Penantian nan tak kunjung berakhir

Picture: Here
Picture: Here

Sekuat apapun sebuah hati, seteguh apapun sebuah pendirian namun ia akan luluh jua. Kalau bukan karena cinta orang tua, maka pandangan masyarakatnya akan menjadi pengaruh utama. Terkadang, seseorang akan silap memahami sebuah cinta, harapan, dan pelarian. Bagi orang nan telah kehilangan akal sehatnya, cinta disangkanya sebuah harapan, dan harapan dijadikannya sebuah pelarian. Sekuat apapun telinga dipekakkan namun suara nan riuh rendah itu akan terdengar jua. Jauh menghujam ke dalam kalbu membuat goyah pendirian nan telah disepuh.

Demikianlah keadaan Puti Aisyah Nizam Malik, terombang-ambing antara beragam pendapat dan telah lama mendengung-dengung di kepalanya. Ya, semuanya tak jauh dari perkara jodoh, pasangan hidup, atau suami. Sudah seperempat abad umurnya namun belum jua bersuami. Padahal telah banyak kawan-kawannya nan memiliki anak.

Mungkin ia tegar pada pandangan lahir, acuh pada pandangan mata namun pada bathin? Sesungguhnya ia merana, berulam jantung ia tahan. Pertanyaan nan itu-itu jua perihal bila ia akan berkawin ditambah dengan kedua orang tuanya nan telah gundah gulana memikirkan nasib anak gadisnya nan seorang. Itu semua disebabkan dua hal.

Penyebab nan pertama ialah pertanyaan dari orang kampung akan dirinya kepada kedua orang tuanya. Disangka orang mereka tiada berusaha mencarikan jodoh untuk anak gadisnya, atau nan lebih buruk lagi sangkaan orang-orang itu ialah dirinya, orang tuanya, dan keluarganya merupakan jenis orang nan pemilih. Suatu pandangan dari orang-orang berfikiran dangkal dan picik.

Penyebab kedua ialah perihal beberapa orang matkuonya[1] nan tiada bersuami hingga akhir usia mereka. Takut nasib sial itu akan diwarisi kepada dirinya membuat orang tuanya menjadi sesak fikiran mereka. Tiada putus do’a dipanjatkan kepada Nan Kuasa.

Pernah ada seorang kawannya semasa sekolah dahulu nan suka akan ia, memperisteri dirinya. Namun ia dihinggapi rasa ragu “Dahulu hamba dapat menjamin agamanya, namun sekarang hamba ragu. Apa lagi ia telah lama tinggal di pulau seberang..”

Telah sampai pula kepada keluarganya maksud beberapa orang nan hendak menjodohkan dirinya. Timbullah pengharapan pada dirinya, nan seorang ialah seorang engku guru pada sebuah sekolah swasta nan dimiliki oleh salah seorang penghulu partai. Orang-orang ini dikenal sebagai orang nan ta’at beragama namun ada satu celanya, mereka lebih patuh dan ta’at kepada guru atau imam mereka, melebih keta’atan kepada kedua orang tua.

Sungguh heran hatinya, padahal tiada satu dalil dalam agamapun nan membenarkan hal nan demikian. Nan ada ialah nabi mewasiatkan untuk mematuhi ibu terlebih dahulu dan kemudian baru ayah. Orang-orang ini terkenal dengan sikap penentangannya kepada adat. Padahal penghulu partai mereka sendiri bergelar datuk. Tak munafikkah itu namanya?

Nan kedua ialah seorang lelaki nan masih memiliki hubungan keluarga dengan dirinya. Sesungguhnya telah ada rasa suka pada hatinya kepada lelaki ini. Namun perjodohan ini bertepuk sebelah tangan karena ada nan menghasung[2] si lelaki nan sebanarnya suka akan dirinya. Keluarganya diburuk-burukkan terlalu fanatik kepada adat.

Nan ketiga ialah seorang engku guru pula, guru mengaji di kampungnya. Tiada bersekolah, melainkan hanya sampai sekolah atas saja. Nan seorang ini amat giat usahanya dalam menarik perhatian Puti Aisyah. Terkena ia agaknya dengan bujang nan seorang ini “Guru mengaji, dapat ia jadi imam agaknya..” ucapnya dalam hati.

Namun,..

Sampai pula kabar dari salah seorang eteknya[3] bahwa lelaki itu pada masa kanak-kanak sangatlah nakalnya. Pernah ia berburu pisau dengan salah seorang abangnya, disangka orang akan saling bunuh-membunuh mereka. Untung tak jadi. Keterangan itupun dikesampingkannya pula.

Kenapa demikian?

Karena ketakutan telah merasuki hati Puti Aisyah Nizam Malik. Orang kata keluarganya ialah keluarga berada “Orang Tujuh Jenjang”[4] kata orang kampung mereka. Hal ini menyebabkan banyak orang nan ragu dan takut untuk meminang dirinya, takut keluarganya memiliki standar nan tinggi untuk mereka. Keluarga Puti Aisyah sangat sadar akan hal ini sehingga semakin gundahlah perasaan orang tuanya.

Akhirnya, hal ini membutakan mata mereka. Segala nan datang disambut dengan riang hati bukan karena senang akan berminantu melainkan senang ketakutan mereka akhirnya akan berakhir. Takut anaknya akan menjadi Perawan Tua dengan usia nan telah hampir habis pula seperempat abad.

Lupa mereka akan pengajaran adat, sebelum menanam hendaknya benih dipilih dengan teliti jangan sampai dapat nan buruk karena hasilnya tiada akan baik. Takkan pernah lengau[5] beranakkan lebah seperti kata pepatah, air cucuran atap perginya ke peramban jua.

Lupa pula mereka dengan pengajaran agama, periksalah sebelum menikah bakal jodoh kita itu. Ada empat perkara nan mesti diperiksa.

Bersesuaian dengan ajaran agama, ajaran adat juga menitik beratkan untuk memeriksa akhlak, tabi’at, watak, serta asal-usul. Karena sifat-sifat nan demikian nan akan diwarisi kepada anak, kamanakan, dan cucu kita. Anak seorang pencuri akan mencuri, anak seorang pembunuh akan membunuh, anak seorang penaik darah akan penaik darah pula. Tiada akan mungkin lengau beranakkan lebah, kecuali ia bukan bapaknya.

Lupa ia akan nasehat seorang penceramah “Hendaknya rumah tangga itu dibangun dengan ilmu dan agama..”

Demikianlah keadaan Puti Aisyah Nizam Malik, melupakan segala pengajaran agama dan adat dan cenderung kepada kata nafsunya nan dipenuhi ketakutan. Lupa ia dengan pengalaman hidup nan didapati, banyak tersua olehnya dalam kehidupan berkampung seorang guru agama nan bagus agamanya namun tiada beres dalam mengatur anak-isterinya. Bagi mereka kaji itu hanya sampai surau saja, untuk diamalkan orang bukan dirinya dan keluarga.

Lupa ia dengan pengalaman hidup, ilmu dan agama mesti ada sebelum ijab-kabul diucap. Tanpa itu, akan rusak binasalah dirinya. Telah banyak kejadian jodoh nan asal pilih atau tergesa dipilih akan mendatangkan duka nestapa pada akhirnya. Bahkan duka nan terasa lebih dahsyat apabila dibandingkan duka nan ditanggung sebelum menikah. Saydina Ali pernah berwasiat “Belajarlah dari pengalaman diri mu dan pengalaman orang lain..”

Lupa pula ia dengan falsafah “Alam Terkembang jadi Guru” belajar dari alam, belajar dari kehidupan dan sesuai dengan wasiat Saydina Ali di atas belajar dari pengalaman orang-orang terdekat.

Lupa ia, dibuat lupa oleh rasa takut nan tiap hari ditanamkan oleh orang kepada dia dan kedua orang tuanya.

_______________________________

Catatan Kaki:

[1] Bibi, saudara perempuan ayah/ibu nan lebih tua.

[2] Menghasut

[3] Saudara perempuan ibu nan lebih muda

[4] Bangsawan

[5] Lalat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s