Bertualang di Bukit Tinggi

Janjang Koto Gadang dari Nagari Koto Gadang Gambar: Disini

Hari kedua di bulan April kami mendapat permintaan dari kawan kami Magex, ia berkeinginan hendak membawa dua orang kawannya yang datang dari Jakarta untuk melancong keliling Bandar Bukit Tinggi. Cuma sehari ini waktu mereka karena besok mereka hendak balik ke Jakarta dan esoknya lagi sudah mulai masuk kantor. Maka mulailah petualangan kami dari pagi menjelang tengah hari sampai malam di bandar kami nan tercinta ini.

“Dimana penginapan yang murah disini engku?” tanya Magex kepada kami. Kamipun tersenyum karena tiada mengetahui dengan baik perihal nan ditanyakan. Kami tanyakan kepada seorang kawan dan ditunjukkanlah sebuah hotel yang terletak di dekat Janjang Gudang. Janjang tersebut merupakan janjang (tangga) tua yang dibuat orang semenjak masa Belanda. Dan segera Magex memberitahukan kawannya yang sedang diatas travel untuk menanti di hotel yang dimaksud.

Mereka berdua masih muda, yang lelaki satu tahun di bawah kami umurnya sedangkan yang perempuan tiga tahun di bawah kami. Berpakaian santai dengan tas ransel mereka. Tatkala baru bersua, Magex memperkenalkan kami sebagai seorang pekerja yang bekerja pada salah satu kantor yang mengurusi pelancongan di bandar ini. Dan si gadis menjawab “Wah.. SUPER SEKALI..”

Entah senang, kesal, atau hendak tertawa kami mendengar jawapan dari si gadis yang dipanggil Tam oleh Magex. Terbayangpun tidak akan mendapat tanggapan serupa itu. Selama ini hanya kami baca di internet, artikel di situs, blog atau jejaring sosial “Zuper Sekali..”

Salah satu potret Nagari Koto Gadang Gambar: Disini

Ada satu kejadian yang membuat kami kagum pada hotel tempat kedua orang ini menginap. Tatkala hendak memesan bilik, mereka hendak memesan satu saja. Kami terkejut, demikian pula dengan rangkayo yang menjadi resepsionisnya “Engku dan encik ini pasangan suami-isteri?” tanya rangkayo tersebut.

“Tidak..” jawab kedua orang ini.

Dengan air muka tak senang rangkayo ini melanjutkan “Maaf engku, kalau demikian engku tiada dapat memesan satu bilik mesti dua. Letaknya mesti pula dipisah. Satu di lantai atas dan satu lagi di lantai bawah..”

Kedua orang ini akhirnya setuju dan kami yakin akan halnya kami rangkayo inipun mengumpat dalam hati “Dasar, terlalu bebas hidup anak muda zaman sekarang..”

Dalam perjalanan ke Jam Gadang Si Tam berujar “Sama dengan Aceh ya, ngak boleh mesan satu kamar..”

“Iya, inikan Minangkabau..” jawab Magex sambil tersenyum, sedangkan kami diam saja pura-pura tak mendengar. Sebab kami baru saja berkenalan, bercakap-cakappun belum. Dalam hati kami bersyukur dan berterima kasih kepada hotel dan pegawainya. Mereka telah memberikan kesan yang sangat bagus bagi negeri kami ini.

Lubang Japang Gambar: Disini

Selepas dari Jam Gadang Magex membawa kami ke Los Lambuang di Pasa Lereng, hendak makan mereka. Tam dan Ban demikian si lelaki dipanggil Magex sudah lapar berat. Maklumlah mereka baru datang dari negeri panas ke negeri sejuk serupa Bukit Tinggi ini. Kami tiada ikut makan cukup teh botol saja yang kami jadikan pengganjal perut. Kami yakin, selepas makan mereka akan dibuat takjub oleh rangkayo yang punya lepau.

Selesai makan Magex kami suruh menjemput onda[1]nya yang diparkir di Pasar Atas, sedangkan kami bertiga berjalan menuruni Janjang Ampek Puluah dan berkumpul lagi di Rumah Kelahiran Bung Hatta. Ada kejadian menarik disini, Magex rupanya lupa dengan aturan sopan-santun. Tatkala datang tadi ia mendapati onda kami disana, langsung saja masuk tanpa permisi dan lalu keluar lagi karena kami sudah di Jam Gadang. Dan tatkala masuk tadi iapun lupa pula minta izin kepada rangkayo yang menjaga rumah ini. Akhirnya kami mintakan maaf “Maaf rangkayo, kawan awak ini terlalu lama di rantau..”

Tampaknya Tam dan Ban hanya tertarik dengan keindahan rumah ini, mereka rupanya buta sejarah. Akhirnya berdua dengan Magex, dengan mengendarai dua onda kami bawa mereka ke Janjang Koto Gadang. Sebelum memasuki kawasan Janjang Koto Gadang, tepatnya di tempat parkir kami berujar kepada Ban “Ini sebenarnya bukan Great Wall sebab kita sama-sama tahu serupa apa itu Great Wall yang ada di Cina. Ini hanyalah jenjang yang dibuat orang pada jalur tradisional yang biasa dipakai oleh masyarakat Nagari Kota Gadang apabila hendak ke Bukit Tinggi. Hanya saja, bentuknya dibuat serupa dengan Tembok Cina..”

“Lalu kenapa dinamakan Great Wall?” tanya Ban

“Karena orang Minang itu suka me-waah-kan segala sesuatu..” jawab seorang engku yang kebetulan lalu tatkala kami tengah bercakap tadi.

Dari lembah Ngarai Sianok kami mendaki bukit menuju Nagari Koto Gadang, salut dengan orang Koto Gadang yang melalui medan yang seberat ini tanpa ada janjang dan coran semen. Magex dan Si Ban sudah kepayahan mendakinya adapun kami berada di hadapan dan tepat di belakang kami ialah Si Tam. Gadis ini rupanya kuat juga, dari penampilan terlihat dia agak sedikit tomboy dan beberapa jam kemudian baru kami dapati jawapannya. Semasa kuliah Tam masuk Menwa dan ikut pelatihan Penerjun Payung yang diadakan oleh Kopassus.

Di Kebun Binatang Kinantan Gambar: Disini

Begitu sampai di puncak, kami berempat sudah kepayahan, mataharipun bersinar dengan gemilangnya di atas sana. Magex terlihat sangat kepayahan, sudah serupa orang tua ia. Kami duduk sejenak melepas penat sambil bercakap-cakap “Hendak melihat Nagari Koto Gadangkah engku dan encik?” tanya kami.

“Ada apa disana engku?” tanya Si Tam

“Ada rumah-rumah tua yang dibuat orang semenjak masa Belanda encik?” jawab kami. Dalam perjalanan mendaki janjang tadi, gadis ini sama sekali tak mengetahui dan menyadari hubungan Koto Gadang, H. Agus Salim, dan Sutan Syahrir. Makanya kami katakan mereka buta sejarah.

Dari Janjang kami mesti berjalan beberapa meter ke dalam dan baru bersua perkampungan penduduk. Mulanya Magex menyetujui tatkala kami katakan “Hampir jaraknya engku..” tatkala di tengah perjalan kami kembali berujar “Eh, jau juga rupanya..” segera Magex hendak bali lalu kami tenangkan “Tenang saja, itu sudah dekat kita ini..”

Ban & Tam

Seperti yang kami katakan, disini memang dipenuhi oleh rumah-rumah tua yang dibangun semenjak masa Belanda. Kampungnya lengang karena sebagian besar dari mereka pergi merantau. Ada beberapa rumah yang tampaknya tinggal saja “Kalau hendak melihat kampung ini ramai, datanglah ketika hari raya..” ujar kami.

Kami kembali berehat di masjid di hadapan Balai Adat Nagari Koto Gadang, maklum kami belum menunaikan Shalat Zuhur. Adapun si Tam tak ikut shalat karena sedang berhalangan, ia mendapat tugas sebagai penjaga barang bawaan kami.

Dari Atas Menara Air Gambar: Disini

Lepas shalat kami kembali berjalan menuruni jenjang, tujuan berikutnya ialah Lubang Japang. Kami masuk dari gerbang Bawah Ngarai dan kembali membuat ketiga orang ini terkejut karena mesti mendaki Janjang lagi untuk sampai ke Taman Panorama. Dan kembali Magex dan Ban berada di urutan belakang adapun kami dan Tam saling berpacu. Di Taman ini diputuskanlah untuk membeli minuman dahulu, kami dan magex memesan Kopi Gingseng dingin sedangkan Tam dan Ban memesan Nutri Sari dingin.

Selama minum-minum, mereka asyik bercakap-cakap perihal pekerjaan dan kawan kantor mereka, kami hanya mendengarkan saja. Sempat pula ditanya hendak kemana lagi, dan Si Tam dan Banpun minta diceritakan apa-apa saja tempat pelancongan di sini. Dengan sabar Magex menjelaskan – padahal badannya sudah letih dan kakinya sudah penat minta ampun – tatkala mendengar nama Benteng dan Kebun Binatang, Si Tam bertanya dengan nada meminta “Kita kesana nanti kan?” dengan agak tergagap Magexpun menjawab “Iya..”

Kami yang mendengar hanya tersenyum saja melihatnya “Sudah serupa seorang ayah memiliki anak dua orang engkau ini..” ujar kami sambil tersenyum kepada Magex. Padahal dia masih bujangan, hanya kamilah satu-satunya laki-laki beristeri disini. Lepas itu kami kembali ke dalam lubang karena kedua onda diparkirkan di bawah. Dan lagi-lagi bertemu janjang.

Di hadapan Balai Adat

Tujuan berikutnya ialah Kebun Binatang Kinantan dan Benteng, begitu sampai langsung kami bawa ke Rumah Adat nan Baanjuang. Kebetulan kedua orang kawan kami yang bertugas disana sedang bercakap-cakap kami dapati. Kamipun menawari apakah mereka hendak memakai Baju Adat[2]. Si Tam langsung menjawab “Hendak..” tampak berfikir sedangkan Si Ban ditimpa keragu-raguan. Ia cemas kalau kawan mereka melihat dia berpakain pengantin berdua dengan Si Tam. Maklumlah kedua orang ini sama-sama sudah memiliki kekasih hati, kekasih Si Tam seorang polisi malah. Ini yang membuat kami salut kepada Si Ban, sudah tahu sama-sama punya kekasih dan sudah tahu pula kalau kekasih Si Tam itu ialah seorang polisi, masih berani memesan satu bilik di hotel. Kata orang yang suka membuat status di Instagram “Kelar deh hidup elu..”. Salut dengan Si Ban.

Akhirnya Si Ban hendak juga, berdua mereka memakai baju pengantin sudah serupa pengantin baru pula. Si Tam yang tomboy menjadi cantik memikat setelah dipakaikan jilbab dengan sunting di atasnya. Seorang perempuan muslim itu memang terlihat lebih cantik apabila menutup aurat mereka. Segera Magex menyuruh mereka bergaya untuk diambil gambarnya “Hendak dimasukkan ke medsos..” kata Magex. Si Ban agak malu-malu justeru Si Tam yang terlihat santai, memang zaman telah terbalik dahulu perempuan yang malu-malu sekarang lelaki yang malu-malu. Tak heran karena yang paling banyak menutupi malu pada masa sekarang ialah kami kaum lelaki.

Kamipun tak hendak ketinggalan, kami suruh mereka bergaya di dekat jendela dan kami ambil gambar mereka sambil mengarahkan gaya untuk mereka. Sayangnya gambar yang kami ambil ada di hape Magex. Si Tam memuji “Wah bagus gambar yang engku ambil..” kami senang sekali mendengarnya “Pasti karena sudah biasa ya..” lanjutnya dan segera kebanggaan kami terjun bebas. Padahal kami hendak mendengar dia berujar “Wah, engku profesional sekali..” dan itu hanyalah MIMPI.

Selesai melihat kedua marapulai ini jadian maka kami tengok pula mereka mengakhiri hubungan beberapa menit selepas itu. Tiada tangis dan air mata, mungkin dalam hati saja. Sebab mereka berdua sama-sama sudah punya kekasih hati. Kemudian kami menyeberang ke Benteng de Kock. Tak banyak yang kami lakukan disini, berjalan sebentar, kemudian Magex sudah minta duduk pada sebuah gazebo dan mulailah bercakap-cakapnya.

Jam Gadang di Malam hari

Hampir mendekati setengah enam barulah kami keluar dari gerbang Kebun Binatang Kinantan. Sebenarnya kami hendak membawa mereka ke Balai Kota namun tampaknya tak dapat karena ada dua orang petugas DLLAJ sedang berjaga tepat di jalan hendak masuk. Mungkin sedang ada acara disana. Akhirnya kami membawa mereka ke sebuah tempat penjualan kaus khas Bukit Tinggi yang terletak di hadapan kantor Pemadam Kebakaran. Mungkin karena tiada berkenan oleh kantong mereka atau alasan lain akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong.

Petang hari ini bukanlah penutup karena malamnya kami berjanji akan bersua kembali. Magex memutuskan untuk tak pulang dan menemani mereka sampai nanti malam. Malam nanti ada pertunjukan kesenian di hadapan Jam Gadang, mereka hendak melihat pertunjukan tersebut. Sedangkan kami memutuskan untuk pulang, tengah hari tiada makan membuat perut ini protes minta diisi.

Malamnya tak ada kegiatan yang spesial, bosan menonton pertunjukan akhirnya kami duduk-duduk di Taman Sabai Nan Aluih sambil bercakap-cakap. Tepatnya hanya mereka bertiga, adapun kami mengawani dan mendengarkan saja.Tampaknya Si Tam sedang gundah gulana, tak jauh masalahnya dari percintaan. Pukul setengah sebelas kami membubarkan diri.

Demikianlah, malam itu ialah pertemuan terakhir kami. Besok mereka akan kembali ke Jakarta, entah apa yang akan mereka bawa, kenangan indahkah? atau kenangan menggelikan karena disuruh mendaki bukit berjenjang?

_____________

[1] Motor

[2] Padahal sebenarnya baju pengantin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s