Layar Terkembang

Picture: Here

Ini ialah sebuah roman karya St. Takdir Ali Syahbana yang mengisahkan tiga orang anak muda yang berlainan sifat dan watak. Seorang perempuan feminis yang keras kepala yang bernama Tuti, kemudian Maria yang merupakan adik dari Tuti ialah seorang perempuan normal nan lembut, dan terakhir tunangan Maria yang bernama Yusuf ialah seorang manusia organisatoris sekuler.

Roman ini mengisahkan dengan baik perihal salah satu bentuk kehidupan dari generasi muda pada masa dahulu, terutama pada masa Belanda. Kehidupan orang-orang rasionalis nan sekuler, orang-orang nan memandang agama dengan picik. Orang-orang nan memandang norma-norma adat dan agama ialah belenggu nan mesti dilepaskan.

Kami akui bahwa St. Takdir Ali Syahbana ialah seorang ahli jiwa yang hebat karena dengan baik menggambarkan setiap watak dari tokoh dalam roman ini dengan baik. Terutama tokoh Tuti yang menjadi sajian utama dari roman ini, dimana ia digambarkan sebagai perempuan keras, kaku, dan kering serta haus akan cinta kasih namun dinafikannya. Hal mana kita dapati pada diri setiap feminis yang mengaku tiada hendak kawin karena tiada hendak dibelenggu atau dijajah oleh lelaki. Dan pada roman ini, St. Takdir Alisyahbana secara tidak langsung membantah segala pendapat sesat dari Kaum Feminis itu.

Pada akhirnya Tuti digambarkan sebagai perempuan lemah nan telah banyak silap dalam menilai hidup dan kehidupan. Hanya melihat dari atas menara atau geladak kapal, tiada merasai bagaimana hidup seorang perempuan nan berumah tangga. Menilai tentulah sangat muda sangat berbeda dengan merasai, sebab menilai tak mesti merasai dan disanalah acap terjadi kesalahan. Contohnya ialah orang-orang picik nan menilai dari pusat kekuasaan atas kejadian nan terjadi di daerah.

Selain itu, bagi pecinta sastra klasik dan Bahasa Melayu, buku ini baik dibaca namun kami tiada menyarankan bagi nan cemas akan ideologi sekular dan feminis. Buku ini ialah salah satu propaganda bagi ideologi tersebut yang dibungkus dengan Mazhab Rasionalis. Sastra lama yang terbit di awal-awal hingga pertengahan tahun abad-20 memang lebih banyak menggunakan Bahasa Melayu yang masih asli atau paling tidak sedikit serapan bahasa asingnya. Berlainan dengan Bahasa Melayu sekarang atau yang lebih dikenal dengan Bahasa Indonesia yang telah banyak mengambil serapan dari bahasa Non Melayu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s