Gadis Minang & Rumah Gadang

The Minang girl in Rumah Gadang

Pada suatu Ahad di sebuah Rumah Gadang kami dapati pemandangan yang demikian. Terkejut kami, tatkala kami pendangi si engku nan merokok iapun tersenyum. Semestinya si gadis mendapat tegur dari mamak nan punya rumah. Namun orang sekarang berlainan adatnya. Mendapat ajar sang anak maka orang tuanya tersinggung dan marah.

Seorang gadis Minang ialah perempuan yang tahu sopan dengan santun, taratik bahasa Minangnya, etika bahasa orang sekarang. Sedari kecil tatkala masih bergaul dengan keluarganya ia akan diajari cara bersikap dan membawakan diri di hadapan orang lain dan masyarakat “Malu awak di orang, jaga sikap engkau upiak..”

Namun sekali air besar maka sekali tepian berubah. Zaman telah berganti dan kehidupan telah berlalu. Saidina Ali kata “Sesungguhnya bukan zaman yang berubah melainkan manusia itulah nan berubah..”

Benar kata Saidina Ali, manusia itu nan telah berubah. Tiada mengamalkan ajaran lama, larut dengan kemegahan kemajuan Barat. Akibatnya segala adat resam yang dianut bangsa sendiri dipandang rendah, dilecehkan, dan tiada hendak dipakai lagi. Kepongahan telah menguasai mereka, dan kebodohan telah membutakan hati mereka. Padahal mereka merasa diri mereka paling pintar, paling “tercerahkan”.

Betapa takkan bodoh! Segala nan berasal dari masa nan telah lalu dipandang buruk dan terbelakang. Bagi mereka segala kemegahan dan kemajuan ialah milik zaman kini dan masa yang akan datang. Cis, itulah buah pendidikan zaman sekarang. Tiada rasa, tiada penghormatan, dan tiada tenggang-menenggang lagi. Berubahlah manusia menjadi makhluk mekanik.

Maka tiadalah mengherankan tatkala mereka memandang ke masa silam, mereka merasa asing “Aneh betul pakaian orang dahulu, serupa orang Arab saja..”

Bukan orang dahulu nan aneh melainkan kalian. Nan kalian pandangi itu ialah moyang kalian, merekalah nan melahirkan nenek kalian, lalu nenek kalian nan melahirkan ibu kalian, lalu ibu kalian melahirkan kalian, selepas itu kalian bercampur laki-bini maka lahirlah anak kalian.

Banyak orang Barat nan kalian puja kemajuan negeri mereka, datang ke negeri kita untuk melihat adat lama yang masih ada. Sebab di negeri mereka tiada lagi. Telah punah akibat kecongkakan dan kepongahan mereka dahulunya. Persis serupa kalian, memandang rendah agama dan adat lama. Akibatnya, anak cucunya merasa asing dengan dunianya, hendak mencari dunia lama yang hanya mereka dengar dari cerita atau membaca buku saja. Tiada mereka dapati karena telah punah, musnah digiling oleh kepongahan inyiak-inyiak mereka.

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s