Kampung Sapek

Sebuah kampung nan permai di dalam Kota Padang

Akhir-akhir ini – apabila di Padang – setiap pagi dan petang kami sering menemani isteri berjalan-jalan keliling-keliling di kawasan sekitar perumaha mertua kami. Kami lebih senang membawa isteri kami berjalan ke perkampungan di belakang perumahan, Sapek[1] nama kampungnya. Entah kenapa nama salah satu jenis ikan dinisbatkan pada kampung tersebut.

Kawasan perkampungan ini tenang dan lengang, hanya satu atau dua orang bersua dengan kami. Jalanannya kecil dan hanya dapat dilalui satu oto[2] saja, kalau ada oto yang berpapasan maka nan satu mesti berhenti dan menepi hingga dua roda disamping mesti keluar dari badan jalan. Jalannya bukan jalan aspal melainkan coran, ada yang masih baik kondisinya dan ada pula yang sudah rusak, bahkan ada yang sangat parah dimana sudah berlubuk sehingga oto sedan yang rendah takkan dapat melaluinya.

Pada kampung ini masih terdapat kawasan persawahan yang disembunyikan oleh gugusan ruko di tepi jalan. Sehingga apabila engku, rangkayo, serta encik berjalan di jalan besar yang diberi nama Jalan Adinegoro maka takkan bersua pemandangan perkampungan yang penuh dengan warna hijau ini. Juga ada beberapa perak yang sebagian besar ditumbuhi oleh belukar. Satu dua tampak batang pohon pisang dan kelapa menjulang di atasnya. Selain itu juga terdapat rawa berair kehitaman yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan serupa paku, sebangsa rumput peki namun yang berukuran besar, ilalang, dan lain sebagainya.

Perempuan Hamil Tua sedang berjalan riang di kampung nan permai itu

Entah kambing, entahkan domba yang berkeliaran di kampung-kampung, dibiarkan bebas berkeliaran mencari makan. Kalau dicarikan penat dan memakan banyak waktu, persis serupa keadaan di kampung kami dahulunya, sekarang sudah tiada. Juga ada beberapa ekor jawi (sapi) yang mencari rumput pada rawa-rawa. Kedua makhluk ini sering menatapi kami beserta isteri apabila sudah bersua dan lalu di dekat mereka “Tenang saja jawi dan domba, takkan kami sembelih kalian..”

Rumah penduduk disini masih sederhana, berukuran kecil namun memiliki halaman yang cukup untuk bermain kanak-kanak. Berlainan dengan keadaan di perumahan yang tak memiliki halaman, kalaupun ada sudah ditutupi dengan coran semen sehingga membuat keadaan menjadi bertambah panas apabila matahari bersinar terik pada tengah hari. Berlainan dengan keadaan di kampung ini yang lebih sejuk dari keadaan di perumahan mertua kami. Coran semen belum meraja lela..

Rumah penduduk disini bermacam-macam, ada yang permanen, semi permanen, dan ada yang dibuat dari kayu. Ciri khas rumah pendudk disini – terutama yang semi permanen dan kayu – ialah memiliki beranda luas pada bagian depan rumah. Mungkin karena keadaan cuaca di Padang yang panas maka diperlukan beranda yang lebih luas untuk bersantai. Pada beranda inilah diletakkan kursi tamu oleh penduduk.

Pada suatu petang ketika kami melalui kampung ini, kami dapati banyak kanak-kanak yang bermain, ada yang bermain kareta ada pula yang berkumpul di beranda rumah sambil bernyanyi dengan ditemani oleh salah seorang orang tua mereka. Adapun sekelompok orang dewasa yang lain sedang berkumpul pada beranda rumah di sebelahnya asyik dengan sesuatu. Setelah kami lalui rupanya mereka sedang memisah-misahkan ladi ijau (cabe hijau). Entah dimana mereka bertanama lado disini, sebab tak ada tampak perkebunan lado oleh kami.

Sungguh pemandangan yang mengasyikkan, benar-benar khas kampung. Mana ada kanak-kanak yang bermain di luar rumah pada masa sekarang. Kebanyakan dari mereka sibuk dengan tv atau internet, generasi inilah generasi yang selamat nantinya, Insha Allah..

Pada beberapa rumah kami dapati pohon kelapa yang masih rendah, mungkin baru ditanam belakangan. Sudah berbuah dan banyak buahnya, pada salah satu batang kelapa tampak oleh kami orang menyandarkan jenjang (tangga) yang terbuat dari kayu. Asyik benar, tak perlu memanjat untuk mendapat buah kelapa, cukup pakai tangga. Buah kelapa yang baru setinggi rumah ini juga berguna untuk menghalangi sinar matahari masuk ke rumah, terutama sinar matahari petang hari yang minta ampun panasnya.

Pada salah tempat terdapat kawasan persawahan yang sangat luas serupa di kampung kami. Kalau diambil gambarnya takkan menyangka orang kalau ini Kota Padang. Benar-benar serupa karpet hijau yang dibentangkan. Nun jauh disana tampak bangunan rumah penduduk, ada yang berlantai satu, dua, ataupun tiga.

Satu yang kurang menurut kami yakni jalannya mesti diperlebar. Bahkan ada jalan yang hanya dapat dilalui oleh onda[3] saja. Semoga hal ini menjadi perhatian bagi pemerintah setempat..

__________________________________

Catatan Kaki:

[1] Salah satu jenis ikan asin, juga terdapat pada air tawar

[2] mobil

[3] motor

Advertisements

2 thoughts on “Kampung Sapek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s