Sarapan, nasib kaum lelaki

Father & Son [Sunday, April 17, 2016]

Kami harap engku, rangkayo, serta encik sekalian tiada terkicuh (tertipu) dengan judul yang kami berikan. Sebab kedua engku itu bukanlah merupakan ayah dan anak melainkan sejawat dalam bekerja.

Mereka asyik makan bubua samba (lontong) yang ditambahi dengan bakwan. Dengan didukung keadaan alam semenjak tadi malok (mendung) dan berangin. Tentulah bertambah nikmat makan mereka.

Selepas sarapan kami bersama kedua orang rekan kami ini bercakap mengenai berbagai perkara. Ramai orang berlalu-lalang di Taman Sabai Nan Aluih ini. Sebentar berhenti, mengambil gambar, lalu pergi. Ada jua orang berkereta (bersepeda) yang berhenti menanti kawan-kawannya yang tertinggal, lalu pergi. Ada rombongan pelancong berkulit kuning dan bermata sipit. Serta ada pula seorang bule laki-laki dikawani entah pemandu atau sahabatnya berwajah melayu.

Demikianlah, awan mulai beranjak pergi sehingga memberikan kesempatan kepada sinar matahari untuk memanaskan hari. Karena sudah panas maka kami turut beranjak, sudah cukup kiranya. – at Jam Gadang Bukittinggi

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s