House in the Island

The Island

Apabila tuan pada suatu ketika berkesempatan berpesiar ke kampung kami, cobalah keluar dikala hari masih pagi atau petang. Niscaya akan tuan nikmati alam negeri kami nan permai. Apabila elok langkah tuan dikala pagi maka akan tersua dengan embun nan masih menyelimuti.

Lahan persawahan nan luas ditingkahi oleh guguak – demikian orang kampung kami menyebutnya – serta apabila besar dan luas ia akan tumbuhlah beberapanbatang kelapa disana. Kalaupun tidak oleh batang kelapa maka batang pohon nan lain akan menyemarakkan guguak itu.

Ada pula orang mendirikan rumah disana, entah bagaimana cara mereka mendapatkan air dan listrik. Apabila lebih luas maka akan tampak beberapa rumah berbaris sanding-menyanding apabila dipandang dari kejauhan. Sungguh sedap di pandang mata.

Kami berkeinginan sekali hendak memiliki sebuah rumah di atas “pulau” itu, cukup rumah kami saja, tiada hendak ada rumah orang lain. Di sekeliling ialah lautan persawahan, hadapan, belakang, samping kiri dan kanan. Ah, alangkah nikmatnya.

Hanya kami, ketenangan itu. Desauan angin, kicauan buruk, keciprak air, suara petani yang sedang bersenda gurau, suara itik yang sedang dihalau pulang, dan sapaan sang kerbau yang sedang asyik bergulimak lumpur.

Bagaimana menurut tuan?

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s