Dalam perjalanan ke Palembang

Ilustrasi Gambar: Disini

Sudah hampir enam tahun kalau kami tiada salah tak ke Palembang. Sebenarnya kami tiada mengenal betul bandar nan satu ini. Pada kedatangan kami nan pertama, tak pula berpesiar menengok keadaan bandar melainkan hanya ke beberapa tempat saja. Demikian pula pada saat sekarang, tak pula berjalan berpesiar berkeliling melainkan hanya di rumah saja. Satu hal nan pasti, bandar ini tiada sepanas Bandar Padang.

Nan kami nikmati bukan bandarnya melainkan perjalanan menuju ke bandar ini. Sudah lama kami tiada merasakan bagaimana rasanya naik bus lebih dari dua belas jam, pada malam hari pula. Beberapa bulan nan silam sempat terkenang perihal tersebut “Hendak merasakan berjalan naik bus malam..”

Berdasarkan pengalaman di masa nan telah lalu, kami tiada hendak makan di rumahkan tempat bus berhenti untuk berehat dan mempersilahkan para penumpang makan. Kami dan beberapa orang penumpang bus memutuskan untuk membeli pop mie sebagai pilihan untuk mengisi perut nan mengerutuk. Lebih hemat dan lebih memuaskan serta hati ini tiada mengupat.

Palembang, bandar nan satu ini masih menjadi misteri bagi kami. Menurut beberapa kisah nan kami baca, Sulthan Palembang dahulu memiliki asal usul dari Minangkabau. Dan juga Datuak Katumangguangan – salah seorang founding father bangsa Minang – memutuskan untuk hijrah ke Palembang setelah membagi sistem pemerintahan di Minangkabau.

Kami juga pernah mendengar kisah, bahwa banyak perantau asal Minangkabau di kawasan Sumatera Selatan. Bahkan ke tempat-tempat yang sulit dilalui oleh kendaraan sekalipun. Salah seorang engku berujar dengan takjub “Entah bagaimana caranya orang awak bisa sampai ke sana..”

Dan di atas bus dalam perjalanan menuju Palembang ini, kami berkenalan dengan seorang engku muda. Asalnya ialah dari Painan namun dia serta bundanya telah lahir di Pulau Bangka. Pulau itu telah menjadi kampung kedua baginya, kalau dihitung total lamanya ia berjalan ialah tiga hari dua malam. Tatkala kami tanya “Banyakkah orang awak di sana engku..?”

“Banyak engku..” jawab si engku muda “Di kawasan tempat tinggal kami hampir sepenuhnya orang Minang hanya beberapa saja yang tidak. Orang Melayu disana menggelari kawasan tempat tinggal kami dengan gelar Kampung Padang..” lanjutnya mengisahkan.

Demikianlah kisah kami dalam perjalanan ke Palembang

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s