Manusia Kalah

“Jangan suka seorang diri, mesti beramai-ramai, apabila engku suka bersorang diri serupa ini sangatlah mudah digaduh oleh syetan..” kata Mantiko Botak kepada St. Palindih sambil tertawa terbahak-bahak “Dengan bersama iman kita akan lebih kuat..” lanjutnya.

“Haha.. nan kuat imannya itu St. Malenggang ini. Kalau awak lemah iman, buktinya awak pernah pergi ke pantai menengok bule dan ke sebuah kelab malam semasa keluar dahulu..” Jawab St. Palindih sambil ikut tertawa terbahak-bahak.

Ini semua bermula dari St. Palindih dan St. Pangulu yang saling lempar cemooh, karena tegak-tegak di tempat parkir kantor seorang diri. Padahal sebenarnya tak pula seorang diri karena tak hanya mereka di tempat parkir itu. Namun mereka berdua memang suka saling menggaduh dan melempar cemooh.

St. Malenggang juga turut hadir disana, karena penat dengan pekerjaan maka ia pergi ke luar mencari angin sambil merokok dan didapatinyalah kedua kawannya itu sedang duduk-duduk di tempat parkir. Tatkala mereka sedang asyik bercakap-cakap maka tibalah Mantiko Botak, dia hendak minta kawani membeli air mineral untuk acara mereka nanti malam.

Demikianlah, Mantiko Botak mendapat kesempatan untuk mencemooh St. Malenggang yang suka berseorang diri di tempat parkir sambil merokok. Namun jawapan dari St. Palindih sebenarnya sangat mengena, bagi beberapa orang yang mengetahui rahasia Mantiko Botak “Nan kuat imannya itu St. Malenggang, dia yang tak hendak macam-macam dengan perkara maksiat..”

Namun Mantiko Botak tiada hendak kehilangan akal karena merasa yakin rahasianya tersimpan aman, hanya beberapa orang di kantor yang mengetahui rahasianya. Jawapan dari ucapan Mantiko Botak sangatlah mudah “Tergantung dengan siapa kita berkumpul, kalau dengan sekelompok ahli maksiat maka ke tempat maksiatlah kita dibawanya..” ucap St. Malenggang dalam hati karena hal tersebut bersesuaian dengan keadaan Mantiko Botak sebenarnya. Tak perlu kita sebutkan jenis maksiat apa saja yang telah dilakukan oleh Mantiko Botak, lupa dia kalau mulut manusia itu sangat susah menyumbatnya.

Lagipula para sufi bukankah suka dengan kesendirian? dalam kesendirian mereka merenung, berfikir perihal hakikat diri dan penciptaannya. Adapun dengan St. Malenggang, ia butuh kesendirian untuk menenangkan diri, menanangkan fikiran, mencari ide untuk pekerjaan yang dilakoni, dan tak hanya dia seorang hampir setiap pekerja seni memang menyukai kesendirian. Dalam kesendirian terkadang mereka mendapatkan hal-hal baru untuk diciptakan atau dikembangkan.

Namun bagi orang-orang yang hanya pandai berfikir untuk masa kini, tak memiliki selera seni dalam dirinya, serta cenderung memandang rendah manusia lain maka hati mereka takkan dapat merasakannya, nyanyian syahdu dari alam. Manusia serupa ini tak ubahnya serupa dengan robot.

Lagipula kami yakin, orang-orang serupa Mantiko Botak banyak engku, rangkayo, serta encik temukan dalam lingkungan pergaulan keseharian. Orang yang hatinya penuh hasad dan dengki dan berusaha untuk merendahkan bahkan memperolok orang lain. Bukan karena merasa dirinya hebat melainkan karena takut dengan sosok yang diperolok, takut dengan potensinya, takut dengan sosok yang semakin besar tak tertandingi, takut ia akan berada jauh dibawah sosok itu.

Cis, demikianlah watak manusia kalah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s