Akhir dari derita itu..

Picture: Internet

Apakah engku, rangkayo, serta encik sekalian pernah mendengar atau mendapati kisah perihal kehidupan saudara-saudara kita yang lahir dengan berbagai kekurangan? Apakah itu tak bisa berjalan, tak punya tangan, tak mampu mendengar, tak dapat melihat, tak bisa bercakap, dan lain sebagainya. Apabila kita bandingkan dengan diri kita yang lahir dengan kelengkapan anggota badan, tentulah sangat sedih hati kita melihatnya.

Kalaulah mereka dapat memilih, tentulah mereka memilih untuk dilahirkan dengan kelengkapan anggota badan. Namun takdir Yang Kuasa berkata lain. Hidup nan mereka lalui berbeda dengan kita, kita dengan segala kelengkapan anggota badan saja sudah sering merasa berat dalam menghadapi tantangan hidup, apalagi mereka. Namun kata orang Allah Ta’ala itu Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Penyayang. Dibalik kekurangan nan ada pada diri mereka, Allah titipkan kelebihan yang tiada kita miliki.

Namun bagi kebanyak orang-orang, saudara kita nan serupa ini kurang mendapat tempat, kurang dihargai dan hidup mereka tak memiliki banyak pilihan. Tak perlu jauh-jauh, dalam pelayanan umum saja mereka tak difikirkan berlainan sekali dengan Negara Barat yang memikirkan perihal kepayahan mereka ini. Mulai dari jalan, toilet umum, kendaraan umum, sampai kepada lapangan pekerjaan mereka diberi kesempatan. Berlainan dengan orang kita yang menuntut segala sesuatunya serba sempurna “Engkau mesti juara kelas kalau hendak berhasil dalam hidup ini” suatu ajaran sesat yang diajarkan turun-temurun entah semenjak zaman bila.

Kisah kami kali ini perihal salah seorang saudara kita nan malang ini. Seorang anak bujang yang umurnya baru sembilan belas tahun, tiada pandai berjalan semenjak kecil sehingga hidupnya menjadi beban bagi orang tuanya. Tak terbayangkanlah oleh kami bagaimana perasaan anak ini dalam menghadapi hari-harinya selama sembilan belas tahun itu. Hidup lumpuh menjadi beban orang tua, tentulah menghacurkan hatinya bagai dihantam palu godam.

Syukurlah, hari Senin tanggal kabisat tahun 2016 ini segala perasaiannya disudahi oleh Allah Ta’ala. Dia dipanggil menghadap Sang Khalik penguasa alam. Namun nan membuat pilu ialah kepergiannya yang sangat menyedihkan, diiringi penderitaan panjang yang tak terperi sakitnya. Dia mati terbakar dalam rumah orang tuanya.

Sungguh tak disangka, mengejutkan semua orang “Kemana orang tuanya..?” tanya orang-orang. Ada yang mengatakan selepas memberikan nasi untuk dimakan oleh anaknya itu, orang tuanya pergi bertandang ke rumah saudaranya yang masih terletak di sekitar rumah tempat tinggal mereka. Ada yang mengatakan kalau kedua orang tuanya pergi merantau karena susahnya hidup mereka “Lalu dengan siapa ia tinggal?” tanya yang lain.

Sungguh segala sesuatunya masih gelap bagi kami, entah bagaimana duduk kisah sebenarnya. Kami nan mendengar hanya dapat termenung mereka-reka penderitaan yang dilaluinya selama sembilan belas tahun ini. Sungguh kami tiada menyangka, di dekat kami terdapat orang yang begitu menderita hidupnya dan selama ini kami tiada tahu.

Hanya do’a yang dapat kami panjatkan kepada Yang Kuasa, semoga segala dosanya diampuni, kuburnya dilapangkan, dan mendapat sebaik-baik tempat disisiNya. Amin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s