Kampanye Hitam

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Hujan telah puas membasahi bumi semenjak siang tadi, ada kemungkinan hujan lagikah malam ini? entahlah. Gerimis baru saja menghampiri di hati Bagindo Sutan, perlahan-lahan lebat jua. Betapa takkan lebat, hatinya hancur, diiris-iris bak sembilu. Laki-laki manakah nan akan tahan mengetahui keluarganya terpecah belah karena termakan hasungan orang nan hasad kepada dirinya.

Penolakan dirinya atas pinangan atas adik perempuan satu-satunya rupanya harus dibayarnya dengan harga nan sangat mahal. Semenjak itu gemuruh, badai, serta petir berdengkang-dengkang di keluarganya. Perhubungannya dengan sang isteripun hampir terkena badai pula karena mempertahankan orang-orang nan dikasihi.

Hati lelaki manakah nan takkan hancur..?

Seorang bijak dalam beragama pernah berujar “Sebaik-baik lelaki, seberuntung-beruntung lelaki ialah apabila ia diberkahi dengan isteri nan ta’at serta anak nan saleh. Tidak hanya kepada agama melainkan juga kepada dirinya..” sungguh manis memang.

Adapun dengan tukang hasung,  bekerja di balik punggung guna membalaskan kusumat dan menuntaskan hasad serta hawa nafsunya. Tiada henti, ajaran buruk disampaikannya membuat keluarga besarnya selalu berada dalam ketegangan. Layaknya tukang hasung nan lihai semenjak zaman purba dahulu, mereka selalu mendapatkan tempat paling dekat dengan orang nan dihasung. Bahkan tak jarang dari mereka menjadi orang kepercayaan.

Sejarah telah membuktikan, betapa telah banyak nyawa nan melayang akibat ulah tukang hasung. Seorang raja dapat memintahkan hukuman bunuh kepada sesiapapun yang disangkanya dapat meruntuhkan kekuasaannya. Tak masalah apabila orang nan dihukum ialah orang nan sebenar berbuat makar terhadap kerajaannya. Apabila tidak, orang lurus baik budi dan setia nan kena hukum hanya karena ada nan dengki karena raja begitu percaya pada dirinya?

Bagaimana kira-kira pendapat engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Orang nan suka bergunjing sama kiranya dengan memakan daging saudaranya sendiri. Itulah perumpamaan nan seburuk-buruknya kepada orang dengan sifat demikian. Lalu bagaimana kiranya dengan Tukang Hasung ini? apa perumpamaann yang pantas untuk diberikan?

Rusak binasa perhubungan dua orang, dari saling mengasihi menjadi saling membenci. Di kantornya Bagindo Sutan telah merasakan betapa pahitnya menjadi korban dari Tukang Hasut, dalam keluarganya lebih lagi. Nasi dimakan terasa hambar, air diminum terasa pahit, kemana menengok suram mata memandang. Untung berat badannya tiada berkurang. Isterinya telah nyinyir kalau dia terlalu kurus, tak serupa dahulu lagi.

Sudah habis akalnya, isterinyapun termakan pula segala hasungan tersebut. Perlahan-pahan, karena cinta isterinya kepada kedua orang tuanya iapun mulai mempercayai segala ucapan Tukang Hasut itu. Serasa runtuh dunia Bagindo Sutan, benteng pertahanannya nan terakhir hampir takluk. Ibaratkan perang kekalahan sudah di pelupuk mata. Hendak jauh jugakah ia dari kedua orang tuanya?

Adakah tersua oleh engku, rangkayo, serta encik sekalian dengan Bagindo Sutan? Mungkin Bagindo Sutan ini ialah kawan, kerabat, atau mungkin keluarga dari engku, rangkayo, serta encik sekalian atau bahkan diri engku sendiri..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s