Mato Condong ka Nan Rancak

Hi u there…
[Saturday Morning, April 16, 2016]

In Jam Gadang at Pasa Ateh Bukit Tinggi West Sumatera. Many people came, with friends, lover, and most with family. On this weekend people from another distric or province came to this town.

_______________________________________

Kata orang apabila telah mendapat malang di pagi hari maka alamat akan ada kemalangan lain nan menanti. Demikian agaknya terbukti pada kami. Disaat melalui Janjang Ampek Puluah dari Pasa Bawah, kami disapa oleh orang yang besar kemungkinan telah Kurang Sehelai (Gila).

“Untuk apa guna kamera yang engku sandang itu?” Tanya perempuan kurang sehelai itu kepada kami, kami diam saja sambil terus berjalan. Kemungkinan umurnya pertengahan empat puluhan atau awal lima puluhan “Hu.. itulah juru berita (wartawan) dia itu..” serunya dari arah belakang kami.

Sesampai di Jam Gadang, tiga orang kawan kami telah bersantai di bawah salah satu pohon sambil menonton pertunjukan gratis yang jarang tersua. Razia gabungan terhadap pedagang kaki lima. Kamipun ikut bergabung.

Tak lama disaat kami tengah asyik bercakap-cakap, tibalah seorang lelaki berusia sekitar akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan, berkopiah namun rambut ikalnya dibiarkan tumbuh panjang. Sehingga membuat kopiahnya serupa tertonggok di atas kepala. Lelaki ini langsung manyalek minta duduk diantara kawan kami Saidi Palindih dengan seorang pedagang keliling yang menjadikan meja batu di bawah batang kayu ini sebagai tempat bernaung.

Tiba-tiba ia berbicara kepada Saidi Palindih, bercakap perihal razia, pemerintah, dan keadaan zaman sekarang. Dari percakapan mereka maka diketahuilah bahwa orang yang berpakaian amat ganjil ini (memakai rompi parasut dan celana jeans lusuh yang telah robek) sudah Kurang Sehelai. Kami tergelak mendengar kawan kami ini bercakap-cakap dengan orang gila.

Kami tergelak tersendiri, dalam hitungan menit kembali kami bersua dengan jenis orang yang sama.

Engku, rangkayo, serta encik sekalian pasti bertanya “Lalu apa hubungan kisah engku ini dengan gambar di atas?!”

Tiada duhai engku, rangkayo, serta encik sekalian, sama sekali tiada hubungan – kalau hendak dipaksakan ada hubungannya ialah berada di kawasan yang sama, waktu yang sama, namun tempat berbeda -. Sekadar pengobat duka saja. Disaat kawan kami sedang asyik bercakap-cakap dengan Orang Kurang Sehelai, kami obati hati dengan memandang nan indah-indah. Sekadar mengobat duka. Inilah hasilnya, sebuah gambar. – at Jam Gadang Bukittinggi

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s