Keluarga Tukang Rebab

Keluarga Tukang Rebab
[Saturday, Mei 07, 2016]

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kami mendapati, namun ini kali pertama kami mengambil gambar mereka. Ayah, ibu, dan dua orang anak lelakinya. Kami perkirakan si sulung berumur sekitar 7-9 tahun sedangkan si bungsu berumur sekitar 1-3 tahun.

Sedih bercampur kagum kami, disaat orang-orang asyik bersenang-senang melancong menghabiskan libur panjang. Mereka anak-beranak sibuk mencari rupiah untuk menambah bekal hidup keluarga mereka. Sama kiranya dengan kami petugas di tempat pelancongan, petugas kebersihan, petugas keamanan, petugas kesehatan, dan berbagai jenis pekerjaan lain nan mengharuskan tetap bekerja di hari libur.

Kami akan sangat geram sekali apabila ada orang nan mengaitkan hal ini dengan HAM, mempekerjakan anak di bawah umur. Dahulu kamipun acap membantu ayah-bunda menjaga kedai kami di kampung. Disaat kawan-kawan seumur asyik bermain kami mesti melayani pembeli nan banyak tingkah. Tiada penyesalan, karena kami bangga telah ikut membantu meringankan beban ayah-bunda.

Ramai orang tegak-tegak menonton permainan rebab keluarga ini. Si ayah menggesek rebab, si ibu memainkan alat musik – yang kami tiada tahu namanya, maklumlah bukan pemusik -, sedangkan si sulung memainkan gendang. Adapun si bungsu dibiarkan duduk-duduk atau berjalan kesana-kemari. Maklumlah masih kanak-kanak.

Pada suatu ketika si bungsu bermain agak jauh, membuat sang ibu cemas dan mencari anaknya. Mungkin kena marah oleh sang ibu sehingga si bungsu meraung. Si ayah dan si sulung dengan tetap memainkan alat musik tersenyum saja melihat tingkah mereka berdua.

Terkadang rapat dan terkadang renggang orang menonton. Mungkin karena mereka ada yang hendak dituju pula. Apakah yang ada di benak orang-orang nan menonton ini kira-kira? Suka dengan permainan musik keluarga inikah? Atau kasihan bercampur kagum dengan mereka? Kami tiada tahu.

Satu yang membuat kami iri, walau susah keluarga mereka tetap utuh. Tiada bercerai-berai karena keangkuhan dan campur tangan orang lain. Saling pengertian dan saling mendukung serta bersikap bijak menghadapi persoalan. Kami rasa itulah kuncinya. Sikap bijak itu hanya dapat dimiliki oleh orang dewasa yang telah berakal. Namun apabila umur saja yang dewasa sedangkan alam fikiran masih kanak-kanak maka itu belum berakal namanya – walaupun sudah tua bangka berbau kuburan sekalipun – alamat malapetaka jualah nan akan menghampiri.

Semoga Allah Ta’ala membukakan pintu rezki untuk keluarga ini, menjaga keutuhan keluarga mereka, membuka pintu hidayahNya, serta mendekatkan mereka dengan syari’atNya. Amiin.. – at Jam Gadang Bukittinggi

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s