya kami penasaran.

Orang itu tersenyum “Dari logat tuan, makanya saya tahu..” kemudian dia melanjutkan “Tuan dari Acehkah?” Terkanya.

Kami terkejut dan langsung tersenyum “Tidak tuan, awak ini dari Minangkabau..” jawab kami.

Dan di bandar utara nan kami kunjungi seorang engku bertanya kepada kami “Tuan dari mana?”

“Dari Minangkabau tuan..” jawab kami.

“O,. Orang Jawakah tuan ini?” Tanyanya balik kepada kami.

Kamipun tersenyum “Tidak tuan, orang Minang awak ini..” jawab kami.

Demikianlah pengalaman kami. Sungguh sangat berharap kami agar anak-anak Melayu dapat berkumpul kembali pada suatu masa kelak.

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s