Where am I

Where am I

Sungguh tiada disangka, tiada pula mengira sebelumnya. Setelah hampir enam belas tahun kami tinggalkan, kini mesti dijalani kembali. Berniat hendak mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia politik. Namun nan didapati ialah kakak-kakak nan tiada kami kenal.

Pertanyaan kami dari dahulu ialah “Kenapa mereka mesti dipanggil dengan kakak?” Kalau di kampung kami, “kakak” itu ialah panggilan untuk perempuan sedangkan lelaki dipanggil”tuan”. Namun dalam perkara ini, lelaki dan perempuan dipanggil kakak.

Syukur-syukur kalau nan lebih muda memanggil kakak, ini engku-engku dan rangkayo yang kemungkinan sudah memiliki cucu nan memanggil kakak. Serasa tua benar badan ini rasanya.

Kata orang “Setidaknya engkau pernah menginjakkan kaki di Bandar Medan itu, engkau tengok negeri orang..” iya benar, orang udik serupa kami mana pernah memiliki kesempatan menziarahi berbagai negeri. Niat ada, kesempatan tiada dapat.

“Panas itu jalan ke luar..” seru hati kecil kami. Iya, berebut dan beradu kelihaian. Kalau tidak ya tunggu keberuntungan nan menghampiri. Serupa kami ini, entah kenapa nama kami nan difikirkan oleh induk semang. Akhirnya, disinilah kami, di utara.

Kami hanya dapat berdoa semoga hati dan fikiran kami dibuka untuk menerima segala pengajaran selama beberapa hari ke depan.

– at BP-PAUDNI Regional I

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s