Gentlemen No

Picture: Here

Dahulu tatkala masih bekerja di tempat nan lama kami acap mendapati seorang kawan nan begitu dibenci oleh kawan-kawan nan lain. Dalam pandangan kami kawan ini bukanlah jenis orang nan suka mengaduh orang lain, lebih banyak diam, tak suka mempergunjingkan – kebanyakan pegawai suka mempergunjingkan kawan sekantor – orang lain, mengerjakan apa nan disuruh, dan selalu menyelesaikan setiap tugas nan diberikan induk semang kami.

Kami heran dan bertanya-tanya “Gerangan apa kesalahan kawan kami ini?”

Tatkala kami kisahkan cerita kawan kami itu kepada kawan-kawan sesama perantauan – yang tinggal di rumah sewaan nan sama – mereka berpendapat “Mungkin karena kawan engku itu orangnya berpotensi makanya ia dibenci oleh nan lain..” nan lainpun bertanya pula “Apakah induk semang engku suka akan dirinya?”

“Iya, beliau suka sangat akan dirinya..” jawab kami

“Haa.. itulah penyebabnya. Seorang pegawai nan disayangi induk semang akan dibenci oleh kawan-kawannya nan lain. Tak ingatkah engku dengan kisah Nabi Yusuf?” tanya kawan kami “Ditambah ia tak pandai bergaul, pendiamkan kata engku?” tanyanya lagi, kami mengangguk “Itu akan semakin membuat dirinya menjadi sasaran kedengkian dari manusia-manusia purba itu..” terang kawan kami.

Dan tahun-tahunpun berlalu, kami telah pindah dan kini kami dapati kembali. Seorang kawan nan bernasib hampir serupa. Ditusuk dari belakang, sesekali dari hadapan. Kalau dari hadapan maka kawan nan menyerang akan berusaha membuat kawan ini terlihat pandir, misalnya dengan mematahkan pendapat kawan kami ini dalam sebuah rapat, atau merendahkan pendapatnya dalam percakapan, dan lain sebagainya.

Mungkin menurut mereka, mereka telah berhasil memperlihatkan kepintaran mereka, namun dimata kami mereka sesungguhnya sedang memperlihatkan kepandiran mereka serta ketakutan mereka. Ya, takut dengan kawan kami itu. Kami pernah mendengar Ahli Kejiwaan Kanak-kanak (Psikolog Anak) berpendapat bahwa sesungguhnya anak nan nakal itu sebenarnya anak nan penakut, mereka suka menggaduh kawan karena tiada hendak kelemahannya diketahui oleh kawan mereka itu.

Namun sungguh kami bersedih, karena hampir sebagian besar kawan-kawan kami ini ialah jenis orang nan suka memperlihatkan kecerdikan diri sendiri dan sebaliknya tiada hendak mengakui kelemahan mereka. Padahal dahulu kami berangan-angan bekerja dengan orang-orang dewasa dan berpendidikan. Dimana sikap saling menghargai dan jantan (getlemen) menjadi tradisi (budaya). Kini, tak ada lagi sifat jantan, kalau kita berusaha bersikap jantan maka akan disangka lemah dan penakut.

Ada-ada saja, zaman sekarang ialah Zaman Tipu Daya dan Zaman Kepengecutan dimana para Pecundang Naik Daun dan menjadi Pusat Perhatian.

Kamvret.. kata kawan kami di Inst@gr@m..

Advertisements

One thought on “Gentlemen No

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s