Gerhana[09.03.16]

Hari Rabu tanggal 09 Maret 2016 atau bertepatan dengan tanggal 29[1] Jumadil Awal 1437  ialah hari terjadinya gerhana matahari. Di bandar kami hanya terjadi gerhana sebagian, gerhana menyeluruh terjadi di negeri Muko Muko di Bengkulu dan beberapa daerah lainnya. Sehari sebelum gerhana beberapa orang telah mulai memperbincangkan gerhana yang akan terjadi esok hari “Tak boleh dilihat langsung, dapat buta mata awak dibuatnya..”

Beberapa pengurus masjid telah mengeluarkan pengumumkan akan diadakannya Shalat Gerhana pada esok hari, bagi sesiapa yang hendak ikut boleh datang ke masjid, demikianlah. Berbagai pengumuman ataupun status pada jejaring sosial juga menyuarakan hal yang demikian, lengkap pula dengan gambar tata cara Shalat Gerhana. Di kampung kami, imam surau di sebelah rumah kami juga mengeluarkan pengumumkan bahwa akan diadakannya Shalat Gerhana pada esok hari, waktu pelaksanaannya ialah pukul tujuh pagi, shalat diadakan di Masjid Jami’a Sidang Tangah. Demikianlah, hanya bunda seorang yang pergi pada keesokan harinya.

Beruntung pula hari terjadinya gerhana ini bertepatan pula dengan tanggal merah sehingga gerhana matahari benar-benar menjadi salah satu pertunjukan bagi para pelancong. Di kampung kami, puncak gerhana terjadi pada pukul 07.20:44.7 pagi dan berakhir pada pukul 08.27:38.9 dengan lama gerhana ialah 2 jam 6 menit 0.1 detik. Sungguh sangat disayangkan di kampung kami berawan sehingga matahari tiada tampak dengan jelas. Baru pada pukul delapan lewat kami dapat melihat gerhana itu, dan itupun sudah hendak usai. Namun setidaknya kami masih mendapati bayangan bulan menutupi matahari.

Tatkala perkara gerhana ini mulai menjadi perbincangan, tiba-tiba saja ingatan kami dibawa ke masa lalu, ke masa kanak-kanak kami. Dahulu pada salah satu stasiun televisi swasta[2] pernah ditayangkan sebuah sintron yang berjudul “Gerhana”. Kisah seorang anak yang memiliki kesaktian karena dilahirkan pada saat Gerhana Bulan dan setelah dewasa ia memiliki pacar yang bernama Bulan. Sinetron inilah yang melambungkan nama Si Poltak Raja Minyak dari Medan. Sekarang, entah bagaimana nasib para pemainnya, nan jelas nan seorang selain menjadi pengacara, sekarang menjadi politisi dan rambutnya yang memiliki kuncir telah dibotakkan.

Yang kedua ialah tatkala kami masih berkuliah kami memiliki seorang senior yang bernama Muhammad Gerhana. Tatkala ditanya kenapa bernama demikian ia menjawab “Karena bunda melahirkan awak disaat terjadi Gerhana Matahari” Demikianlah, memang lazim pada masyarakat tradisional kita apabila terjadi suatu peristiwa alam yang ganjil maka anaknya akan dinamai dengan nama peristiwa tersebut. Namun hingga kini belum kami dapati seorang anak yang bernama “Gempa Gadang”.

Bagaimanakah kisah gerhana di tempat engku, rangkayo, serta encik sekalian?

____________________________

[1] Sebagian ada yang menyebutkan tanggal 30 Jumadil Awal.

[2] Ketika itu hanya ada lima stasiun tv swasta, enam dengan milik pemerintah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s