Berjalan Tengah Hari

Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang
Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang

Pada suatu hari Selasa di pertengahan bulan di awal tahun 2016 ini, kami berkesempatan bersiar-siar melihat-lihat beberapa negeri nan terletak di kaki Gunuang Marapi di Luhak Agam. Ketika itu telah menjelang tengah hari kami berangkat.

Jalan nan kami lalui kecil, serupa dengan jalan di kampung kami, bedanya ialah jalan ini sudah sangat sering dilalui kendaraan dari arah Payakumbuh menuju Bukit Tinggi ataupun Padang. Ya, jalan ini merupakan jalan alternatif yang digunakan oleh orang apabila terjadi macet pada musim libur panjang.

Pemandangan di sepanjang jalan sangatlah indah, kalau kita berjalan dari arah Taluak[1] maka di sebelah kanan ialah Gunuang Marapi nan bertuah itu sedangkan di sebelah kiri ialah lurah yang apabila tiada rumah ataupun pokok kayu nan menghalangi pemandangan akan tampak keseluruhan Lembah Agam nan permai sampai ke kaki bukit barisan nun jauh di sana.

Pemandangan di Nagari Canduang
Pemandangan di Nagari Canduang

Kalau tiada rumah maka akan kita jumpai perak[2] ataupun sawah, kami sangat berminat sekali memandangi sawah nan berjenjang ke bawah terutama sekali ketika padi sedang menghijau ataupun menguning. Nun jauh di sana kita dapati rumah-rumah penduduk beraneka macam bentuk dan besarnya, tak hanya rumah penduduk, bangunan rumah sekolah atau kantor pemerintahpun tampak, walau tiada jelas.

Hawa disini sejuk, padahal si raja siang sedang bersinar dengan girangnya, angin bertiup semilir adakalanya cukup kencang sehingga rambut dapat tersapu dari kening. Orang-orang hilir mudik dengan berbagai urusan mereka, dengan menggunakan onda[3] kebanyakan dari mereka. Onda ialah kendaraan nan paling banyak peminatnya, tua, muda, perempuan, bahkan kanak-kanakpun sudah pandai mengendarainya. Oh ya, sekarang hari pekan di Nagari Lasi kalau kami tiada salah, makanya ramai orang berlalu lalang.

Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang
Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang

Begitu mendekati Nagari Canduang kami berhenti di seberang sebuah pokok pohon besar nan memayungi jalan. Kami berhenti di bawah bayang-bayang pohon tersebut, menghirup udara segar, memandangi padi nan menghijau sembari disapu-sapu angin. Bergerak-gerak mereka serupa air dipermukaan Danau Singkarak.

Namun ada nan janggal kami dapati, ada kabut tipis melingkupi Gunuang Marapi, tak hanya itu tatkala mata ini memandang jauh ke Bukit Barisan nun jauh di dekat kampung kami sana, kami dapati pula kabut tipis. Dikata embun tapi matahari bersinar terik. Pemandangan serupa ini sama kiranya dengan masa-masa sebelum kedatangan kabut asap dahulu.

Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang
Pemandangan antara Nagari Lasi dan Canduang

Duhai, sungguh permai alam negeri kami, tiada perlu perlu pergi ke berbagai tempat pelancongan, cukup berjalan saja berkeliling negeri maka akan berkuranglah ketegangan di kepala. Sayang kami hanya menikmatinya sendiri, kalau saja ada dia dan si buah hati tentulah lebih nikmat rasanya perjalanan kami di tengah hari ini.

Begitu sampai di Nagari Canduang kami segera berbelok ke kiri, tiada jalan kalau lurus, ada satu tapi sangatlah kecil dan nanti kita akan tertumbuk ke jalan menuju Batu Sangkar. Begitu berbelok, jalan menurun saja sampai ke Simpang Canduang. Simpang ini merupakan simpang empat dan terletak beberapa ratus meter menjelang Pasa Baso. Pasar ini terletak di dekat perbatasan dengan Luhak Limo Puluah Koto.

[1] Salah satu nagari di Luhak Agam yang berbatasan langsung dengan Bukit Tinggi

[2] Kebun

[3] motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s