Tahun Anak Lelaki

Picture: Here

Di musim penghujan ini, nikmatnya pergi ke lepau memesan kopi atau teh panas lalu menikmatinya dengan goreng atau sebatang rokok sambil maota-ota[1] dengan kawan-kawan. Demikianlah nan dikerjakan oleh St. Pangeran dan St. Batuah, hari itu hujan semenjak pagi, sudah pukul sembilan pagi tiada reda jua. Dinginnya hari menusuk kulit, terpaksalah dipakai baju hangat dan dipakai tuduang[2] untuk berjalan.

Lepau Mak Kari hampir penuh rupanya, sepemikiran sekalian orang lelaki untuk pergi ke lepau pada hari nan dingin ini agaknya. Berkumpul sekalian lelaki di lepau Mak Kari ini. Kopi terhidang, sebagian kecil nan memesan teh, asapnya mengepul-ngepul di atas gelas. Pisang goreng nan baru masak digoreng oleh isteri Mak Kari dibelah dua agar cepat dingin.

Di lepau sudah terdengar suara orang bercakap-cakap, orang nan berdua ini menyapa dan kemudian duduk diam mendengarkan arah pembicaraan engku-engku ini. St. Pamenan terdengar berucap “Tahun 2015 nan lalu itu agaknya tahunnya anak lelaki engku-engku sekalian..”

“Kenapa demikian engku?” tanya seorang engku.

“Setelah awak pandang-pandangi, setiap perempuan nan mengandung dan melahirkan anak di tahun 2015 nan silam pastilah melahirkan anak lelaki. Coba engku-engku kenang-kenang, anak St. Rajo Basa, anak St. Malenggang, anak Bagindo Marah, dan lain sebagainya..” jawab St. Pamenan mantap.

“Iya kalau dipandang-pandangi memang demikian. Engku ini ada-ada saja nan diperhatikan, perkara remeh temeh serupa itupun jadi perhatian bagi engku di tahun nan lalu..” jawab seorang engku.

“Ah, tapi tak jua engku. Anak St. Pangulu nan lahir di bulan terakhir nan silam perempuan, bukan lelaki..” sergah seorang engku.

St. Pamenan tiada kehilangan akal “Kan awak cakap sebagian besar engku..”

“Hahaha..” pecahlah gelak tawa sekalian orang dalam lepau, termasuk isteri Mak Kari nan sedang menggoreng pisang, termasuk jua Mak Kari nan sedang membuatkan kopi dan teh untuk St. Pangeran dan St. Batuah. Demikian pula dengan kedua orang ini, mereka juga tertawa mendengar percakapan ringan penyambut mereka di dalam lepau.

Dan segera pokok percakapan berubah ke arah politik yang selalu dan akan selalu digemari oleh para lelaki di kampung ini. Apalagi kalau sudah duduk di lepau, politik menjadi santapan utama selain kopi, teh, dan pisang goreng.

______________________

Catatan Kaki:

[1] Bercakap-cakap

[2] Payung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s