Holidays on My Country

Long Weekend [Friday Afternoon Mei 6, 2016]

Pekan pertama bulan Mei ini merupakan pekan nan dinanti-nanti banyak orang. Dua tanggal merah bergandeng di akhir pekan yakni tanggal 5 & 6 yang terletak di hari Kamis dan Jum’at. Maka senanglah hati karena mendapatkan libur panjang. Tapi tak semua mendapat berkah nan demikian.

Bandar kami terkenal sebagai tempat tujuan utama pelancongan di propinsi kami “Tak ke Minangkabau tuan apabila belum singgah ke Bukit Tinggi” demikianlah ungkapan yang dibuat orang. Sampai kini kami tiada berhasil mengetahui siapakah yang menciptakan ungkapan tersebut.

Maka dalam libur panjang kali ini ramailah sekalian orang mendatangi bandar kami. Dimana-mana jalanan ramai oleh kendaraan. Hilir mudik di labuh gedang dengan laju yang tiada tetap. Kadang kencang kadang lambat lajunya.

Pada hari Kamis permulaan libur panjang kami memutuskan untuk ke Bandar Padang, hendak Menjemput Pengharapan. Ramai nian kendaraan di labuh besar, serupa hari pasar saja. Di perjalanan kami selalu berselisih dengan deretan kendaraan[1] yang berbaris di belakang truk ataupun bus besar, serupa agaknya dengan ular dengan truk atau bus sebagai kepalanya. Dan kami salah satu anggota dari tubuh ular besar itu.

Demikianlah pemandangan pada libur panjang, kemacetan hampir tiada pernah kami dapati selama dalam perjalanan kecuali sudah berada dalam kota. Di Padang Luar kalau di Bukit Tinggi dan lepasa bandara lama Tabing hingga jambatan selepas Basko kalau di Padang.

Tatkala esok harinya di hari Jum’at tatkala hendak balik ke Bukit Tinggi demikian pula. Kembali bersua dan menjadi anggota dari barisan Ular Gedang kami ini. Beruntung kami memakai onda[2] jadi bisa salip sana dan salip sini. Pada saat inilah terasa nikmat membawa onda. Tapi tatkala didera hujan maka terkenang pula akan nikmat mengendarai oto.

Sering kami beraandai-andai, seandainya saja jalur kereta api Padang – Bukit Tinggi telah diaktifkan. Tentulah pemandangan serupa ini tiada akan dihadapi. Penyebab utama ialah truk yang membawa muatan berat. Kalau sudah ada kereta api te tulah muatan itu dapat dibawa oleh Si Ular Besi itu. Dan banyaknya orang memakai kendaraan pribadi. Kalau Si Ular Besi sudah ada tentulah orang akan memilih menaikinya. Sehingga berkuranglah kepadatan di labuh gedang itu.

Namun sayang, kami dan sebagian besar orang di Minangkabau ini mesti memperbanyak sabar. Sebab angan-angan kami belumlah terwujud. Mak Itam[3] belum dapat berjalan karena relnya (yang dari arah Padang Panjang – Bukit Tinggi – Payakumbuah) masih tertimbun tanah, ditumbuhi semak, dan didirikan ruko atau rumah di atasnya.

Kami tengok berita di tivi pada beberapa daerahpun demikian pula. Macet menuju kota yang menjadi kawasan pelancongan. Dimana-mana di republik ini sama keadaannya. Sungguh menarik fenomena ini, dimana manusia sekarang sudah menjadikan melancong sebagai kebutuhan primer.

Bagaimana kiranya di bandar engku, rangkayo, serta encik sekalian? Adakah serupa keadaannya?
________________________

Catatan Kaki:
[1] Terutama oto (mobil)
[2] Motor
[3] Gelar yang diberikan kepada kereta api di Minangkabau. Digelari demikian karena pada masa dahulu lokomotif Kereta Api (yang saat itu masih bertenaga uap) bewarna hitam.

View on Path

Advertisements

3 thoughts on “Holidays on My Country

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s