Citizen Journalism

Picture: justwrite-athing.tumblr.com

Kata orang kalau berembun di pagi hari maka itu tanda akan panas seharian. Namun betapa janggalnya karena selepas pukul sembilan hujan rinai mulai turun, sebentar hilang kemudian datang lagi. Serupa dengan seorang kekasih nan sedang merajuk kelakuannya.

Sampai tengah hari masih demikian, ketika itu kami sedang berada di Los Lambuang[1] bersama dua orang induk semang kami. Padahal matahari bersinar cukup cerah, hanya saja ketika hujan rinai tiba ia sembunyi. Sama pula kelakuan matahari dengan hujan rinai ini, sebentar tiba tak berapa lama kemudian ia pergi sembunyi. Sama-sama perajuk mereka hari ini.

Kamipun hendak merajuk pula, tiada hendak mengisahkan perihal hujan dan matahari ini. Sama-sama merajuklah awak..

Kisah kami perihal maksud kedatangan kami bersama dengan kedua induk semang kami ini. Kami berkeinginan hendak mencari tahu perihal kabar yanh kami terima kalau para pedagang nasi di sini telah membuat daftar harga dagangan mereka. Apabila benar maka akan kami ambil gambarnya dan kemudian akan kami beritakan melalui fesbuk.

Tujuannya supaya kesalah pahaman nan telah berlaku ini dapat diselesaikan sehingga tiada lagi syak wa sangka terhadap para pedagang. Sehingga pelancongan di bandar kami tiada lagi menjadi bahan prasangka buruk dan gunjingan.

Maka dengan langkah mantap – ditengah hujan rinai – kami bertiga berjalan menuju Los Lambuang. Para pembeli tampaknya masih lengang, maklumlah bukan hari libur dan bukan pula musim liburan. Begitu masuk telah tampak kedai nasi dan benar ada papan spanduk daftar harga dari makanan yang ada disini pada setiap kedai.

Sambil lalu kami ambil gambar dari daftar harga tersebut -hendak simasukkan ke fesbuk – beberapa orang menengok ke arah kami dengan pandangan menyelidik. Kami bertiga berjalan memutar dan selepas itu memilih kedai yang terletak pada bagian bekakang, tepat di sebelah Janjang Los Dagiang.

Induk semang kami menyapa yang punya kedai “Hendak menengok-nengok kami ini rangkayo. Kalau nan buruk cepat disampaikan orang tapi kalau nan elok hanok[2] saja mereka..”

Selepas itu kami berdua pergi berkeliling kembali, induk semang kami mengeluarkan hapenya dan mulai mengambil gambar.

Induk semang kami terlihat santai, padahal banyak orang nan menatap kami dengan pandangan menyelidik. Salut kami dengan induk semang kami ini, mentalnya telah teruji berlainan dengan kami nan masih banyak rasa takutnya. Mengambil gambar dan video, sedangkan kami hanya mengambil gambar saja.

Nan menarik hati kami, tatkala telah kembali ke tempat makan, induk semang kami mewawancarai rangkayo si penjual nasi sambil merekam dalam bentuk video. Dalam rekaman tersebut ditanyai perihal kejadian beberapa waktu nan silam serta pendapatnya. Rangakyo penjual tiada keberatan malah bersemangat dia diwawancarai sambil mengambilkan pesanan pembeli.

Salut kami, semangat tinggi, selalu berfikir positif, dan bermental baja. Tampaknya itu merupakan syarat utama bagi pencari berita.

————————————
Catatan Kaki:
[1] Sebuah kawasan di Pasa Lereng di Bukit Tinggi tempat orang menjual Nasi Kapau.
[2] Diam. Maksud induk semang kami perihal galat yang berlaku beberapa waktu nan lalu perihal harga yang kurang pantas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s