The Kids and their act..

Mother & Doughters

Kanak-kanak itu menyenangkan, wajah mereka memancarkan keteduhan, perangai mereka menggambarkan kebersihan jiwa. Tiada yang ditutup-tutupi, tiada pula kepura-puraan. Semua yang mereka perlihatkan ialah kejujuran, tiada dusta, yang ada ialah kepolosan.

Pabila mereka marah, tiada garang nan diperlihatkan, sebaliknya kelucuanlah nan terasa. Pabila mereka menangis dengan cepat rasa iba menyusup ke dalam kalbu. Apabila mereka meraung, merintih jiwa ini dibuatnya.

Terkadang gemas hati ini melihat kelakuan mereka. Apalagi oleh ayah-bunda si anak dibiarkan saja. Tak pandai mereka mengajari “Kanak-kanak kan belum berakal..” pendirian mereka.

“Karena belum berakal itu makanya diajari supaya berakal..” kata engki datuk.

Namun mereka berkeras hati “Awak nan punya anak, orang lain tak usah ikut campur..”

Sesungguhnya pada orang terdahulu terdapat kearifan dalam mengajari anak “Kami lecut kalian dengan rotan, kami nan melecut inilah nan paling sakit merasakan..”

Namun orang zaman sekarang berkebalikan, anak tiada boleh dikerasi apalagi dilecut dengan rotan. Makanya banyak dari mereka yang tiada tahu diuntung, tiada pandai menghargai sesama, dan menghormati nan lebih tua. Bagi mereka orang sama gedang semuanya, tiada kenal mereka dengan Kato Nan Ampek[1].

Ada yang lebih mencengangkan, apabila engku atau encik guru di sekolah memarahi atau mencubit atau bahkan melecut. Maka engku atau encik guru itu akan dapat kena hukum oleh pengadilan. Sebab pada masa sekarang sudah ada HAM.

Kenalkah engku, rangkayo, serta encik sekalian dengan Si HAM itu? Perkenalkanlah kepada kami, supaya lepas rasa penasaran kami. Hebat nian dia sampai hukum ditaklukkannya..

Demikianlah, nan baru kami perbincangkan ialah perkara kanak-kanak nan sudah besar. Rasa hendak dihantamkan meja nan berat ini ke muka mereka. Adapun dengan kanak-kanak nan masih belum berakal, sungguh sangat menarik hati menonton perangai mereka.

Sebuah rumah akan menjadi semarak dengan suara dan kelakuan mereka. Hidup rumah itu rasanya, hilang segala kemuraman. Sepanas-panasnya hati apabila telah melihat air muka mereka akan tenang jua hati ini dibuatnya.

Patutlah dalam agama kita dikatakan kanak-kanak itu ibaratkan kertas kosong. Masih putih, masih bersih, masih suci. Orang dewasa nan hidup bersama merekalah nan akan menentukan goresan seperti apa yang akan mereka torehkan di jiwa sang anak. Ibarat kata orang buah jatuh tak jauh dari batangnya dan seiring dengan itu ada pula ungkapan nan berbunyi: bergaul dengan penjual minyak wangi maka awak akan ikut terkena harumnya. Bergaul dengan penjual bangkai maka baunya akan menular kepada yang mempergauli.

Sibiran Tulang, apa kabar engkau kini?


– at Pintu Koto Kamang Magek

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s