Pak Kari Pergi ke Bandar

Pemandangan dari puncak bangunan pasar mewah

Terkenang dengan Kisah Pak Kari pergi bertualang ke Singapura. Dahulu kisah itu kami baca pada buku pelajaran Bahasa Indonesia tatkala kami masih bersekolah. Hanya saja kami lupa apakah semasa bersekolah SD, MTs (SMP), atau SMA. Nan terakhir kami ragu, kemungkinan tiada mungkin di SMA.

Kisah itu menceritakan lelaki udik bertandang ke bandar besar serupa Singapura. Masa itu amatlah mudah masuk ke Singapura tiada serupa sekarang. Kisahnya lawak namun menurut kami menohok orang-orang pandir yang gemar bersikap berlagak pintar.

Dan kisah itulah nan kami dapati pada diri ketiga orang udik ini. Datang ke bandar besar dengan penuh ketakutan dan cemas akan perbuatan manusia sekarang. Kena culik, kena rampok, kena tikam, kena hantam dan berbagai fikiran nan buruk-buruk lainnya. Namun nan mereka perlihatkan ialah sikap nan berlainan, tiada hendak mereka dikatakan orang udik.

Demikianlah, namun walau demikian orang udik sebenarnya ialah orang nan paling jujur dan bersih hatinya. Tiada prasangka pada mereka, tiada maksud jahat, tiada pula udang dibalik batu. Berlainan dengan orang nan tinggal di bandar.

Mereka acap menjadi cemoohan bagi orang bandar, yang banyak kita dapati pada cerita roman, kisah sinetron, ataupun pada filem. Mereka dianggap pandir, terbelakang, tidak terdidik, atau belum tercerahkan. Demikianlah, orang bandar acap bercakap perihal pluralisme, menghargai perbedaan dan tiada boleh menghakimi. Namun anehnya merekalah nan paling suka menilai orang lain dengan sombong dan kemudian menghakimi. Siapakah sebenarnya nan patut untuk diajari, siapa sebenarnya nan terkebelakang, serta patut untuk dicerahkan?

Demikianlah orang udik, acap direndahkan, menjadi cemoohan, dan menjadi bahan tertawaan. Namun orang udik inipun sesungguhnya banyak pula macamnya. Ada yang sebenar lurus dan tampil apa adanya, ada pula nan pura-pura berlagak menjadi orang bandar, dan pura-pura pintar. Orang serupa inilah nan acap menjadi cemoohan karena logat bahasa serta pembawaan seseorang itu tiada dapat dibohongi.

Adapun dengan ketiga orang ini memutuskan masuk ke mall. Terkejut mereka dengan “pasar” nan bersih serta mewah ini. Banyak pula perempuan molek berkeliaran di dalam. Kalau serupa ini pasar di kampung mereka, tentulah akan cantik. Namun hal tersebut tiada mungkin, perempuan nan membuka aurat tiada dibenarkan, serta takkan sanggup orang kampung membayar sewa di pasar. Apalagi sampai dibuatkan eskalator dan elevator, berapa abadkah modal itu akan kembali?

Di dalam mall ini mereka tersesat dan tiada tahu jalan keluar. Untuk mencari jalan keluar mereka bertanya dahulu kepada orang yang sedang mendorong tempat sampah dan laki-laki berbaret biru. Sesampai di luar mereka hendak masuk lagi namun tiada boleh oleh penjaga “Lebih sejuk di dalam tuan, biarlah kami disini saja dahulu..” mana boleh, sudah hendak tutup.

Tatkala makan mereka terkejut pula karena banyaknya jenis makanan yang dijual pada daftar menu. Padahal di kampung mereka makanan itu hanya satu jenis, sambal (lauk)nya yang banyak serta tiad daftar menunya. Mereka juga terkejut melihat harganya, dan terkejut pula melihat rupiah mereka cepat sekali berkurang. Buah tangan belum dibeli dan kawan perempuan yang mereka ikuti rupanya lebih berminat belanja baju, tas, perhiasan imitasi, sandal, dan sepatu.

Demikianlah, pelajaran bagi mereka bahwa bandar itu panas dan kampung mereka sejuk, semua barang mahal di bandar tiada serupa di kampung, kalau bermalam hendaknya menghubungi penjaga pasar mewah (mall) untuk minta izin supaya mereka dapat bermalam di tempat sejuk itu. Kalau orang asing, baiknya pura-pura bisu sebab kalau tidak, bisa dimahalkan segala harga. Kalau hendak berjalan berpesiar, jangan bergabung dengan rombongan Kaum Hawa, makan hati tuan nanti dibuatnya. Terakhir, lepas Isya, bandar masih ramai berlainan dengan kampung mereka yang telah lengang tatkala malam telah tiba.

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s