The Sad Old Man

The sad old man.

Pada suatu Ahad pagi menjelang siang di Taman Sabai nan Aluih, tatkala kami sedang bercakap-cakap dengan seorang kawan. Tiba-tiba pandangan kami terpaku kepada sosok engku tua yang ada disana. Sungguh kami tiada menyadari, kami yakin engku itu sudah lama tegak disana, dan kami yakin tidak hanya hari ini saja.

Masing-masing kita memiliki kisah hidup tersendiri, memiliki untung perasaian masing-masing pula. Kata orang lagi, sudah tergores di garis tangan kita. Kata nan lain sudah ditulis di dalam Kitab Lauh Mahfudz.

Adapun si engku kami kira mungkin berumur sekitar 70 tahunan. Badannya masih tegak, memakai celana dasar, baju kemeja yang dilapisi baju hangat yang tak dipasangkan resletingnya. Dan tak lupa, suatu ciri yang sudah banyak ditinggalkan lelaki Melayu pada masa sekarang yakni berkopiah. Penampilan engku tua serupa ini lazim kami temui dimasa kanak-kanak, namun sekarang sudah semakin jarang.

Si engku tegak menghadap Jam Gadang dan membelakangi Gunung Marapi. Di bawah sebuah batang kayu yang membuat beliau terlindungi oleh sengatan matahari yang berangsur pedih menjelang tangah hari ini.

Raut wajahnya sedih, pertanda beratnya beban hidup yang mesti dipikul, bahkan di hari tua ini yang kata orang masanya menikmati hidup. Pandangan matanya meinyaratkan kepedihan, tiada semangat, dan terkadang kosong. Beliau tegak sambil memainkan sebuah mainan yang dijualnya untuk kanak-kanak.

Namun sungguh janggal, layaknya penjual mainan yang banyak mangadu nasib di kawasan Taman Sabai nan Aluih ini, mereka sangatlah nyinyir menyeru kepada orang yang lalu. Tidak demikian dengan engku tua ini. Beliau sangatlah pendiam, apakah karena kuatnya kesedihan itu sehingga suaranya tiada dapat keluar. Atau mungkin derita yang telah begitu hebat yang mendera bilangan tahun itu telah membuat lelah dirinya sehingga tiada lagi memiliki daya?

Tiada yang tahu, tiada banyak pula yang menyadari. Si engku terlihat sangatlah pendiam karena jarang beliau kami dapati bercakap-cakap dengan pencari rupiah lain yang sama-sama berjuang dengan beliau di Taman Sabai nan Aluih ini.

Diamanakah rumahnya? Dari nagari manakah beliau berasal? Serta dengan beliau datang kesini? Kami tiada tahu dan hanya dapat menduga-duga.

Dengan siapakah beliau tinggal? Dengan anak atau dengan kamanakankah? Atau sudah sebatang kara beliau ini? Masih gelap bagi kami perkara itu.

Semoga Allah Ta’ala memberkahi, melindungi, memberi rahmat kesehatan, kebahagiaan, dan rezki yang cukup untuk si engku kita ini. Amin..

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s